Sabtu, 25 Februari 2023

Abu Nawas dan Syair Penyesalan Dosa

 


Siapa yang tidak mengenal Abu Nawas, seorang tokoh central Islam dalam bidang Tasawuf, Sastra dan seorang yang sangat cerdas dan jenaka. Seorang dengan nama asli Hasan ini merupakan penyair dengan bakat yang besar, jangkauandan variasi puisinya luas, memiliki cakrawala pengetahuan yang luas, hafal al-Qur’an dan Hadis, seorang yang dermawan bahkan karena kedermawanannya ini beliau hidup miskin.

Namun dalam sejarahnya dikatakan bawha Abu Nawas dikenal publik sebagai seorang yang bejat dan tidak bermoral karena puisi-puisinya yang menggambarkan tentang homo, penikmat seks, penggila anggur, pemuja Iblis, antipati terhadap agama dan metafora-metafora lain yang amoral. Namun apakah benar Abu Nawas seseorang yang seperti ditulis dalam pusinya ataukah itu hanya metafora yang Abu Nawas cipta untuk mengkritk praktik agama para pembesar pemerintahan kala itu.

Karena dalam banyak syairnya juga Abu Nawas menuliskan syair-syair yang penuh dengan nilai-nilai batiniah Islam, karena hal inilah Abu Nawas dikategorikan sebagai seorang sufi yang mempraktikan tasawuf secara nyata di tengah-tengah kehidupan sosial.

Abu Nawas dikenal dekat dengan penguasa kala itu, meskipun beberapakali pernah dipenjara olehnya. Abu Nawas juga dikenal oleh parapenguasa sebagai Problem Solver untuk pihak istana yaitu ketika warganya datang ke istana raja dan meminta solusi atas permasalahan mereka, dan ketika raja tidak menemukan solusi atas permasalahan tersebut, Abu Nawas menjadi orang pertama yang dipanggil ke Istana.

Dalam syairnya Abu Nawas mengkritisi pemerintah tetapi di sisi lain ia memuji para pemimpin dengan syair-syair indahnya. Dalam syairnya Abu Nawas mengkritisi orang-orang yang sholat dan memuji orang-orang yang mabuk, tapi di sisi lain ia merendahkan dirinya sendiri karena dosa-dosanya.

Tenggaklah anggur,meski dilarang

Karena Allah mengampuni bahkan dosa yang besar

Bintang keberuntungan telah terbit malam ini

Ketika seorang pemabuk menyerang pemabuk yang lain

Kami melewatkan waktu untuk bersujud kepada iblis

Hingga para biarawan membunyikan lonceng saat fajar

Dan seorang pemuda pergi, menyeret jubah yang menyenangkan

Yang telah kunodai dengan perilaku-ku yang jahat

Khalifah Harun ar-Rasyid pernah memerintahkan Abu Nawas untuk menjadi tenaga pendidik di Persia. Ia terkenal sebagai guru agama yang jenaka dan sangat humoris. Penjelasannya luas dan segar, sebab ucapan-ucapannya senantiasa puitis. Di luar kelas, Abu nawas  menulis puisi-puisi yang kontroversial, kritis terhadap pembesar dan kondisi masyarakat, namun dengan nada yang jenaka. Meski banyak yang mencemooh Abu Nawas karena syair-syair yang ditulisnya, namun rasa kagus dan cinta para murid kepadanya tidak berkurang.

Abu Nawas dikenal sebagai orang yang toleran dalam beragama, ia bahkan mengajak penganut Yahudi dan Nasrani untuk memperthankan keyakinannya agar bisa menjalankan agama dengan baik sesuai dengan panduan agamanya masing-masing. Meski begitu Abu Nawas merupakan seorang muslim yang tak tergoyahkan, meskupun banyak pandangan-pandangan tidak baik pada dirinya disebabkan syair-syair yang ditorehkannya.

