Sabtu, 27 Desember 2014

Tafsir al-Mizan karya ath-Thabataba'i (Tokoh Syi'ah). Makalah : Fitriyah & Maria Ulfah baniry.

BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Al-Qur’an al-Karim adalah sumber hidayah bagi manusia. Ia menjadi pusat kebahagian abadi manusia, ia merupakan sumber hukum pertama bagi umat ini. Darinya umat ini mencari bimbingan dalam menempuh kehidupan dunia dan akhirat. Dengannya mereka mencari petunjuk, diatas hidayahnya mereka berjalan. Dengannya mereka selamat dari berbagai kerusakan dan mendapatkan hidayah menuju jalan yang lurus.[1]
Kandungan al-Qur’an bukan hanya menjadi pedoman bagi manusia akan tetapi . Kandungan Al-Quran melahirkan berbagai ilmu yang menantang bagi siapa saja untuk dikaji, baik orang Islam sendiri maupun nonmuslim. Al-Quran tidak hanya untuk dikaji tapi juga untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dan untuk memahami kandungannya, diperlukan penafsiran dalam memudahkan kita untuk lebih mengenal dan memahami maksud dari pada ayat-ayat Al-Quran. Oleh karena itu kami akan sedikit mengkaji tentang penafsiran dari salah satu mufassir ternama dikalangan syiah yaitu Allamah ath-Thabathaba’i dalam karya tafsirnya “Al-Mizan.

B. Rumusan Masalah
·         Biografi Ath-Thabathaba’i
·         Apa saja Karya-karya ath-Thabathaba’i?
·         Siapakah Murid-murid ath-thabathaba’i?
·         Bagaimana Gambaran umum Tafsir al-Mizan?
·         Kitab-Kitab apa saja yang menjadi rujukan Tafsir al-Mizan?
·         Metode apa yang digunakan dalam Tafsir al-Mizan?
·         Corak apa yang digunakan Tafsir al-Mizan?
·         Apa saja Karakteristik Tafsir al-Mizan?
·         Bagaimana komentar para ulama mengenai Tafsir al-Mizan?

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Biografi Ath-Thabataba’i
Muhammad Husain ath-Thabathaba’i adalah putra dari as-Sayid Muhammad bin as-Sayid Muhammad Husain ath-Thabathaba’i. Ayahnya meninggal pada 1330 (1912), Ia dilahirkan di Tabriz pada 30/12/1321 H (17/3/1904 M). Ia adalah seorang ulama, mufassir dan sekaligus filosof Islam. Ath-Thabathaba’i tumbuh besar di Tabriz, dan setelah menyelesaikan pendidikan keagamaan di sana, sekitar 1341 (1923) ia pergi ke an-Najaf al-Asyraf (Irak), pusat paling penting untuk pendidikan keagamaan Islam.[2]
Di an-Najaf al-Asyraf, dia mengawali studi-studi lebih tingginya bersama ulama-ulama termasyhur seperti asy-Syaikh (Al-Mirza) Muhammad Husain Na’ini al-Gharawi dan asy-Syaikh Muhammad Husain Ishfahani[3]. Keduanya ini bersama asy-Syaikh Dhiyauddin sangat dihormati di dunia Syiah. Mereka termasuk di antara ulama-ulama paling menonjol bukan saja di bidang-bidang yurisprudensi Syiah dan prinsip-prinsip dasar yurisprudensi, namun juga dalam semua studi Islam. Pendapat-pendapat yang mereka paparkan dan teori yang mereka kemukakan, diikuti oleh semua ulama setelah mereka.[4]
Ath-Thabathaba’i banyak dipengaruhi oleh dua guru ini, (khususnya oleh Ishfahani) dalam perkembangan pemikiran dan pengetahuannya. Pengaruh ketiga datang dari as-Sayid Abdul Qasim Ja’far Khwansari yang dikenal sebagai “alhi matematika”. Ia merasa bangga dapat belajar matematika darinya. Kemudian ia belajar filosofi dan metafisika melalui as-Sayid Husain al-Husaini al-Badkubi[5], seorang guru termasyhur di bidang filosofi dan studi-studi yang terkait pada masa-masa itu. Di bidang etika dan spiritual, dia menerima pendidikannya dari keluarganya, as-Sayid (Al-Mirza) Ali Agha Thabathaba’i, seorang ulama yang mendirikan sebuah sekolah pendidikan spiritual dan etika yang tumbuh sehat dan kuat hingga saat ini.[6]
Segenap pengaruh itu berada dalam diri ath-Thabathaba’i untuk menciptaan dalam dirinya sebuah personalitas akademis dan spiritual yang berimbang sempurna. Seorang otoritas terpandang di bidang studi-studi keagamaan seperti fiqih dan prinsip-prinsip dasarnya; seorang filosof yang pandangan-pandanganya independen dan memiliki beragam teori baru; sebuah model kesempurnaan etika dan spiritual yang bersemangat, yang bukan saja mengajarkan moralitas namun juga mengamalkannya. [7]
At-Thabataba’i telah mencapai tingkat ilmu Ma’rifah dan Kasysyaf. Ia mempelajari Ilmu ini dari seorang guru besar Mirza Ali Qadhi dan menguasai Fushushul Hikam karya Ibn Arabi.[8]
Kemudian ia kembali ke Tabriz pada 1353 (1943). Di sini ia disambut hangat sebagai ulama. Di Tabriz inilah ia menghabiskan waktunya dengan mengajar filosofi tinggi kepada murid-murid yang antusias. Pada 1364 (1945) ia hijrah ke Qum, pusat pendidikan keagamaan paling penting di Iran. Di Qum, ia tenggelam dalam berbagai pengetahuan etika, filosofi dan tafsir al-Qur’an kepada murid-murid yang sudah mencapai tingakatn pengetahuan yang tinggi. Di sini ia tinggal sampai kewafatannya pada Minggu, 18/11/1402 (15/11/1981).[9]
At-Thabataba’i adalah seorang ulama yang mempelajari filsafat materialisme dan komunisme, lalu mengkritik dan memberikan jawaban yang mendasar sebagai seorang mufassir besar Filosof sekaligus sufi, ia telah mencetak murid-muridnya menjadi ulama yang intelektual seperti Murtadha Mutahhari guru besar di Universitas Teheran dan Sayyid Jalaluddin Asytiyani guru besar di Universitas Masyhad.[10]
B.     Karya-karya at-Thabataba’i
Ath-thabathaba’i mengukir reputasi berkat beragam karya akademisnya yang penting adalah tafsir al-Qur’an al-Mizan Fi Tafsir al-Qur’an. Akurat kalau dikatakan bahwa karya ini merupakan fondasi atau basis prestise akademisnya di dunia Muslim.[11] Diantara karya lainnya adalah:
1.      Ushul e Falsafeh wa Rawish Riyalisn.
2.      Hasyiyah bar Asfar.
3.      Mushahabeh ba Ustad Corbin.
4.      Ali wa Falsafeh ye al-Illahi.
5.      Syi’eh dar Islam.
6.      Qur’an dar Islam.
7.      Bidayah al-Hikmah.
8.      Nihayah al-Hikmah.
9.      Risalah dar Hukumat e Islam dan lain-lain.[12]

