Hidup adalah perjalanan pulang menuju Tuhan. Sebelum waktunya Pulang, cepat kita selesaikan segala urusan, termasuk membayar Hutang...
Kamis, 02 Juli 2020
ILUSI
Hallo Dear..
Aku mau nawarin buku antologi "Spesial" Yang aku tulis bersama 20 penulis sahabat literasi lainnya.
Judul buku: Ilusi
Harga Buku: 85K + Penanda buku +Give away masker Hijab Friendly (Selama masa pre-order)
Tebal Buku: 150++ Halaman
Penerbit: 3Media Karya
ISBN: Masih Proses
Tentang buku:
Ilusi adalah sebuah khayal yang tak bisa dimengerti. Setiap orang pernah berkhayal, senang berimajinasi entah lewat tulisan atau pemikiran tentang sesuatu hal. Didunia ini tak ada yang bisa menebak perihal hati manusia. Dan kumpulan cerpen aku dan 20 penulis ini adalah sebagian kisah yang pernah terjadi, yang pernah ada dan yang pernah didengar.
Yuk di order segera 📝💙
Selengkapnya tentang sahabat literasi, bisa cek instagram @literasi.sahabat.
ThankYou 💙
#ProyekMenulis
#KelasMenulis
#SahabatLiterasi
#KelasCerpen
Jumat, 26 Juni 2020
Janji Palsu orang Utan
Mereka mendekati kami, dengan berbekal kaos dan
makanan yang terbungkusi.
Uang-uang tak seberapa besarnya, mereka salurkan
dengan mulut mengucap janji-janjinya.
Merayu kami, dengan janji, meski tak pasti, tapi
kami selalu percaya diri, semerawutnya negeri ini, akan ber-revolusi, pada
jalan yang lebih baik lagi.
Tapi kami tertipu...
Iya kami tertipu, termakan janji-janji palsu,
aduh ada apa gerangan nasib negeriku, dikuasai oleh manusia-manusia rakus
sepertimu.
Sampai seterusnya yang seperti mereka datang
lagi, dengan janji-janji yang lebih menggiurkan hati, dan kami percaya
kebangkitan negeri kan kembali, namun kami tertipu lagi, lagi dan lagi.
Lantas kemanakah harapan negeriku ini akau ku
bawa? Hati menganga perih rasanya, aku rakyat biasa, tak bisa berbuat banyak
karenanya.
Tapi aku percaya, kesejahteraan yang
sesungguhnya akan tiba, beriringan dengan indahnya senja...
Jumat, 19 Juni 2020
Setitik Tinta Sejuta Makna
Hallo Dear..
Aku mau nawarin buku antologi "Spesial" Yang aku tulis bersama 17 penulis sahabat literasi lainnya.
Judul buku: Setitik Tinta Sejuta Makna
Harga Buku: 8OK + Give away masker Hijab Friendly (Selama masa pre-order)
& Sudah termasuk donasi kebaikan yatim piatu + dhuafa.
Tebal Buku: 70 ++ Halaman
Penerbit: 3Media Karya
ISBN: Masih Proses
Tentang buku:
"Setitik Tinta dan Sejuta Makna" Adalah karya penulis yang tergabung dalam komunitas sahabat literasi. Dalam buku ini tertulis surat yang menggambarkan perasaan penulis dan bagaimana dengan manis dan apiknya penulis mencoba memberikan makna dalam setiap sentuhan karya nya".
** Dengan membeli buku ini, berati kamu sudah ikut berdonasi kebaikan yatim piatu & dhuafa yang diselenggarakan oleh team sahabat literasi dari tahun 2018.
Selengkapnya tentang sahabat literasi, bisa cek instagram @literasi.sahabat.
ThankYou 💙
#ProyekMenulis
#KelasMenulis
#SahabatLiterasi
#KelasCerpen
Cerita tentang Kota
Hallo Dear..
Aku mau nawarin buku antologi "Spesial" Yang aku tulis bersama 20 penulis sahabat literasi lainnya.
Judul buku: Cerita Tentang Kota
Harga Buku: 85K + Penanda buku +Give away masker Hijab Friendly (Selama masa pre-order)
& Sudah termasuk donasi kebaikan yatim piatu + dhuafa.