Seseorang yang dihormati Abu Nawas yang bernama Syekh Zakariyah al-Qusyairi pernah memprotes kepada Abu Nawas, karena tidak menemukan satu mushafpun di rumah Abu Nawas. namun sang penyairpun hanya menjawab tenang “ terang (al-Qur’an) dan gelap (diri Abu Nawas) bukanlah teman sekamar.”

 Selain terkenal dengan puisi anggurnya, Abu Nawas juga sering membuat syair untuk dirinya sendiri atau biasa disebut dengan Puisi Kemusnahan Diri yang paling fasih dan indah sepanjang kesusastraan Abbasiyah. Puisi ratapan ini ditulis ketika Abu Nawas terbaring sakit.

Kemusnahan telah merayapi bagian bawah dan atas diriku

Kulihat anggota tubuhku sekarat satu demi satu

Tidak ada satu jam pun kulewati kecuali demikian kurasa

Ia mengurangi bagian diriku sepintas lalu

Seiring kekuatanku berkurang, berkurang pula ketaatanku

Kini kuingat semuanya

Ketika sujud kepada Tuhan dalam keadaan kurus lemah

Betapa kusesali malam-malam itu

Dihabiskan dalam hiburan dan main-main

Kini telah melakukan setiap perbuatan jahat

Semoga Allah memaafkan dan memberi kita pengampunan.

Di akhir hidupnya, Abu Nawas menulis banyak puisi Zuhdiyat. Hal ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa di akhir-akhir hidupnya ia bertaubat dari kehidupannya yang bergelimang lumpur dunia. Meskipun apakah benar Abu Nawas di masa lalunya adalah seorang peminum dan penjilat penguasa. Tidak ada yang memastikan kebenaran sejarah tersebut, meskipun selalu dinarasikan bahwa Abu Nawas adalah seorang peminum berat dan melakukan perbuatan-perbuatan bejad lainnya.

Apa yang akan menjadi pembelaanku

Terhadap segala yang telah aku lakukan?

Apa yang akan aku katakan pada Tuhanku?

Alasan apa yang akan menjadi milikku

Yang hidup tiada mencari kebenaran

Atau merangkul kebaikan yang akan kutinggalkan?

Duhai kesengsaraan saat kembaliku

Betapa kasihanapa yang telah hilang dari hidupku!

Abu Nawas memang tidak memiliki karya besar seperti imam Ghazali dengan Ihya’ Ulumuddin, atau Ibnu Arabi dengan Fushush al-Hikam, atau Jalaluddin Rumi dengan Matsnawi, atau Ibnu Atha’illah as-Sakandari dengan al-Hikam. Abu Nawas mewariskan kesufiannya bukan dalam bentuk kitab, melainkan dalam bentuk anekdot dan syair-syairnya. Salah satu syair termahsyurnya sampai saat ini adalah syair al-I’tiraf.

Ada dua pendapat mengenai lahirnya syair al-I’tiraf ini. ada yang mengatakan bahwa aslah seorang murid Abu Nawas yang bertanya bagaimana cara merayu Tuhan, lalu Abu Nawas menyodorkan syairnya. Namun ada pula yang mengatakan bahwa syair ini ditulis oleh Abu Nawas setelah beliau bermimpi, dalam mimpinya Abu Nawas dinasihati oleh seseorang yang berkata kepadanya, “jika engkau tidak mampu menjadi garam yang bisa melezatkan makanan, setidaknya jangan menjadi lalat yang membuat jijik dan merusak makanan.”

Setelah itu Abu Nawas langsung terbangun dan menangis histeris. Ia menyesali hidupnya yang telah ia sia-siakan. Puisi-puisi yang diciptakannya praktis berubah menjadi untaian dzikir dan doa. Dan salah satunya syair al-I’tirof ini:

Wahai Tuhanku, aku bukanlah ahli Surga Firdaus

Dan aku tidak kuat menahan siksa Neraka jahim

Maka terimalah taubatku dan ampunilah dosa-dosaku

Sesungguhnya engkau Pengampun dosa-dosa yang besar

Dosa-dosaku bak bilangan pasir

Maka terimalah taubatku, wahai Tuhan yang maha agung

Umurku berkurang setiap hari, sedang dosaku kian bertambah

Bagaimanakah aku menanggungnya?

