Jumat, 26 Juni 2020

Janji Palsu orang Utan



Mereka mendekati kami, dengan berbekal kaos dan makanan yang terbungkusi.
Uang-uang tak seberapa besarnya, mereka salurkan dengan mulut mengucap janji-janjinya.
Merayu kami, dengan janji, meski tak pasti, tapi kami selalu percaya diri, semerawutnya negeri ini, akan ber-revolusi, pada jalan yang lebih baik lagi.

Tapi kami tertipu...
Iya kami tertipu, termakan janji-janji palsu, aduh ada apa gerangan nasib negeriku, dikuasai oleh manusia-manusia rakus sepertimu.

Sampai seterusnya yang seperti mereka datang lagi, dengan janji-janji yang lebih menggiurkan hati, dan kami percaya kebangkitan negeri kan kembali, namun kami tertipu lagi, lagi dan lagi.

Lantas kemanakah harapan negeriku ini akau ku bawa? Hati menganga perih rasanya, aku rakyat biasa, tak bisa berbuat banyak karenanya.

Tapi aku percaya, kesejahteraan yang sesungguhnya akan tiba, beriringan dengan indahnya senja...

Jumat, 19 Juni 2020

Setitik Tinta Sejuta Makna


Hallo Dear.. 

Aku mau nawarin buku antologi "Spesial" Yang aku tulis bersama 17 penulis sahabat literasi lainnya. 

Judul buku:  Setitik Tinta Sejuta Makna

Harga Buku:  8OK + Give away masker Hijab Friendly (Selama masa  pre-order) 
& Sudah termasuk donasi kebaikan yatim piatu + dhuafa. 

Tebal Buku:  70 ++ Halaman

Penerbit:  3Media Karya

ISBN:  Masih Proses

Tentang buku: 
"Setitik Tinta dan Sejuta Makna" Adalah karya penulis yang tergabung dalam komunitas sahabat literasi. Dalam buku ini tertulis surat yang menggambarkan perasaan penulis dan bagaimana dengan manis dan apiknya penulis mencoba memberikan makna dalam setiap sentuhan karya nya".

** Dengan membeli buku ini, berati kamu sudah ikut berdonasi kebaikan yatim piatu & dhuafa yang diselenggarakan oleh team sahabat literasi dari tahun 2018.
Selengkapnya tentang sahabat literasi, bisa cek instagram @literasi.sahabat.

ThankYou 💙


#ProyekMenulis
#KelasMenulis
#SahabatLiterasi 
#KelasCerpen

Cerita tentang Kota


Hallo Dear.. 

Aku mau nawarin buku antologi "Spesial" Yang aku tulis bersama 20 penulis sahabat literasi lainnya. 

Judul buku:  Cerita Tentang Kota 

Harga Buku:  85K + Penanda buku +Give away masker Hijab Friendly (Selama masa  pre-order) 
& Sudah termasuk donasi kebaikan yatim piatu + dhuafa. 

Tebal Buku:  130 ++ Halaman

Penerbit:  3Media Karya

ISBN:  Masih Proses

Tentang buku: 
Disetiap kota pasti punya cerita, kisah dan kenangan. 20 penulis buku ini mencoba menceritakannya dalam bentuk kumpulan antologi puisi, surat, cerpen/cermin.
Mungkin saja kota kamu dijadikan cerita oleh penulis 📚
Yuk di order segera 📝💙

** Dengan membeli buku ini, berati kamu sudah ikut berdonasi kebaikan yatim piatu & dhuafa yang diselenggarakan oleh team sahabat literasi dari tahun 2018.
Selengkapnya tentang sahabat literasi, bisa cek instagram @literasi.sahabat.

ThankYou 💙


#ProyekMenulis
#KelasMenulis
#SahabatLiterasi 
#KelasCerpen

Minggu, 29 Maret 2020

Ekspedisi pelayaran James Cook



Ekspedisi Pelayaran James Cook
(Pentingnya mengkonsumsi sayur dan buah-buahan untuk menciptakan  sistem kekebalan tubuh yang kuat)

Setiap beberapa tahun, planet Venus melintas  tepat diantar matahari dan bumi. Lama perlintasan itu berbeda-beda ketika dilihat daei titik-titik yang berjauhan di permukaan bumi karena perbedaan kecil dalam sudut penglihatan pengamat. Bila beberapa pengamatan atas perlintasan yang sama dibuat di benua yang berbeda-beda, yang dibutuhkan hanyalah trigonometri sederhana untuk menghitung jarak tepat kita dari matahari. Ahli-ahli  astronomi memprediksi bahwa perlintasan Venus yang berikutnya akan terjadi pada 1761 dan 1769. Maka dikirimlah ekpedisi dari Eropa ke tempat penjuru dunia guna mengamati perlintasan itu dari sebanyak mungkin titik.