C.    Murid-murid at-Thabtaba’i
Ath-Thabataba’i telah mencetak puluhan ulama dan pemikir yang memberikan kontribusi besar dalam pengembangan studi filsafat, politik, irfan, tafsir dan lainnya, seperti:
1.      Ayatullah Zawadi Amoli.
2.      Ayatullah Murtadho Mutahhari.
3.      Ayatullah Hasan Hasan Zadeh Amoli.
4.      Ayatullah Yahya Anshari syirazi.
5.      Ayatullah Muhammad Husein Bhesyti.
6.      Ayatullah Mehdi Haeri Yazdi.
7.      Ayatullah Murtadha Haeri Yazdi.
8.      Ayatullah Muhammad Taqi Misbah Yazdi.
9.      Ayatullah Jalalud-Din Asytiyani.
10.  Ayatullah Ja’far Subhani, Dan lain-lain.[13]




D.    Gambaran umum Tafsir al-Mizan
Tafsir al-Mizan diterbitkan pertama kali oleh Dar al-Kutub al-Islamiyah, Teheran, pada tahun 1375 H, kemudian dicetak lagi tahun 1389 H dan cetakan ketiga tahun 1392 H. Lalu diterbitkan oleh Mu’assasah al-A’lami, beirut, tahun 1393 H.
Tafsir al-Mizan bisa dibilang sebagai kitab tafsir Syi’ah ternama dan komprehensif, yang terlahir setelah kitab Majma’ al-Bayan (Imam al-Thabarsi). Al-Mizan juga merupakan kitab tafsir yang concern dalam membahas persoalan-persoalan kekinian, dengan berpedoman kepada kaidah Tafsir al-Qur’an bi al-Qur’an.[14]
Lahirnya tafsir al-Mizan diawali oleh perjalanan beliau pertama kali ketika tiba di Qum dan memberikan kuliah-kuliah mengenai berbagai cabang keilmuan Islam. Salah satu topik kajian beliau di lingkungan Hauzah Ilmiyah di Qum adalah tentang penafsiran al-Qur’an, yang melibatkan banyak sarjana dan pelajar. Dia juga melakukan dialog interaktif dengan seorang sarjana Perancis, Profesor Henry Cobyn, yang juga dihadiri para ilmuan lainnya, emgenai ajaran-ajaran mistik dalam agama-agama besar dunia dan Filsafat.[15]
Kitab tafsir ini juga sengaja disebut dengan al-Mizan, karena di dalamnya Thabataba’i menampilkan banyak pendapat, baik dari mufassir maupun pakar keilmuan lainnya seperti ahli hadis, sejarah dan lain-lain, yang kemudian dikritisi dan analisa dengan cukup mendalam.
Thabataba’i juga mendasarkan penafsirannya kepada kitab-kitab lain yang dipandang cukup relevan dan bisa mendukung penafsirannya, baik bidang tafsir, hadis, sirah, sejarah, bahasa dan lain-lain. Namun, begitu beliau tetap memberikan kritikan dan komentar. Disinilah letak keunggulan beliau di antara mufassir-mufassir lainnya.
E.     Kitab-kitab Tafsir yang menjadi rujukan Tafsir al-Mizan adalah:
1.      Jami’ al-bayan (al-Thabari)
2.      Al-Kasyaf (al-Zamakhsyari)
3.      Majma’ al-Bayan (al-Thabrasi)
4.      Mafatih al-Ghaib (Fakhruddin al-Razi)
5.      Anwar al-Tanzil (Baidhawi)
6.      Ruh al-Ma’ani (al-Alusi), dan lain-lain.
Sementara dalam persoalan kebahasaan, beliau mendasarkan pada beberapa kitab, antara lain al-Mufradat (al-Ragib al-Isfahani), al-Shihah (al-Jauhari), Lisan al-Arab (Ibn al-Manzhur), Qamus al-Muhith (al-Fairuzzabadi).
F.     Metode tafsir al-Mizan
Metode penafsirannya adalah metode Tahlili, dengan menggunakan dua pendekatan sekaligus yaitu Bi al-Matsur dan Bi al-Ra’yi. Adapun menurut ‘Ali al-Usi dan al-Iyazi jenis bi al-Matsur nya al-Mizan adalah dengan cara Maudhu’i. Namun jenis bi al-Matsur nya tafsir al-Mizan berbeda, misalnya dengan tafsir al-Thabari. Hal ini karena al-Mizan sebagai kitab tafsir yang bercorak Syi’ah, juga didasarkan kepada pendapat para Imam yang diyakini sebagai orang orang yang maksum. Bahkan, Thabataba’i juga menggunakan rasio untuk memahami ayat, teurtama ayat-ayat yang menuntutnya untuk dijelaskan secara filosofis dan logis, seperti masalah Tauhid. ‘Ishmah, keadilan tuhan, perbuatan manusia antara Jabr dan Qadr.[16]
Sebelum memulai menafsirkan, terlebih dahulu dijelaskan beberapa corak Tafsir dan Mazhab para mufassir, juga perbedaan pendapat di kalangan Mufassir, menyangkut riwayat, kalam, filsafat, tasawuf, teori-teori Ilmiah, baru kemudian beliau menjelaskan dengan manhaj yang diyakininya sebagai yang paling tepat. Dalam hal ini Thabataba’i berkata:
“jika anda merenungkan berbagai macam manhaj tafsir yang sudah ada, maka anda akan melihat bahwa mereka sesungguhnya telah berserikat dalam kekurangan. Mereka telah membawa kepada pembahasan ilmiah dan filsafat yang jauh dari apa yang ditunjukkan oleh ayat. Pada tataran penerapan mereka terkadang mengubahnya jika tidak sesuai dengan manhajnya, sehinga makna-makna hakiki sengaja diubah menjadi makna majazi. Perhatikan, bagaimana al-Qur’an memperkenalkan dirirnya sendiri dengan kalimat Hudan li al-Muttaqin, Nur Mubin, Tibyan likulli Syai’. Artinya al-Qur’an memberi petunjuk kepada yang lain dan menyinarinya.”
Kemudian Thabataba’i menegaskan kembali bahwa metode yang paling tepat untuk memahami al-Qur’an adalah dengan membiarkan al-Qur’an menjelaskannya sendiri. Tugas kita hanya menganalisa untuk memperoleh pemahaman yang bersifat Qur’ani, sambil diperkuat dengan hadis dan riwayat dari ahli bait yang secara konsisten senantiasa menapaki jejak beliau.
Tafsir al-Mizan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, diantaranya bahasa Perancis, Urdu, dan Inggris, dan telah dicetak berulang-ulang diberbagai negara, antara lain, Iran, Beirut, dan Pakistan.[17]
G.    Corak Tafsir al-Mizan
Tafsir al-Mizan menggunakan corak Tafsir al-Qur’an bi al-Qur’an,  konsisten termasuk menyangkut masalah akidah dan kisah-kisah. Dalam pandangan al-Thabathaba’i, menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an adalah metode penafsiran yang paling valid (ahsan al-Turuq). Bagaimana mungkin al-qur’an akan menjadi penjelas bagi segala sesuatu, Dan menjadi petunjuk serta penjelas bagi setiap permasalahan, Jika kemudian ayat al-Qur’an masih menyimpan makna yang misteri, tidak bisa ditangkap atau diungkap maksudnya. Dengan kata lain dikatakan bahwa pada hakikatnya tidak ada ayat yang samar (Mutasyabih)  dalam al-Qur’an, sebab kesamaran makna al-qur’an telah dijelaskan oleh ayat al-Qur’an lainnya. Memang benar dalam al-Qur’an menegaskan terdapat 2 ayat, yaitu ayat Muhkam dan ayat Mutashabih. Namun Muhkam dalam pandangan Athabataba’i adalah induk dan menjadi rujukan dari ayat-ayat yang dianggap samar.
Pemahaman al-Thabathaba’i tentang Muhkam dan Mutashabih berdasarkan pada beberapa landasan normatif yaitu pertama, sabda Nabi Muhammad SAW, yang mengatakan bahwa adanya kemustahilan saling mendustakannya antara ayat al-Qur’an. kedua, perkataan Imam Ali ibn Thalib yang berkeyakinan bahwa antara ayat-ayat al-Qur’an saling mengokohkan dan saling mengisi di antara sesama ayat al-Qur’an. dan ketiga, pandangan Imam Rida yang menegaskan bahwa barangsiapa yang mengembalikan ayat Mutshabih kepada ayat Muhkam, maka ia telah ditunjukan pada jalan yang lurus.[18]
H.    Karakteristik Tafsir al-Mizan
Dalam menjelaskan ayat, Thabtaba’i berpedoman kepada pendapat para pakar dari berbagai disiplin Ilmu, seperti tafsir, hadis, tarikh, dan lain-lain, baik yang bersumber dari para Imam Syi’ah Imamiyah, maupun dari kalangan ulama Sunni. Ini dimaksudkan untuk menyingkap sisi-sisi pembahasan yang dikehendaki oleh tema tersebut dan menjaga kejujuran pandangannya terhadap masalah yang dibahas.
Misalnya tentang kedudukan Basmalah, baik dalam surat al-Fatihah, dan surat-surat yang lain, Thabataba’i mengambil beberapa riwayat dari para Imam, di antaranya: “dari Amir al-Mu’min (Ali bin Abi Thalib) as. Bahwasanya basmalah termasuk dari surat al-Fatihah, dan Rasulullah SAW selalu membacanya, serta menganggapnya sebagai bagian darinya. Beliau juga bersabda: ‘surat al-Fatihah adalah al-Sab’ al-Matsani’,”
Hadis tersebut menyatakan bahwa basmalah adalah salah satu ayat dari surat al-Fatihah. Sementara dalam beberapa riwayat yang lain menyatakan bahwa basmalah juga termasuk salah satu ayat dari semua surat dalam al-Qur’an, kecuali surat al-Bara’ah, dan ini tidak ada perselisihan pendapat di antara mereka.
Selanjutnya Thabtaba’i juga mengambil beberapa riwayat dari ulama Sunni, diantaranya adalah riwayat Muslim, al-Daruquthni, dan Abu daud. Misalnya dalam riwayat Muslim: “dari Anas, rasulullah SAW bersabda: beru saja turun kepadaku satu surat, lalu beliau membaca Bsmillahirrahmanirahim Inna A’toyna kal Kautsar.”
Berdasarkan kedua hadis di atas, Thabtaba’i menyimpulkan bahwa basmalah, baik di kalangan Syiah maupun Sunni (sesuai dengan hadis riwayat Muslim diatas), bukan hanya bagian dari surat al-Fatihah saja, tetapi ia juga termasuk salah satu ayat dari seluruh surat dalam al-Qur’an, selain al-Bara’ah. Sementara dikalangan Sunni terdapat perbedaan pendapat tentang hukum basmalah ini, yang terbagi dalam tiga pendapat: pertama, Basmalah termasuk salah satu ayat dari al-Fatihah dan surat-surat yang lain. Kedua, Basmalah bukan termasuk bagian dari ayat, baik al-Fatihah maupun surat lainnya. Ketiga, Basmalah termasuk salah satu ayat al-Qur’an, yang berfungsi untuk memisahkan antara surat satu dengan surat lainnya, dan bukan termasuk salah satu ayat dari surat al-Fatihah.
Dalam teknik penafsirannya, Thabtaba’i mengambil beberapa ayat, lalu disusun dalam satu konteks bahasan. Selanjutnya dijelaskan tujuan pokok dan kandungan globalnya, kemudian dijelaskan ayat per ayat.
I.       Komentar para ulama mengenai Tafsir al-Mizan
Menurut al-Usi munculnya tafsir al-Mizan ini disebabkan adanya kebutuhan yang mendesak dari kalangan masyarakat akan adanya satu tafsir alternatif, yang dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang makna-makna yang tersurat maupun yang tersirat dari ayat0ayat al-Qur’an, sebagai teks yang paling tinggi kedudukannya dan paling penting dalam wacana keilmuan Islam. Sebab kitab-kitab tafsir yang telah ada banyak dipengaruhi oleh pendapat-pendapat pribadi, sehingga terkadang mereduksi sedemikian dalam makna-makna tekstual dan kontekstual dari ayat-ayat al-Qur’an.
Berkaitan dengan al-Mizan. ‘Ali al-usi berkomentar; “Thabataba’i telah mengumpulkan berbagai macam persoalan penting yang dipengaruhi oleh kebangkitan modern dalam dunia penafsiran. Beliau melakukan perlawanan dengan musuh-musuh Islam yang secara sengaja membelokkan pemahaman keislaman yang benar, yang dilandasi atas jiwa kemasyarakatan yang terlahir dari al-Qur’an itu sendiri. Di dalamnya terdapat sepuluh pembahasan yang cukup penting.”
Fahmi al-Rumi berkomentar: “ketika membaca Tafsir ini secara sekilas memunculkan sebuah kesan bahwa tafsir ini memang tidak untuk orang awam tetapi untuk level ulama. Hal ini ditunjukkan pada pembahasan-pembahasannya yang sangat mendalam. Sebagai mana tafsir al-Kasyaf, yang dianggap oleh para pengkaji tafsir sebagai kitab tafsir terbaik, seandainya tidak terlalu kentara muktazilahnya. Demikian juga al-Mizan, ia kan menjadi kitab tafsir yang terbaik seandainya tidak terlalu menonjol kesyi’ahannya.”[19]
Menurut Abu al-Qasim Razzaqi, tafsir menduduki posisi penting karena kulitasnya yang istimewa, tidak hanya diantara buku-buku sejenis, tetapi juga diantara berbagai jenis keislaman baik agama, Ilmu, filsafat dan telebih lagi dalam bidang tafsir yang pernah ditulis sarjana Syiah.
Penilaian senada diungkapkan Murtada Mutahhari, salah seorang muridnya. Ia mengatakan bahwa al-Mizan adalah karya terbesar yang pernah ditulis sepanjang sejarah kejayaan islam, dan diperlukan waktu hingga 60 atau 100 tahun (1 abad) sampai orang menyadari kebesarannya.[20]
J. Beberapa Studi tentang tafsir al-Mizan
1.      Al-Thabathaba’i wa Mnahajuhu fi al-Tafsir, karya ‘Ali al-usi.
2.      Tafsir al-Qur’an bi al-Qur’an ‘inda al-Thabathaba’i, karya Khadhir Ja’far.
3.      Miftah al-Mizan, karya ‘Ali Ridha Mirza Muhammad.
4.      Dalil al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, karya Ilyas Kalanturi.
5.      Faharis al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, karya I’dad ibn Fazzu.[21]














BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah mengkaji biografi dan metode yang digunakan Thabathabai dalam menafsirkan Al-Quran, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Thabathabai memiliki banyak disiplin ilmu sehingga ia bisa memunculkan karya-karya fenomelnya salah satunya adalah tafsir Al-Mizan fi Tafsiri Al-Quran. Ia juga adalah seorang mufassir dari kalangan Syi'ah sehingga warna penafsirannya masih mengikuti alur atau pandangan mazhabnya. Thabathaba'i meyakini bahwa keseluruhan Ayat-ayat Al-Quran bisa dipahami maksudnya baik itu yang muhkam maupun mutasyabih. Dengan kitab tafsirnya tersebut orang-orang masih rabun akan corak penafsirannya karena didalamya tedapat berbagai macam disiplin ilmu seperi filsafat, mistik dan lain sebagainya.
B. Saran dan Kritik
Pemakalah menyadari bahwa tulisan ini masih ada kekurangan pemahaman ataupun kedangkalan pembahasan. Oleh karena itu, dengan kerendahan hati, pemakalah sangat terbuka akan kritik dan saran guna menambah kedalaman wawasan ilmu pemakalah.











DAFTAR PUSTAKA
Abidu, Yunus Hasan. 2007. Tafsir al-Qur’an. Pamulang
Thabathabai, Sayid Muhammad. 2010. Terjemah Tafsir al-Mizan. Jakata.
Thabataba’i, Allamah. Tafsir al-Mizan (mengupas ayat-ayat Ruh dan Alam Barzakh), Hlm 4.
Labib, Muhsin. 2005.  Para Filosof. Jakarta.
Musolli. 2014. Sunni Syiah Studies: Membongkar Ideologis dalam Penafsiran al-Qur’an. Jawa Timur
IMZI. A. Husnul Hakim. 2013. Ensiklopedia Kitab-kitab Tafsir. Depok.



[1] Yunus Hasan Abidu, Tafsir al-Qur’an, (Pamulang: Gaya Media Pratama, 2007), cet. I, Hlm. xix
[2] Sayid Muhammad Thabathabai, Terjemah Tafsir al-Mizan, (Jakata:Lentera, 2010) cet. I, Hlm. 11.
[3] Syaikh Isfahani adalah seorang filosof yang tak tertandingi pada zamannya, seorang penulis dan seorang penyair Arab dan Persia yang paiwai, dia adalah seorang yang jenius yang prestasi-prestasinya membuat orang memandang dirinya sebagai ideal.
[4] Sayid Muhammad Thabathabai, Terjemah Tafsir al-Mizan, hlm. 11.
[5] Sekarang disebut Baku, Ibukota Azarbaijan Soviet.
[6] Sayid Muhammad Thabathabai, Terjemah Tafsir al-Mizan, Hlm. 12.
[7] Sayid Muhammad Thabathabai, Terjemah Tafsir al-Mizan, Hlm. 12-13.
[8] Allamah Thabataba’i, Tafsir al-Mizan (mengupas ayat-ayat Ruh dan Alam Barzakh), (Jakarta: CV Firdaus, 1991) Cet I, Hlm 3.
[9] Sayid Muhammad Thabathabai, Terjemah Tafsir al-Mizan, Hlm. 13.
[10] Allamah Thabataba’i, Tafsir al-Mizan (mengupas ayat-ayat Ruh dan Alam Barzakh), Hlm 4.
[11] Sayid Muhammad Thabathabai, Terjemah Tafsir al-Mizan, Hlm. 13.
[12] Muhsin Labib, Para Filosof, (Jakarta: al-Huda, 2005) Cet I, Hlm 263-264
[13]  Muhsin Labib, Para Filosof, Hlm 268
[14] A. Husnul Hakim IMZI, Ensiklopedia Kitab-kitab Tafsir, (Depok: Lingkar Studi al-Qur’an, 2013), cet. I, Hlm 187
[15] A. Husnul Hakim IMZI, Ensiklopedia Kitab-kitab Tafsir, Hlm 189-190
[16] A. Husnul Hakim IMZI, Ensiklopedia Kitab-kitab Tafsir, Hlm 190
[17] A. Husnul Hakim IMZI, Ensiklopedia Kitab-kitab Tafsir, Hlm 189
[18] Musolli, Sunni Syiah Studies: Membongkar Ideologis dalam Penafsiran al-Qur’an, Hlm 75-76
[19] A. Husnul Hakim IMZI, Ensiklopedia Kitab-kitab Tafsir, Hlm 187-188
[20] Musolli, Sunni Syiah Studies: Membongkar Ideologis dalam Penafsiran al-Qur’an, (Jawa Timur: Yayasan Pondok Pesantren Nurud Dhalam, 2014) Hlm 71