Wahai Tuhan, hambamu yang penuh maksiat datang menghadapmu

Mengakui segala dosa dan berdoa kepadamu dengan sungguh-sungguh

Bila engkau mengampuninya, sungguh engkau memang maha pengampun

Dan bila engkau menolaknya, maka kepada siapa lagi

Aku berharap selain kepadamu?

Ketika masa di saat Abu Nawas  wafat, kawannya yang bernama Ibnu Khalikan tidak mengetahui kabar tersebut karena ia sedang tidur. Di dalam tidurnya ia bermimpi bertemu Abu Nawas. Ibnu Khalikan bertanya, “wahai Abu Nawas, apa balasan Allah terhadapmu?” Abu Nawas menjawab “Allah mengampuni dosaku karena beberapa bait syair yang kutulis saat sakit sebelum wafat. Syair itu kusimpan di bawah tempat tidurku.”

Ketika terbangun, Ibnu Khalikan langsung mendatangi kediaman keluarga Abu Nawas. Sesampainya di sana, ia benar-benar tak menyangka, rupanya sang teman telah meninggal dunia. Orang-orang berkumpul memandikan jenazahnya. Kemudian Ibnu Khalikan menuturkan mimpinya kepada keluarga Abu Nawas dan meminta izizn untuk menggeledah kamar Abu Nawas. Ternyata benar, ia menemukan secarik kertas berisi syair di bawah tempat tidur Abu Nawas. Ia membaca dengan seksama syair itu dan tak terasa ia menangis, berikut syair terakhir Abu Nawas tersebut:

Ya Allah jika dosaku sangat besar

Aku tahu, ampunan-mu amatlah besar

Jika tidak boleh berharap kepada-mu kecuali orang-orang baik

Lalu kepada siapa lagi si pendosa ini akan berharap?

Aku telah memohon kepada-mu dengan sikap hormat

Sebagaimana yang telah engkau perintahkan

Maka jika engkau menolak tanganku ini

Lalu siapa lagi yang akan mengasihiku?

Tak ada pada diriku tali penyambung

Antara aku dan engkau kecuali harapan

Maka demi keagungan ampunan-mu

Aku pun kepada-mu berserah diri.

Dalam sejarahnya konon Imam Syafi’i pernah berguru hadist kepada Abu Nawas, namun saat kewafatan Abu Nawas, Imam Syafi’i menolak untuk menshalati jenazah gurunya itu karena layaknya pandangan orang pada umumnya, Abu Nawas dipandang sebagai orang yang Zindiq, Bahkan Kafir. Dan dalam fiqh, Hukum menshalati orang kafir adalah haram. Lantas  Ibnu Khalikan mendekati Imam Syafi’i dan menceritakan mimpinya. Kemudian ia memberikan secarik kertas berisi puisi tersebut. Seketika, Imam Syafi’i menangis sejadi-jadinya, begitu juga beberapa orang yang hadir. Kemudian Imam Syafi’i mengajak orang-orang yang hadir untuk menshalati jenazah Abu Nawas dan Imam Syafi’i menjadi imamnya.

Abu Nawas pergi dengan meninggalkan syair-syair Master piecenya, syair penyesalan dosa-dosa masa lalunya menggugah para penikmat lembar-lembar sejarah. Perjalanan hidupnya yang jenaka membawa napas segar dalam dunia Tasawuf dan kesusatraan. Semoga ampunan dan rahmat Tuhan selalu menyelimutimu wahai Abu Ali al-Hasan bin Hani’al-Hakami. . .