Tebal Buku: 130 ++ Halaman
Penerbit: 3Media Karya
ISBN: Masih Proses
Tentang buku:
Disetiap kota pasti punya cerita, kisah dan kenangan. 20 penulis buku ini mencoba menceritakannya dalam bentuk kumpulan antologi puisi, surat, cerpen/cermin.
Mungkin saja kota kamu dijadikan cerita oleh penulis 📚
Yuk di order segera 📝💙
** Dengan membeli buku ini, berati kamu sudah ikut berdonasi kebaikan yatim piatu & dhuafa yang diselenggarakan oleh team sahabat literasi dari tahun 2018.
Selengkapnya tentang sahabat literasi, bisa cek instagram @literasi.sahabat.
ThankYou 💙
#ProyekMenulis
#KelasMenulis
#SahabatLiterasi
#KelasCerpen
Minggu, 29 Maret 2020
Ekspedisi pelayaran James Cook
Ekspedisi Pelayaran James Cook
(Pentingnya mengkonsumsi sayur dan buah-buahan
untuk menciptakan sistem kekebalan tubuh
yang kuat)
Setiap beberapa
tahun, planet Venus melintas tepat
diantar matahari dan bumi. Lama perlintasan itu berbeda-beda ketika dilihat
daei titik-titik yang berjauhan di permukaan bumi karena perbedaan kecil dalam
sudut penglihatan pengamat. Bila beberapa pengamatan atas perlintasan yang sama
dibuat di benua yang berbeda-beda, yang dibutuhkan hanyalah trigonometri sederhana
untuk menghitung jarak tepat kita dari matahari. Ahli-ahli astronomi memprediksi bahwa perlintasan Venus
yang berikutnya akan terjadi pada 1761 dan 1769. Maka dikirimlah ekpedisi dari
Eropa ke tempat penjuru dunia guna mengamati perlintasan itu dari sebanyak
mungkin titik.
Pada 1761
para ilmuan mengamati perlintasan Venus dari Siberia, Amerika Utara, Madagaskar
dan Afrika Selatan. Seiring mendekatnya perlintasan 1769, masyarakat sains
Eropa menggelar upaya besar-besaran dan ilmuan-ilmuan dikirim sampai sejauh
Kanada utara dan California (yang waktu itu merupakan alam liar). Royal Society
of London for the Improvement of Natural Knowladge menyimpulkan bahwa itu
tidaklah cukup. Guna memperoleh hasil paling akurat, seorang ahli astronomi
harus dikirimkan ke Samudra Pasifik barat daya.
Royal Society
memutuskan untuk mengirimkan seorang ahli astronomi terkemua, Charles Green ke
Tahiti dan tidak pelit menggelintirkan upaya ataupun uang. Namun karena ekspedisi yang dibiayai mahal
sekali, tidak masuka kal jika ekspedisi itu digunakan hanya untuk satu
pengamatan astronomi. Oleh karena itu,
Green disertai ti yang terdiri
atas delapan ilmuan lain dari beberapa nidang ilmu, diketuai oleh dua ahli
botani, Joseph Banks dan Daniel Solander. Tim itu mencakup juga seniman-seniman
yang ditugaskan membuat gambar negeri, tumbuhan, hewan dan masyarakat baru yang
tentunya yang akan dijumpai para ilmuan. Dilengkapi dengan alat-alat sains
paling maju yang bisa dibeli Banks dan Royal Society, ekspedisi itu ditempatkan
di bawah komando kapeten James Cook, seorang pelaut berpengalaman sekaligus
ahli geografi dan etnografi terkemuka.
Ekspedisi
itu meninggalkan Inggris pada 1768, mengamati perlintasan Venus di Tahiti pada
1769, menjelajahi beberapa kepulan Pasifik, mengunjungi Australia dan Selandia
Baru dan kembali ke Inggris pada tahun 1771. Ekspedisi itu membawa pulang
banyak sekali data astronomi, geografi, meteorologi, botani, zoologi dan
antropologi. Temuan-temuannya memberikan sumbangan besar bagi sejumlah bidang
ilmu, menyulut imajinasi orang-orang Eropa dengan kisah-kisah menkjubkan
tentang Pasifik Selatan dan mengilhami generasi-generasi ahli alam dan
astronomi berikutnya.