[21] A. Husnul Hakim IMZI, Ensiklopedia Kitab-kitab Tafsir, Hlm 192

Kamis, 25 Desember 2014

Makalah Mufassir Klasik Abu Hayyan al-Andalusi. disusun oleh : ( Fitriyah & Zidna Khoiro Amalia )


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Al-Qur’an, kitab suci umat Islam, merupakan kitab yang paling memiliki kekuatan sepanjang sejarah manusia. Kekuatan tersebut terkadang muncul dengan sendiri, karena aspek estetis al-Qur’an atau dimunculkan oleh manusia (ulama, mufassir) melalui kajian-kajian tafsirnya. Kajian-kajian tersebut dituliskan dalam kitab-kitab tafsir yang memiliki diversitas metode, corak, bentuk, dan karateristiknya. Seiring berjalannya waktu, diversitas itu dengan sendiri kemudian membentuk mazhab-mazhab tafsir.[1]
Dalam makalah ini pemakalah akan mencoba sedikit menguraikan tentang salah satu kitab tafsir klasik karya Abu Hayyan al-Andalusi yang bernama Al-Bahr Al-Muhiht.
B. Rumusan Masalah
1. Siapakah Abu Hayyan?
2. Bagaimanakah Metode Penafsiran Kitab Al-Bahr Al-Muhiht?
3. Bagaimanakah Karateristik Penafsiran Kitab Al-Bahr Al-Muhiht?