 


BANJIR BAGIAN DARI INDONESIA by Ani Maftiyah (Kelas X IPS Al-Bustaniyah)

 


Siapa yang tidak kenal dengan bencana banjir?

Banjir di Indonesia sudah seperti perayaan, yang setiap tahun ada. Banjir tidak boleh dibiarkan menjadi ritual tahunan dari tahun ke tahun, bukannya berkurang melainkan malah bertambah parah. Kawasan yang terendam banjir makin meluas karena sekarang diperkirakan tidak kurang 70 % wilayah sekitar mengalami banjir. Banjir adalah peristiwa yang terjadi ketika aliran air yang berlebihan sehingga merendam daratan (seringnya curah hujan).

Adapun penyebab banjir  terjadi yaitu penyumbatan aliran sungai yang disebabkan membuang sampah di sungai sembarangan. bisa juga karena penggundulan hutan yang dilakukan oleh ulah tangan manusia yang berpikir singkat tanpa berpikir efek ke depannya bagaimana, tindakan tersebut berupa penebangan hutan yang tidak menggunakan sistem tebang pilih, akibatnya tidak ada pohon menyerap air sehingga air mengalir tanpa terkendali.

Dampak yang ditimbulkan dari banjir dapat menimbulkan korban jiwa , rusaknya sarana dan prasarana, dan timbulnya berbagai macam penyakit.

Mari kita sama-sama menanggulangi bencana banjir dengan menghilangkan kebiasaan membuang sampah sembarangan dan mari kita menghijaukan negara INDONESIA ini.


Kamis, 11 Maret 2021

Lingkaran Amarah

 

Untuk kamu yang sedang dilingkari Amarah

Kamu pasti tidak akan membaca ini saat marah, iya kan? tapi kamu pasti membaca ini. karena pada dasarnya tulisan ini adalah kamu sendiri yang menulisnya. Aku yang selalu tau perkembanganmu, aku yang selalu tau bagaimana kamu berusaha untuk merubah sikapmu ketika kamu dilingkari perasaan marah, aku tau kamu berusaha yang terbaik ketika kamu sedang marah, agar tidak ada apapun atau siapapun yang dirugikan. Dan aku bangga padamu.!

Aku mengalami kengerian luar biasa, saat banyak orang-orang diluaran sana tidak bisa mengontrol emosi mereka, sehingga mengakibatkan pembunuhan dan kekerasan yang pada akhirnya mengguncang mental orang-orang terdekat mereka. kerugiannya bahkan tidak hanya pada saat itu, justru itu akan menjadi kerugian orang-orang terdekatnya sepanjang hidup yang mereka jalani. Dan kamu belajar, kamu telah belajar dan berusaha untuk tidak selalu merusak apapun ketika kamu marah. Merusak dirimu, merusak mental orang-orang sekitarmu, dan merusak barang-barang di sekitarmu.

Aku tidak akan menyalahkan siapapun atas sikap amarah yang dulu tidak pernah bisa kamu kendalikan. Tapi hal terpenting saat ini adalah kamu mau berubah, kamu mau berusaha dengan perlahan tapi pasti dan kamu tidak diam pasrah menyalahkan orang lain atas sikap buruk yang pernah kamu lakukan ketika kamu marah.

Beberapa orang mengatakan bahwa manusia adalah produksi dari lingkungan tempat ia tinggal dan tumbuh, dan itu benar meskipun tidak 100 %, karena pada dasarnya manusia tetap bisa memilih dan terus belajar ketika dirinya berada dalam lingkaran yang sangat merugikan dirinya dan orang-orang terdekatnya. Seburuk apapun, sejelek apapun, sejahat apapun lingkungan kamu dan pendidikan rumahmu, kamu masih selalu miliki kesempatan untuk keluar dan menemukan, menciptakan lingkungan-lingkungan baru yang lebih baik lagi untuk orang-orang generasi setelah kamu.