Salah satu
bidang yang memperoleh manfaat dari ekspedisi Cook adalah kedokteran. Kali itu,
kapal-kapal yang berlayar ke negeri-negeri jauh tahu bahwa lebih daripada
separo awak kapal akan mati dalam perjalanan. Musuh bebuyutan mereka bukanlah
penduduk setempat yang marah, kapal perang musuh, atau rindu kampung halaman. Musuh
mereka adalah penyakit misterius bernama Skorbut. Orang-orang yang
terserang penyakit itu menjadi lesu dan depresi dan gusi serta jaringan lunak
mereka berdarah. Seiring berlanjutnya penyakit itu, gigi mereka rontok, muncul
luka lepuh terbuka dan mereka menderita demam, sakit kuning dan kehilangan
kendali atas anggota tubuh.
Antara abad ke 16 dan ke-18, skorbut
diperkirakan merenggut nyawa sekitar dua juta pelaut. Tidak ada yang tahu apa
yang menyebabkannya dan tak peduli obat apapun yang dicoba, para pelaut terus
mati dalam jumlah besar. Titik balik terjadi pada 1747, ketika seorang dokter
Britania, James Lind, melakukan percobaan terkontrol terhadap sejumlah pelaut
yang menderita penyakit tersebut. Dia memisahkan mereka menjadi beberapa
kelompok dan memberi masing-masing kelompok perlakuan berbeda. Satu kelompok
uji diperintahkan memakan buah jeruk, obat trdsisional yang umum diberikan
untuk Skorbut. Pasien-pasien dalam kelompok ini dengan cepat pulih. Lind
tidak tahu kandungan apa dalam buah jeruk yang kurang di tubuh para pelaut,
tapi kita sekarang tahu kandungan itu adalah vitamin C. diet tipikal dalam
pelayaran saat itu sangat kekurangan makanan yang kaya vitamin penting. Dalam pelayaran
jangka panjang, pelaut biasanya bertahan hidup dengan memakan biskuit dan
dendeng, dan nyaris tidak memakan buah atau sayur.
Royal Navy
tidak teryakinkan oleh percobaan-percobaan Lind, namun James Cook yakin. Dia memutuskan
untuk membuktikan bahwa sang dokter benar. Dia memuat kapalnya dengan
Sauerkraut (acar kol) dalam jumlah besar dan memerintahkan para pelautnya untuk
memakan banyak buah dan sayur kapanpun ekspedisi itu merapat ke darat. Cook tidak
kehilangan seorangpun pelaut akibat Skorbut. Dalam dasawrsa-dasawarsa
berikutnya, semua angkatan laut di dunia memakai diet pelayaran Cook dan tak
terhitung banyaknya nyawa pelaut dan penumpang yang terselamatkan.
Yuval
Noah Harari, Sapiens Riwayat singkat Umat Manusia.
Penyakit
Skorbut: Efek lesu, depresi dan gusi serta jaringan lunak berdarah. Seiring berlanjutnya
penyakit itu, gigi mereka rontok, muncul luka lepuh terbuka dan mereka
menderita demam, sakit kuning dan kehilangan kendali atas anggota tubuh.
Setalah kita
pahami, ternyata penyakit Skorbut ini sangat mengerikan sekali. Orang-orang tanpa
Sains pasti akan mengatakan bahwa itu adalah azab Tuhan. padahal penyakit juga
di timbulkan oleh manusia itu sendiri, ketika pola hidup menjadi tidak seimbang
dan tidak sehat. Waallhu A’lam
Kamis, 26 September 2019
AKSI MATI
Aksi mati...
Suara berteriak lantang
Tapi mati seketika, dihantam
mulut pejabat yang menantang.
Aksi mati...
Protes rakyat, dianggap sangat
menghambat kepentingan pejabat
Aksi mati...
Berjatuhan korban, tak membuka
hati pejabat yang haus kekuasaan
Aksi mati...
Suara rakyat seakan sirna.
Mengkritisi dianggap
melancarkan kudeta.
Aksi ribuan mahasiswa
menurutnya hanyalah nostalgia.
Mereka bukan wakil rakyat,
Mereka hanya pejabat yang tidur
di kursi rapat penuh laknat.
Berlagak bak Pahlawan,
Padahal mereka-mereka punya
satu Tujuan,
Memberantas suara-suara yang
mengganggu kepentingan.
Dan saya ucapkan Selamat datang
REFORMASI YANG DIKORUPSI.