BAB II
PEMBAHASAN
A.    Biografi penulis
Nama lengkapnya  Atsirudin abu Abdillah Muhammad bin Yusuf bin Ali bin Yusuf bin Hayyan al-Andalusy  al-Garnathi al-Hayyani, populer dengan Abu Hayyan. Lahir di Granathah pada tahun 654 H/1256 M.[2] Orang tuanya berasal dari keturunan suku Barbar. Ia hidup pada masa Dinasti Bani Ahmar (Dinasti Nashriyyah) berkuasa, dinasti ini merupakan dinasti Islam terakhir yang berkuasa di Spanyol.
Di bawah pengawasan ayahnya, al-Andalusi mulai menghafal al-Qur’an. Setelah itu, menashih hafalanya kepada sejumlah Ulama. Al-Andalusi juga gemar berkelana menuntut ilmu keberbagai tempat misalnya Andalus, Afrika, Iskandariyah, Mesir, dan Hijaz. Di berbagai daerah tersebut beliau berguru tak kurang dari 450 Ulama. Dari mereka beragam disiplin ilmu diserap mulai tafsir, hadis, qira’at, bahasa Arab, sastra, hingga sejarah.[3] Sehinggan Abu Hayyan muncul sebagai ahli hadis, sejarahwan, sastrawan, dan mufassir.[4] Beliau juga menguasai berbagai Qira’at, baik qira’at yang shahih maupun qira’at yang syadz, ganjil (beda sendiri).[5]  
Ada yang mengatakan bahwa Abu Hayyan itu pada awalnya bermadzhab Zhairiah [6]dalam bidang fiqih, kemudian mengikuti madzhab Syafi’i. Abu Hayyan luput dari filsafat, dari paham Mu’tazilah, dan Tajsim. Beliau memegang teguh akidah salaf.[7]
Abu Hayyan al-Andalusi menghasilkan banyak karya yang bertebaran di berbagai penjuru dunia pada saat beliau masih hidup atapun setelah beliau meninggal, diantara karya-karyanya adalah:
·         Al-Bahr al-Muhith
·         Al-Nahr al-Madd min Bahr al-Muhith (ringkasan dari kitab al-Bahr al-Muhith)
·         Ittihaf al-Arib bima fi al-Qur’an min al-Gharib
·         Al-Tajzyil wa al-Takmil fi Sarh al-Tashil
·         Gharib al-Qur’an
·         Manzuhumah ‘ala Wazn al-Syathibiyah fi al-Qiraat
·         Lughat al-Qur’an[8]
·         Dan masih banyak lagi karya Abu Hayyan yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu.
Banyak komentar para ulama mengenai sosok Abu Hayyan al-Andalusi, diantaranya:
·         Ibn Al-‘Imad dalam kitab Syadzarat adz-dzahab berkata: “abu hayyan adalah orang yang tekun dan bersungguh-sungguh dalam belajar hadis, Tafsir, bahasa arab, Qira’at, sastra dan sejarah. Namanya terkenal dan pujiannya tersebar, para pembesar pada masanya berguru dengannya dan mereka menjadi terkemuka pada masa hidupnya’’.
·         Ash-Shafdi berkata: “saya tidak pernah melihatnya kecuali ia sedang mendengar (ilmu), bekerja, menulis, atau membaca kitab. Ia adalah orang yang ahli dan kenal dengan bahasa arab, adapun ilmu nahwu dan sharaf, maka ia adalah pakarnya. Ia menghabiskan kebanyakan dari umurnya untuk menutut ilmu, sehingga tidak ada seorangpun di dunia ini yang bisa menandinginya. Ia telah memberikan pengorbanan besar dalam bidang tafsir, hadis dan biografi para tokoh, dan mengenal tingkatan mereka secara khusus ulama-ulama maroko dan ia telah banyak mendidik generasi baik di zaman klasik maupun modern, menghubungkan orang-orang yang datang kemudian dengan ulama-ulama besar yang hidup sebelumnya, dan jadilah semua muridnya sebagai para pemimpin dan syaikh-syaikh semasa hidupnya.
·         Diantaranya lagi sebagaimana yang dikatakan oleh al-Adfawi tentangnya: “beliau adalah seorang yang adil, jujur, selamat akidahnya dari bid’ah-bid’ah filsafat, Mu’tazilah dan yang berlebihan. Ia sangat Khusyu’, sering menangis ketika membaca Al-Qur’an, perawakannya berbadan tinggi, Bagus, Tampan, Berkulit putih kemerah-merahan, putih ubannya, tebal jenggotnya dan panjang tertata rapi rambutnya.”[9]
Abu hayyan wafat setelah lama berkorban demi melayani al-Qur’an dan ilmu-ilmunya, Wafat di mesir tahun 745 H. Semoga Allah menghujani rahmat kepadanya dan meridhainya, amin.[10]
B.     Seputar kitab tafsir Bahr Al Muhith
Kitab al-Bahr al-Muhit terdiri dari 8 jilid besar, telah di cetak dan beredar di kalangan ahli ilmu. Kitab ini tergolong rujukan pertama dan terpenting bagi yang ingin menjalani sisi-sisi i’rab dalam lafadz al-Qur’an. Karena sisi-sisi nahwu pada tafsir ini lebih menonjol dibanding yang lain. Saat membahas sisi nahwu dalam kitab ini, ia menjadi “putra” bagi ilmu ini. Beliau telah memperbanyak membahas masalah nahwu dan khilafiyah antara ulama dibidang ini.[11]
Di dalam kitab tafsir ini, beliau cenderung memperluas perhatiannya untuk menerangkan wajah-wajah i’rab dan masalah-masalah nahwu, bahkan cenderung memperluasnya karena beliau mengemukakan, mendiskusikan dan memperdebatkan perbedaan pendapat di kalangan ahli nahwu, sehingga kitab ini lebih dekat ke kitab-kitab nahwu dari pada ke kitab-kitab tafsir.[12] Beliau juga mengutip pendapat para ulama dalam masalah-masalah fiqih yang memiliki keterkaitan dengan lafadz-lafadz yang ditafsirkan tersebut, baik dari empat Imam mazhab maupun lainnya, di samping argumen-argumen lain yang terdapat di dalam kitab-kitab fiqih.[13]
Berkiatan dengan kisah-kiasah Israiliyat, ternyata Abu Hayyan juga banyak mengutip dalam kitabnya. Diantara kisah-kisah Israiliyat yang dikutip, yang sebenarnya berstatus maudhu’ (palsu) –walaupun hanya sepintas- adalah riwayat tentang batu nabi Musa, Daud dan Istrinya, begitu juga kisah kaum Iram atau Arim (kaum nabi Hud) disinyalir sebagai riwayat yang Bathil. Dalam hal ini Abu Hayyan dianggap tidak konsisten, karena dalam mukadimah kitabnya beliau mengatakan “cerita-cerita atau kisah-kisah Israiliyat yang tidak sesuai dengan syari’at dan akal sehat sangat tidak layak disebutkan dalam ilmu Tafsir”. Sementara beliau terkadang melanggar pernyataannya sendiri, misalnya ketika menceritakan kisah Harut dan Marut. Namun begitu, dalam kaitan ini  Abu Hayyan hanya mendasarkan pada apa yang dianggap benar oleh Ibn ‘Athiyah. Sementara dalam penafsirannya sendiri beliau tidak menganggap.[14]
Di dalam tafsir ini juga Abu Hayyan memasukan hadis-hadis dhaif yang mana diriwayatkan oleh seorang yang tidak tsiqqah. Ini beliau cantumkan hanya memberi keterangan kepada pembaca untuk tidak terpedaya dengannya. Hal ini juga sangat sedikit dan jarang sekali dijumpai.[15] Selain itu juga Abu Hayyan dikenal banyak menulis syair-syair yang indah dalam Tafsirnya yang menjadikannya termasuk dalam golongan ahli hikmah.[16]
C.    Latar belakang penulisan al-Bahr al-Muhith
Abu Hayyan memberi nama kitab Tafsir nya dengan al-Bahr al-Muhith yang artinya lautan yang luas, banyak para pengkaji yang tidak mampu menyelesaikanya karena teramat panjang.[17]
Abu Hayyan telah lama berkhidmat kepada al-Qur’an dan ilmu-ilmu bahasa hingga hampir 60 tahun dari umurnya. Kemudian beliau sibuk semata-mata mengarang tafsir al-Qur’an setelah berhasil mendapatkan ilmu-ilmu ahli tafsir yang dengannya beliau bisa mencapai keberuntungan yang abadi.[18]