Terimakasih ya, kamu mau belajar untuk perlahan-lahan bisa mengendalikan marahmu. Pengalaman yang kamu jalani, harus aku akui telah mendewasakan cara berfikirmu, mendewasakan caramu dalam mengendalaikan masalah-masalah apapun yang kamu hadapi. Terimakasih untuk tidak selalu menyalahkan lingkungan kamu tumbuh, karena menyalahkan siapapun atau apapun bukanlah solusi untuk kamu bisa menjadi lebih baik. Dan kamu telah melakukan itu, melakukan dengan sekuat tenaga agar kamu bisa menerima apa yang pernah kamu alami di masa lalu.

Teruslah berusaha untuk semua apa yang memang harus kamu lakukan, bukan apa yang orang lain ingin lakukan terhadapmu. Apapun pilihan kamu, aku akan selalu berada dalam diri kamu, mendukungmu untuk seluruh kebaikan yang ingin kamu ciptakan dan sebarkan. Dan untuk mimpi-mimpimu, aku selalu mendoakan  dalam kesunyian dan keheningan hatimu, di sini aku mengetuk pintu langit untuk semua kebaikan dan keberkahan pada hari-hari yang kamu jalani.

 @Fitriyah Syam'un

Rabu, 13 Januari 2021

SIAPA MENYURUH (GUS MUS)

 


Siapa menyuruh kalian mengangkat para pemabuk kekuasaan dan harta menjadi pemimpin?

Siapa menyuruh kalian memilih para gelandangan menjadi wakil-wakil kalian?

Siapa menyuruh kalian menyerahkan nasib demokrasi negeri ini kepada orang-orang yang frustasi yang tidak bermoral?

Siapa menyuruh kalian menunjuk orang-orang miring untuk menegakkan keadilan?

Siapa menyuruh kalian menugasi para pencuri mengangani urusan ekonomi?

Siapa mengamanatkan urusan agama kepada mereka yang tak memilki rasa kasih sayang?

Siapa menyuruh kalian mempercayakan negeri ini kepada para badut yang tak tahu diri?

Kalian sendiri menggiring berlapis-lapis gelap mengepung negeri kalian sendiri.

(salah satu puisi Gus Mus dalam bukunya 'Negeri Daging')


Rabu, 30 Desember 2020

Tahun Berganti lagi

 


Tidak ada mimpi yang terkubur

Meski jarak dengannya semakin kabur.

Selama nafas masih menghirup udara

Tak akan aku biarkan terkadku diserbu nestapa.

Tahun-tahun terlewati

Semangat tak boleh henti

Usaha tak boleh mati.

Jangan menyerah, meski lelah.

Jangan mengeluh. Meski dihujani peluh.

Dan bergeraklah, berjuanglah.

Sampai tidak ada yang bisa menghentikanmu

Kecuali batas waktu.

Hari-hari yang kita lewati tidak ada yang benar-benar sempurna membuatmu selalu berada dalam fase bahagia. Ada masa dimana kita harus jatuh, kita harus sakit, kita harus bersedih, kita harus gagal, kita harus bertemu dengan orang yang salah, kita harus menangis, kita harus merasa tertekan, kita harus merasa tidak percaya diri dan akhirnya kita sampai pada titik dimana kita merasa  bukanlah siapa-siapa, sehingga lahir sebuah pemikiran bahwa kita memang terlahir tidak  seperti orang-orang yang sudah bisa mencapai semua harapan dan mimpinya.

Desember menjadi penutup untuk hari-hari yang kita jalani pada tahun 2020. Segalanya telah terlewati, kesalahan tetaplah jadikan sebuah pelajaran. harapan-harapan teruslah upayakan untuk kamu gapai,dan apapun yang sudah kamu raih tahun ini jadikan sebuah rasa syukur yang tak terbantahkan. Teruslah berjalan atau duduklah sebentar di sini, sambil menunggu tahun ini menutup harinya, siapkan apapun yang bisa membuatmu kuat menjalani hari-hari berikutnya. Tidak apa jika mimpi-mimpimu lagi-lagi tertunda untuk kamu raih, teruslah berusaha, teruslah bergerak dan jangan bosan untuk tetap mengetuk pintu langit.