Pada 1761 para ilmuan mengamati perlintasan Venus dari Siberia, Amerika Utara, Madagaskar dan Afrika Selatan. Seiring mendekatnya perlintasan 1769, masyarakat sains Eropa menggelar upaya besar-besaran dan ilmuan-ilmuan dikirim sampai sejauh Kanada utara dan California (yang waktu itu merupakan alam liar). Royal Society of London for the Improvement of Natural Knowladge menyimpulkan bahwa itu tidaklah cukup. Guna memperoleh hasil paling akurat, seorang ahli astronomi harus dikirimkan ke Samudra Pasifik barat daya.

Royal Society memutuskan untuk mengirimkan seorang ahli astronomi terkemua, Charles Green ke Tahiti dan tidak pelit menggelintirkan upaya ataupun uang.  Namun karena ekspedisi yang dibiayai mahal sekali, tidak masuka kal jika ekspedisi itu digunakan hanya untuk satu pengamatan astronomi. Oleh karena itu,  Green disertai ti  yang terdiri atas delapan ilmuan lain dari beberapa nidang ilmu, diketuai oleh dua ahli botani, Joseph Banks dan Daniel Solander. Tim itu mencakup juga seniman-seniman yang ditugaskan membuat gambar negeri, tumbuhan, hewan dan masyarakat baru yang tentunya yang akan dijumpai para ilmuan. Dilengkapi dengan alat-alat sains paling maju yang bisa dibeli Banks dan Royal Society, ekspedisi itu ditempatkan di bawah komando kapeten James Cook, seorang pelaut berpengalaman sekaligus ahli geografi dan etnografi terkemuka.

Ekspedisi itu meninggalkan Inggris pada 1768, mengamati perlintasan Venus di Tahiti pada 1769, menjelajahi beberapa kepulan Pasifik, mengunjungi Australia dan Selandia Baru dan kembali ke Inggris pada tahun 1771. Ekspedisi itu membawa pulang banyak sekali data astronomi, geografi, meteorologi, botani, zoologi dan antropologi. Temuan-temuannya memberikan sumbangan besar bagi sejumlah bidang ilmu, menyulut imajinasi orang-orang Eropa dengan kisah-kisah menkjubkan tentang Pasifik Selatan dan mengilhami generasi-generasi ahli alam dan astronomi berikutnya.

Salah satu bidang yang memperoleh manfaat dari ekspedisi Cook adalah kedokteran. Kali itu, kapal-kapal yang berlayar ke negeri-negeri jauh tahu bahwa lebih daripada separo awak kapal akan mati dalam perjalanan. Musuh bebuyutan mereka bukanlah penduduk setempat yang marah, kapal perang musuh, atau rindu kampung halaman. Musuh mereka adalah penyakit misterius bernama Skorbut. Orang-orang yang terserang penyakit itu menjadi lesu dan depresi dan gusi serta jaringan lunak mereka berdarah. Seiring berlanjutnya penyakit itu, gigi mereka rontok, muncul luka lepuh terbuka dan mereka menderita demam, sakit kuning dan kehilangan kendali atas anggota tubuh.

Antara abad ke 16 dan ke-18, skorbut diperkirakan merenggut nyawa sekitar dua juta pelaut. Tidak ada yang tahu apa yang menyebabkannya dan tak peduli obat apapun yang dicoba, para pelaut terus mati dalam jumlah besar. Titik balik terjadi pada 1747, ketika seorang dokter Britania, James Lind, melakukan percobaan terkontrol terhadap sejumlah pelaut yang menderita penyakit tersebut. Dia memisahkan mereka menjadi beberapa kelompok dan memberi masing-masing kelompok perlakuan berbeda. Satu kelompok uji diperintahkan memakan buah jeruk, obat trdsisional yang umum diberikan untuk Skorbut. Pasien-pasien dalam kelompok ini dengan cepat pulih. Lind tidak tahu kandungan apa dalam buah jeruk yang kurang di tubuh para pelaut, tapi kita sekarang tahu kandungan itu adalah vitamin C. diet tipikal dalam pelayaran saat itu sangat kekurangan makanan yang kaya vitamin penting. Dalam pelayaran jangka panjang, pelaut biasanya bertahan hidup dengan memakan biskuit dan dendeng, dan nyaris tidak memakan buah atau sayur.