Abu Hayyan dalam Mukadimah tafsirnya al-Bahr al-Muhith berkata sebagai berikut: “sesungguhnya ilmu pengetahuan itu banyak dan semuanya penting. Dan yang lebih penting adalah yang membawa kepada kehidupan abadi, keberuntungan  yang kekal, yaitu ilmu kitab Allah. Ilmu inilah yang dituju, sedangka ilmu-ilmu lainnya hanya bagaikan alat-alatnya saja. Ia adalah buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus, timbangan yang lebih sempurna dan lebih kuat, tali yang kukuh, dan jalan yang lurus, dan senantiasa bergejolak dalam ingatan dan pikiranku bahwa jika aku telah sampai kepada masa terpecahnya kulit, yaitu masa yang melepaskan kebebasan para pemuda yang dikatakan: apabila seorang lelaki telah sampai umurnya 60 tahun hendaklah ia menghindari minuman keras. Saya memohon kepada Allah yang maha pengasih untuk semata-mata memikirkan tafsir al-Qur’an. Allah memperkenankan keinginanku itu, waktu itu akhir tahun 710 H, yaitu awal tahun dari umurku yang ke 57 tahun, maka saya berniat untuk menysusun kitab ini”.[19]
Dari perkataan beliau di atas, bisa kami ambil kesimpulan, bahwa Abu Hayyan menyusun kitab tafsir Bahr al-Muhith, karena ingin mengamalkan Ilmunya yang telah beliau banyak dapati selama itu. Abu Hayyan mulai menyusun kitab ini  tatkala usianya 57 tahun, tepatnya tahun 710 H.
D.    Metode penafsiran al-Bahr al-Muhith
Beliau mengawali kitab tafsirnya dengan mukadimah yang sangat indah, kemudian juga menyebutkan teknik penulisannya, ilmu-ilmu yang dibutuhkan oleh seorang mufassir, kriteria-kriteria yang seharusnya dimiliki oleh mufassir, dan membicarakan sebagian mufassir terdahulu, semisal al-Zamakhsyari, dengan kitab tafsirnya al-Kasyaf dan ‘Ibn ‘Athiyah dengan kitab tafsirnya al-Muharrar al-Wajiz. Beliau juga menjelaskan dalam mukadimahnya tentang keutamaan al-Qur’an serta memberi motivasi untuk mendalami Tafsir, nama Mufassir dari kalangan sahabat dan tabi’in, juga definisi ilmu tafsir, baik dari segi etimologis maupun terminologis.[20]
Dalam menyusun kitab ini beliau mula-mula bicara tentang ayat demi ayat dengan menafsiri setiap kata atau lafadz dari sisi bahasa dan nahwu sesuai yang dibutuhkan. Jika satu kata mengandung dua makna atau lebih, maka Abu Hayyan menyebutkannya  untuk kemudian dilihat manakah dari makna-makna itu yang cocok dengan kata-kata tersebut. Kemudian barulah beliau menafsiri ayat dengan menyebut sebab nuzul kalau sebab nuzul itu ada, menyebutkan munasabah dan keterkaitannya dengan ayat sebelumnya, menyebutkan naskhnya jika ada, juga menyebutkan sejumlah qira’at terhadap ayat tersebut baik qira’at yang berlaku maupun yang tidak berlaku, dilengkapi dengan mengutip ucapan para salaf dan khalaf dalam memahami ayat.
Kemudian dijelaskan juga kata-kata yang ada, baik yang jelas maupun yang samar dengan menerangkan i’rabnya yang samar, dan kelembutan sastra dengan mencoba tidak mengulangi pembahasan tentang kata yang telah dijelaskan atau ayat yang telah di tafsiri. Jika ada pengulangan, hal itu untuk menambah ilmu dan manfaat, disertai dengan pengutipan pendapat para imam madzhab empat dan yang lainnya dalam bidang hukum syari’ah, sambil menunjukan  dalil-dalil yang termaktub dalam kitab-kitab fiqih.
Begitu juga berkenaan dengan kaidah-kaidah nahwu, beliau menyebutkan nya dan menunjukannya ke kitab-kitab nahwu. Kemudian beliau mengakhiri penafsiran ayat dari sisi bahasa dengan pembahasan dari sisi ilmu bayan dan badi’ (ilmu sastra) secara sekilas, dilanjutkan dengan uraian bebas tentang kandungan ayat sesuai dengan makna yang beliau pilih. [21]
E.     Corak penafsiran al-Bahr al-Muhith
Tafsir al-Bahr al-Muhith adalah tafsir dengan corak balaghi, yang penekanannya pada kaidah-kaidah nahwu, bahasa arab, Balaghah, dan juga Qira’at baik yang Mahsyur maupun yang syadz.[22]
Pada sisi lain, abu hayyan sangat tidak setuju dengan penafsiran dengan corak ilmiah,  yang di lakukan al-Razi, yang kitabnya sangat kental dengan tafsir ilminya.[23]
Kesimpulannya tafsir Abu Hayyan lebih banyak didominasi oleh pembahasan sisi nahwu sebagai disiplin Ilmu yang paling dikuasainya mengalahkan sisi-sisi yang lain.[24]
F.     Karakteristik tafsir al-Bahr al-Muhith
Tafsir Bahrul Muhith merupakan salah satu kitab Tafsir yang tergolong Tafsir bir-Ra’yi. Krena di dalamnya beliau melengkapi dengan berbagai cabang ilmu yang meliputi Nahwu, Sharaf, Balaghah, Hukum-hukum fiqih dan yang lainnya yang dianggap oleh beliau masih ada hubungannya dengan rujukan Tafsir.[25]
G.    sumber penafsiran al-Bahr al-Muhith
Abu Hayyan dalam menyusun tafsirnya tidak lepas dari berbagai referensi kitab-kitab klasik lainnya. Hal ini beliau lakukan demi mewujudkan Kitab ini sesuai dengan namanya Al-Bahru Al-Muhit. Referensi-referensi tersebut bersumber dari berbagai disiplin ilmu selama masih terkait dengan Wawasan Tafsir. Ini bukan berarti penulisan kitab Bahrul Muhit seutuhnya atas landasan kitab-kitab terdahulu. Namun, tidak jarang juga beliau melakukan kritikan terhadap kitab-kitab tersebut. Beliau hanya melakukan penilaian atas kitab-kitab terdahulu dan mengambilnya yang beliau yakini serta membantahnya yang dianggapnya salah dengan landasan Al-Quran dan Hadis. [26]
Dalam banyak hal beliau berpedoman pada kitab At-Tahrir Wat Tahbir li Aqwali A’immatit Tafsir, karya gurunya Jamaluddin Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman al-Miqdasi yang terkenal dengan Ibnu Naqib.[27]
Dalam tafsir ini juga Abu Hayyan banyak mengutip dari tafsir Az Zamakhsyari dan tafsir Ibn ‘Athiyah, terutama yang berhubungan dengan masalah nahwu dan ‘irab.  Meskipun banyak yang ditolak dari pendapat ibn ‘Athiyah ini, akan tetapi harus jujur dikatakan bahwa tafsir Ibn ‘Athiyah telah memberi manfaat besar bagi Abu Hayyan. [28] Abu Hayyan tidak menyukai paham ke Mu’tazilahan Az Zamakhsyari. Karena itu ia mengkritik dan menyanggahnya dengan gaya bahasa yang sinis. Dan seringkali ia mengakhiri kutipannya dengan sanggahan, bahkan terkadang pula beliau menyerang Zamakhsyari dengan gencar, walaupun di sisi lain beliau memujinya karena keteramapilan nya yang menonjol dalam menyingkapkan retorika (Balaghah) Qur’an dan kekuatan bayan nya.
H.    Studi atas kitab Tafsir al-Bahr al-Muhith
Ternyata banyak juga yang melakukan studi kritis atas kitab tafsir ini, diantaranya:
·         Abu Hayyan al-andalusi: Manhajuhu fi Tafsir al-Qur’an. Disertai dari ‘Ali al-Sybbah, pada fakultas Syariah dan Ushuluddin, Universitas al-Zaituniyah, Tunis, tahun 1981 M.
·         I’rab al-Qur’an fi Tafsir Abi Hayyan, oleh Dr. Shabri Ibrahim al-Syadid. Diterbitkan pertama oleh Dar al-Ma’rifah, Iskandariah, Mesir 1989.
·         Abu Hayyan al-Mufassir: Manhajuhu wa Ara’uhu, disertasi dari Muhammad ‘Abd al-Mun’im Muhammad al-Syafi’i, pada fakultas Ushuluddin, Universitasal Azhar, Kairo 1972.
·         Ikhtilaf al-Huruf wa al-Harakat fi al-Qira’at fi Tafsir Abi Hayyan, oleh Dr Muhammad Ahmad Khathir, dosen fakultas bahasa dan sastra arab, Universitas al-Azhar, Kairo 1990.
·         Aharis al-Bahr al-Muhith fi al-Tafsir, yang di dalamnya berisi ayat-ayat, hadis, pendapat para sahabat, juga klan-klan, kabilah-kabilah, nama kota-kota, nama-nama tempat, nama-nama negara, bait-bait syair. Telah dicetak oleh Dar al-Fikr 1992, dan saat ini tersimpan di perpustakaan al-Buhus wa al-Dirasar, Beirut.[29]




BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
          Nama lengkapnya adalah Atsirudin abu Abdillah Muhammad bin Yusuf bin Ali bin Yusuf bin Hayyan al-Andalusy  al-Garnathi al-Hayyani, populer dengan Abu Hayyan.
Kitab al-Bahr al-Muhith terdiri dari 8 jilid besar, Di dalam kitab tafsir ini, Abu Hayyan cenderung memperluas perhatiannya untuk menerangkan wajah-wajah i’rab dan masalah-masalah nahwu, sehingga kitab ini lebih dekat ke kitab-kitab nahwu dari pada ke kitab-kitab tafsir.
Tafsir al-Bahr al-Muhith adalah tafsir dengan corak balaghi, yang penekanannya pada kaidah-kaidah nahwu, bahasa arab, Balaghah, dan juga Qira’at baik yang Mahsyur maupun yang syadz, jadi tafsir Abu Hayyan ini lebih banyak didominasi oleh pembahasan sisi nahwu sebagai disiplin Ilmu yang paling dikuasainya mengalahkan sisi-sisi yang lain.
Tafsir Bahrul Muhith merupakan salah satu kitab Tafsir yang tergolong Tafsir bir-Ra’yi. Krena di dalamnya beliau melengkapi dengan berbagai cabang ilmu yang meliputi Nahwu, Sharaf, dan lain-lain.