Semoga harapan-harapan dan mimpimu cepat lambat akan datang memeluk dan membawamu..!

(Fitriyah Syam'un)

Selasa, 01 Desember 2020

Man's Search for Meaning (Dr Viktor E. Frankl)


Di penghujung bulan akhir tahun ini saya  mengenal salah satu buku mlilik Dr Viktor E. Frankl yang merupakan seorang Psikiater terkemuka dari Eropa. Yang mana beliau juga pernah berada di empat kamp kematian Nazi antara tahun 1942-1945. Dan dalam buku ini beliau menceritakan pahit getirnya berada di kamp tersebut, tentang keberuntungan-keberuntungannya, tentang harapannya yang terkadang harus maju mundur, tentang dirinya dan tawanan-tawanan lain yang juga bertarung untuk bisa menerima penderitaannya.

Saya sampai bingung harus mengatakan apa tentang buku ini, kalimat-kalimat dalam ceritanya sangat memotivasi untuk siapapun yang sedang merasa menjadi manusia paling menderita, merasa menjadi manusia paling menyedihkan atau menjadi manusia yang paling sangat tidak beruntung. Sejatinya selama keyakinan itu masih hidup di batin kita, harapan untuk terus melangkah itu akan selalu ada, tidak peduli penderitaan atau situasi apapun yang sedang kita hadapi. Seperti yang dikatakan dalam bukunya bahwa kita harus bisa melakukan apapun di dalam situasi hidup yang bagaimanapun.

Dalam bukunya juga beliau mengatakan bahwa kita harus tau tentang alasan kita untuk hidup agar kita bisa menghadapi bagaimana-bagaimana ke depannya nanti. Kita memang tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi dalam hidup kita, tapi kita bisa mengendalikan rasa dan cara kita dalam menghadapi hal tersebut. Kita tidak bisa menolak kesedihan, kita tidak bisa menolak apapun yang sudah ditakdirkan dalam hidup kita, tapi kita bisa mengubah cara pandang dan sikap kita dalam menghadapi kesedihan itu. semua kembali pada diri kita, karena kita punya potensi untuk menentukan cara bersikap dan berfikir kita dalam menghadapi kehidupan. Penderitaan, rasa bersalah dan kematian, sering sekali menghantui kita, tapi ketiga hal tersebut seharusnya mampu menjadi sebuah kesempatan untuk menjadikan diri kita lebih berhasil, lebih belajar untuk menjadi baik dari hari ke hari dan lebih membuat kita menjadi manusia yang bertanggung jawab pada hidup yang tidak kekal.

Dalam buku Dr Viktor ini, kita diajak agar selalu berfikir positif untuk bisa menemukan makna hidup pada situasi dan kondisi apapun. Jangan pernah menyerah, jangan kalah hanya  kerena penderitaan, jangan hancur dikarenakan oleh diri sendiri. Karena kita bisa menentukan untuk memilih cara yang lebih baik dalam menanggapi masalah tersulit dalam hidup.

Kurang lebih itulah sebagian pelajaran yang bisa saya ambil dari buku beliau, saya tidak menuliskannya semua di sini, karena kalian harus mencobanya sendiri untuk membacanya. Dan sebelumnya, ada salah satu cerita beliau yang sangat menyentuh hati saya pribadi, ketika beberapa hari setelah pembebesan beliau  dari kamp Nazi, beliau berjalan menelusuri desa yang ditumbuhi banyak bunga-bunga dan beliau mendengarkan banyak kicauan burung. Tidak ada apapun kecuali bumi dan hamparan langit, pada saat itu beliau berhenti dan menatap sekelilingnya kemudian menengadah ke angkasa dan akhirnya berlutut. Kemudian beliau berucap “Saya memanggil Tuhan dari penjara saya yang sempit dan Dia menjawab saya di kebebasan ruang”, dan beliau sampai tidak ingat berapa lama berlutut dan mengulang-ulang kalimat tersebut. Dari cerita ini, saya seolah terbawa arus kebahagiaan beliau yang tiada tara karena bisa melihat dunia kembali dengan penuh kebebasan.