Royal Navy tidak teryakinkan oleh percobaan-percobaan Lind, namun James Cook yakin. Dia memutuskan untuk membuktikan bahwa sang dokter benar. Dia memuat kapalnya dengan Sauerkraut (acar kol) dalam jumlah besar dan memerintahkan para pelautnya untuk memakan banyak buah dan sayur kapanpun ekspedisi itu merapat ke darat. Cook tidak kehilangan seorangpun pelaut akibat Skorbut. Dalam dasawrsa-dasawarsa berikutnya, semua angkatan laut di dunia memakai diet pelayaran Cook dan tak terhitung banyaknya nyawa pelaut dan penumpang yang terselamatkan.

Yuval Noah Harari, Sapiens Riwayat singkat Umat Manusia.

Penyakit Skorbut: Efek lesu, depresi dan gusi serta jaringan lunak berdarah. Seiring berlanjutnya penyakit itu, gigi mereka rontok, muncul luka lepuh terbuka dan mereka menderita demam, sakit kuning dan kehilangan kendali atas anggota tubuh.

Setalah kita pahami, ternyata penyakit Skorbut ini sangat mengerikan sekali. Orang-orang tanpa Sains pasti akan mengatakan bahwa itu adalah azab Tuhan. padahal penyakit juga di timbulkan oleh manusia itu sendiri, ketika pola hidup menjadi tidak seimbang dan tidak sehat.  Waallhu A’lam

Kamis, 26 September 2019

AKSI MATI




Aksi mati...
Suara berteriak lantang
Tapi mati seketika, dihantam mulut pejabat yang menantang.
Aksi mati...
Protes rakyat, dianggap sangat menghambat kepentingan pejabat
Aksi mati...
Berjatuhan korban, tak membuka hati pejabat yang haus kekuasaan
Aksi mati...
Suara rakyat seakan sirna.
Mengkritisi dianggap melancarkan kudeta.
Aksi ribuan mahasiswa menurutnya hanyalah nostalgia.

Mereka bukan wakil rakyat,
Mereka hanya pejabat yang tidur di kursi rapat penuh laknat.
Berlagak bak Pahlawan,
Padahal mereka-mereka punya satu Tujuan,
Memberantas suara-suara yang mengganggu kepentingan.

Dan saya ucapkan Selamat datang REFORMASI YANG DIKORUPSI.


Untukmu  dari hati yang remuk, melihat Indonesia diwakili oleh manusia-manusia yang suka mengamuk di kursi Dewan tak bertuan.
(Fitriyah Syam'un)

Kamis, 13 Juni 2019

Curug, Kita harus Menikmati Perubahan-kan?


Curug, dengan tanah-tanah yang menjulang tinggi, membentuk bukit-bukit yang tak kalah indah, sawah-sawah dan tumbuh-tumbuhan lainnya membentang hijau, di sambut embun pagi yang membasahi setiap dedaunannya,  burung-burung pipit berkicau meramaikan hari, terbang kesana-kemari dengan bebas.

Curug bukanlah tempat yang ramai oleh hiruk pikuk dunia, bukan tempat yang ramai dengan suara knalpot dan klaskson di jalan, bukan tempat dengan tanah yang diatasnya berdiri gedung-gedung pencakar langit. Tapi Curug hanyalah sebuah tempat yang merupakan kampung terpencil, yang masih dirimbuni pohon-pohon yang menjulang tinggi nan hijau, dengan suara gemercik sungai di pagi hari dan suara-suara alam yang masih melantang.

Binatang-binatang liar masih banyak berkeliaran di jalan-jalan. jika malam tiba, suara-suara penghuni rumah masih terdengar jelas oleh siapapun yang melintasinya. Suara anak-anak amat ramai di malam hari, mereka tidak pernah bosan untuk bermain lagi selepas melaksanakan solat Isya berjamaah di Mushola dan para orang tua-pun tak melarang anak-anak mereka. suara-suara manusia beradu dengan suara-suara jangkrik di malam hari dan tak lupa langit malam menjadi saksi dengan sinar bulan dan ribuan bintangnya. 

Tapi atmosfer abad 20 kini kian memudar, Suasana di atas sudah jarang sekali ditemukan oleh manusia-manusia yang lahir atau hidup di abad ke 21 Masehi, karena proses perjalanan waktu itulah semua perlahan-lahan telah menghilang dan lenyap, berubah menjadi sesuatu yang teramat baru dan asing.