DAFTAR PUSTAKA
Umar Nasaruddin, MA, Ulumul Qur’an Mengungkap Makna-Makna Tersembunyi al-Qur’an (Tanggerang: Al-Ghazali Center, 2008)
Ash Shiddieqy Hasbi, sejarah dan pengantar Ilmu Al qur’an atau Tafsir (jakarta: Bulan Bintang, 1954)
Amin Ghafur Saiful, Profil para Mufassir al-Qur’an, (Jogjakarta : Pustaka Insan Madani, 2008)
Hakim Husnul, Ensiklopedi Kitab-Kitab Tafsir, (Depok: Lingkar Studi Al-Qur’an, 2013)
Husein Adz-dzahabi Muhammad, Ensiklopedia Tafsir, (Jakarta: kalam Mulia, 2010)
Saleh Faisal, terjm Manhaj al-Mufassirun, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2006)
 Mudzakir, Terjemah Mabahis Fi Ulumul Qur’an, (Bogor, Pustaka Litera antar nusa: 2011)
Rul-sq.blogspot.com/2013/12/tafsir-bahr-al-muhit-karya-abu-hayyan.html?m=1









[1] Nasaruddin Umar, MA, Ulumul Qur’an Mengungkap Makna-Makna Tersembunyi al-Qur’an (Tanggerang: Al-Ghazali Center, 2008), cet 1, hlm XI
[2] M. Hasbi Ash Shiddieqy, sejarah dan pengantar Ilmu Al qur’an atau Tafsir (jakarta: Bulan Bintang, 1954) Hlm 277
[3] Saiful Amin Ghafur, Profil para Mufassir al-Qur’an, (Jogjakarta : Pustaka Insan Madani, 2008), hlm 103
[4] Husnul Hakim IMZI, Ensiklopedi Kitab-Kitab Tafsir, (Depok: Lingkar Studi Al-Qur’an, 2013), cet 1, hlm 111
[5] Muhammad Husein Adz-dzahabi, Ensiklopedia Tafsir, (Jakarta: kalam Mulia, 2010) Cet I, Hlm 297
[6] Pendiri madzhab ini adalah Abu Sulaiman Daud bin Ali al-Asfahaniy az-zahiri, dalam Madzhab ini    Imam Daud amat berpegang dengan firman Allah dalm surat An-nisa: 59, bahkan telah menjadikan ayat Allah ini sebagai asas utama madzhabnya. Waqlaupun madzahab ini tersebar luas dan ramai pengikut, tetapi madzhab ini juga tidak bertahan lama dan mulai pupus sejak kurun tahun ke lima hijriah dan terus pupus sampai seterusnya. Dan saat ini madzhab beliau hanya berupa pendapat-pendapat yang terdapat di kitab-kitab.
[7] Muhammad Husein Adz-dzahabi, Ensiklopedia Tafsir, Hlm 297
[8] Husnul Hakim IMZI, Ensiklopedi Kitab-Kitab Tafsir, hlm 111-112
[9] Faisal Saleh, terjm Manhaj al-Mufassirun, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2006) Hlm 386-387
[10] Muhammad Husein Adz-dzahabi, Ensiklopedia Tafsir, Hlm 297-298
[11] Muhammad Husein Adz-dzahabi, Ensiklopedia Tafsir, Hlm 297
[12] Mudzakir AS, Terjemah Mabahis Fi Ulumul Qur’an, (Bogor, Pustaka Litera antar nusa: 2011) cet 14, Hlm 507
[13] Husnul Hakim IMZI, Ensiklopedi Kitab-Kitab Tafsir, hlm 112
[14] Husnul Hakim IMZI, Ensiklopedi Kitab-Kitab Tafsir, hlm 115
[16] Faisal Saleh, terjm Manhaj al-Mufassirun, Hlm 387
[17] Faisal Saleh, terjm Manhaj al-Mufassirun, Hlm 389-390
[18] Mani’ Abd Halim Mahmud, Metodogi Tafsir, Hlm 388
[19] Faisal Saleh, terjm Manhaj al-Mufassirun, Hlm 388
[20] Husnul Hakim IMZI, Ensiklopedi Kitab-Kitab Tafsir, hlm 112-113
[21] Muhammad Husein Adz-dzahabi, Ensiklopedia Tafsir, Hlm 298-299
[22] Syadz : langka atau kurang mahsyur.
[23] Husnul Hakim IMZI, Ensiklopedi Kitab-Kitab Tafsir, hlm 114-115
[24] Muhammad Husein Adz-dzahabi, Ensiklopedia Tafsir, Hlm 301
[25] Rul-sq.blogspot.com/2013/12/tafsir-bahr-al-muhit-karya-abu-hayyan.html?m=1
[27]Mudzakir AS, Terjemah Mabahis Fi Ulumul Qur’an, Hlm 508
[28] Husnul Hakim IMZI, Ensiklopedi Kitab-Kitab Tafsir, hlm 114
[29] Husnul Hakim IMZI, Ensiklopedi Kitab-Kitab Tafsir, hlm 166

Bangtan sonyeondan



Makhluk Terbatas

  Makhluk terbatas itu kamulah salah satunya. Kekuatanmu terbatas, daya pikirmu terbatas, semua yang ada dalam dirimu dan di luar dirimu ter...