Untukmu dari hati yang remuk, melihat Indonesia
diwakili oleh manusia-manusia yang suka mengamuk di kursi Dewan tak bertuan.
(Fitriyah Syam'un)
Kamis, 13 Juni 2019
Curug, Kita harus Menikmati Perubahan-kan?
Curug, dengan tanah-tanah yang menjulang tinggi, membentuk
bukit-bukit yang tak kalah indah, sawah-sawah dan tumbuh-tumbuhan lainnya
membentang hijau, di sambut embun pagi yang membasahi setiap dedaunannya, burung-burung pipit berkicau meramaikan hari,
terbang kesana-kemari dengan bebas.
Curug bukanlah tempat yang ramai oleh hiruk pikuk dunia, bukan tempat
yang ramai dengan suara knalpot dan klaskson di jalan, bukan tempat dengan
tanah yang diatasnya berdiri gedung-gedung pencakar langit. Tapi Curug hanyalah sebuah
tempat yang merupakan kampung terpencil, yang masih dirimbuni pohon-pohon yang
menjulang tinggi nan hijau, dengan suara gemercik sungai di pagi hari dan
suara-suara alam yang masih melantang.
Binatang-binatang liar masih banyak berkeliaran di jalan-jalan.
jika malam tiba, suara-suara penghuni rumah masih terdengar jelas oleh siapapun
yang melintasinya. Suara anak-anak amat ramai di malam hari, mereka tidak
pernah bosan untuk bermain lagi selepas melaksanakan solat Isya berjamaah di
Mushola dan para orang tua-pun tak melarang anak-anak mereka. suara-suara
manusia beradu dengan suara-suara jangkrik di malam hari dan tak lupa langit
malam menjadi saksi dengan sinar bulan dan ribuan bintangnya.
Tapi atmosfer abad 20 kini kian memudar, Suasana di atas sudah jarang sekali ditemukan oleh manusia-manusia yang lahir atau hidup di
abad ke 21 Masehi, karena proses perjalanan waktu itulah semua perlahan-lahan
telah menghilang dan lenyap, berubah menjadi sesuatu yang teramat baru dan
asing.
Abad 20 telah pergi 19 tahun yang lalu,
menitipkan kehidupan pada abad ke 21. 19 tahun yang sudah banyak perubahan
untuk Curug, tidak membutuhkan waktu lama, diabad 21, manusia
berbondong-bondong membawa alat besar dengan kerukan besar di depannnya. Bukit-bukit
yang dimiliki abad 20, kini telah hilang, menyisakan waduk yang menelan banyak
korban. Kehijauan yang dimiliki abad 20 juga telah berganti dengan atap atap
rumah yang menyilaukan.
Untukmu tanah kelahiranku, yang membesarkanku dengan tanganmu, yang
membahagiakanku dengan jiwamu, ini aku yang lahir di akhir abad 20 dan menginjakkan
kaki di abad 21. Aku menyaksikan perubahan yang besar, aku menyaksikan
anak-anak yang tidak lagi memilih bermain dengan alam, tetapi memilih bermain
dengan alat-alat buatan tangan-tangan manusia. aku menyaksikan bukit-bukitmu
dikeruk tanpa ampun, aku menyaksikan pohon-pohon yang mulai mencoklat dedaunannya
karena polusi pabrik yang semakin menggila. Aku menyaksikan sungai-sungai yang dulu
pernah aku ajak bersenang-senang pada awal-awal abad 21 telah keruh dan
tertimbun tanah gususan. Aku harap bumi ini selalu tenang dan sabar, seperti
sabarnya Tuhan yang telah menciptakan.
Curug, Biarlah, kita harus menikmati perubahan, bukan?
Langganan:
Postingan (Atom)
Makhluk Terbatas
Makhluk terbatas itu kamulah salah satunya. Kekuatanmu terbatas, daya pikirmu terbatas, semua yang ada dalam dirimu dan di luar dirimu ter...
-
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur`an melalui penafsiran-penafsiran, memiliki peranan sangat...
-
Bismillah Sebelum ke pembahasan Mengenai Hadis Maudhu' tentang wanita, sedikit saya akan menjelaskan makna Hadis Maudhu' dan hu...
-
BAB I PENDAHULUAN Orientalis bagi sebagian kalangan sering kali dianggap sebagai “momok” yang harus diwaspadai dan disingkirkan jauh-ja...