Abad 20 telah pergi 19 tahun yang lalu, menitipkan kehidupan pada abad ke 21. 19 tahun yang sudah banyak perubahan untuk Curug, tidak membutuhkan waktu lama, diabad 21, manusia berbondong-bondong membawa alat besar dengan kerukan besar di depannnya. Bukit-bukit yang dimiliki abad 20, kini telah hilang, menyisakan waduk yang menelan banyak korban. Kehijauan yang dimiliki abad 20 juga telah berganti dengan atap atap rumah yang menyilaukan.

Untukmu tanah kelahiranku, yang membesarkanku dengan tanganmu, yang membahagiakanku dengan jiwamu, ini aku yang lahir di akhir abad 20 dan menginjakkan kaki di abad 21. Aku menyaksikan perubahan yang besar, aku menyaksikan anak-anak yang tidak lagi memilih bermain dengan alam, tetapi memilih bermain dengan alat-alat buatan tangan-tangan manusia. aku menyaksikan bukit-bukitmu dikeruk tanpa ampun, aku menyaksikan pohon-pohon yang mulai mencoklat dedaunannya karena polusi pabrik yang semakin menggila. Aku menyaksikan sungai-sungai yang dulu pernah aku ajak bersenang-senang pada awal-awal abad 21 telah keruh dan tertimbun tanah gususan. Aku harap bumi ini selalu tenang dan sabar, seperti sabarnya Tuhan yang telah menciptakan.

Curug, Biarlah, kita harus menikmati perubahan, bukan?

Minggu, 09 Juni 2019

Wiji Thukul: Jasad Hilang Nama Terang



Wiji Thukul dengan nama asli Wiji Widodo, dengan berbagai macam nama penyamaran karena langkah kakinya menjadi buronan pada masa era Soeharto. Soeharto menyebut para aktivis-aktivis yang menentang kebijakannya sebagai Setan Gundul. Saya tertarik untuk menulis tentang salah satu aktivis yang hilang pada masa Orba (Orde Baru), karena hilangnya Wiji Thukul sampai saat ini masih menjadi sebuah teka teki. Rupanya pergantian era orde baru ke era Reformasi tidak mengubah keadaan dan tidak mampu memecahkan teka teki tersebut, karena pemerintah rupanya begitu getol menutupi dosa-dosa era Orde Baru. Saya tidak kenal betul dengan sosok Wiji Thukul, bahkan bisa dikatakan tidak tahu sama sekali tentang sosoknya. Pada tahun-tahun pergolakan Indonesia menuju era reformasi, saya masihlah seorang anak kecil, yang bahkan tidak mengenal siapa Presiden kala itu.

Beberapa bulan belakangan ini, saya memang sedang tertarik dengan sejarah tahun 1998, atau lebih tepatnya sejarah pada masa era kekuasaan Soeharto. Dalam sejarah disebutkan ternyata pada masa Soeharto, kebebasan benar-benar sangat terbatas, berbeda dengan masa kini. Jadi hal tersebut bisa menjadi rasa syukur kita atas kebebasan yang ada di tengah perpecahan rakyat Indonesia saat ini. Wiji Thukul dikatakan sebagai seorang penyair, syair-syairnya perlahan-lahan mulai merambat pada perlawanan terhadap kebijakan pemerintah pada kala itu. sebelumnya saya yang baru saja selesai membaca buku Emha Ainun Nadjib ‘Pemimpin yang Tuhan’, di lembar-lembar terakhir buku tersebut, cak Nun menceritakan bahwa puisi-puisi pada masa Orde Baru harus melalui revisi-revisi dari kepolisian. Dan rupanya Wiji Thukul ini, menulis dan membacakan puisi-puisinya tanpa beban revisian, menurutnya Puisi adalah bentuk pengekspresian terhadap kondisi disekitarnya. Itulah yang menjadi alasan saya ingin sedikit saja menulis tentang Wiji Thukul atau lebih tepatnya menulis tentang Puisinya yang telah membuat gentar penguasa saat itu. salah satu puisi yang saya baca dari buku yang berjudul ‘Wiji Thukul, Teka-Teki Orang Hilang’. Puisi yang penuh dengan corak pergerakan dan perlawanan yang berjudul
‘’PERINGATAN’’:
Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat sembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat tidak berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata ‘LAWAN’.

Tulisan ini sama sekali bukan atas dasar unsur kebencian, saya meyakini sejarah selalu menjadi pembelajaran untuk masa depan Indonesia yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat tanpa perbedaan...

Makhluk Terbatas

  Makhluk terbatas itu kamulah salah satunya. Kekuatanmu terbatas, daya pikirmu terbatas, semua yang ada dalam dirimu dan di luar dirimu ter...