Cukup sekian review buku ini, saya tidak boleh berlama-lama untuk menuliskannya, karena “Dunia tengah berada dalam kondisi Buruk, tetapi akan tetap memburuk, kecuali masing-masing dari diri kita melakukan yang terbaik” (Dr Viktor E. Frankl)

 

Minggu, 15 November 2020

Ia yang terlahir membawa Rahim, dan yang Rahim (Penyayang)

 


Ada kisah menarik yang aku temukan dari buku Mark Manson, The Subtle Art of not Giving a F*ck, dengan judul bahasa Indonesia Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat. Kurang lebih seperti ini kisahnya, ketika pada tahun 2008 Taliban mengambil kendali lembah Swat, mereka segera melaksanakan agenda ekstremis mereka, dengan salah satu agendanya yaitu meniadakan wanita yang berada di luar rumah tanpa didampingi pria dan meniadakan anak perempuan untuk pergi ke sekolah. Pada tahun 2009, ada seorang gadis Pakistan berusia 11 tahun bernama Malala Yousafzai mulai bersuara untuk melawan larangan beresekolah bagi anak perempuan dan Malala memutuskan untuk tetap pergi bersekolah dan mempertaruhkan hidupnya sendiri dan nyawa ayahnya, ia juga mengikuti pertemuan-pertemuan di kota-kota terdekat, bahkan ia menulis secara online tentang taliban “beraninya Taliban merampas hak saya untuk mendapatkan pendidikan!” seiring berjalannya waktu saat Malala berusia 14 tahun tepatnya pada 2012, di suatu hari ia ditembak tepat di wajahnya saat naik bis dari rumah menuju sekolah. Ketika itu ada seorang tentara Taliban bertobeng membawa senjata menaiki bis dan berteriak “Mana Malala? Katakan atau kutembak semua penumpang di bis ini”. Kemudian Malala menunjukan dirinya, lalu tentara itu menembaknya di kepala di depan semua penumpang bis tersebut. Tapi bersyukur Malala hanya mengalami koma dan masih hidup. Bahkan beberapa tahun kemudian, ia masih berbicara dengan lantang melawan kekerasan dan tekanan terhadap para kaum perempun di berbagai negara.

Taliban dan Afghanistan. Menggunakan Islam sebagai dalil dalam menekan para perempuan, merampas hak-hak perempuan.

Ketika budaya-budaya patriarki itu makin menjamur, perempuan harus menjadi lebih tangguh tapi tetap teduh, kuat tapi tetap bersahabat. Karena perempuan banyak mengemban amanah dari Tuhan, untuk menjadi manusia yang melahirkan anak-anak, dari mulai mengandung sampai sembilan bulan membawanya kesana kemari, harus merasakan sakitnya melahirkan dan kemudian menyusui sampai dua tahun.

Di tengah kesibukan perempuan menjadi seorang ibu, ia  dituntut oleh budaya agar bisa menjadi istri yang baik versi budaya dengan bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah, memasak, menyapu, mengepel dan lain sebagainya. bahkan tidak jarang perempuan sering dilarang untuk menempuh pendidikan tinggi-tinggi, dengan alasan pendidikan perempuan tidak boleh mengungguli laki-laki, atau seperti kisah di atas, perempuan di kunci rapat-rapat di dalam rumahnya dan hanya berkutat dengan urusan domestik. Budaya patriarki seakan merampas hak-haknya, membuatmu dan menjadikanmu hanya berkutat soal dapur, sumur dan kasur.

Pada satu waktu saya pernah menelusuri sejarah perjalanan perempuan pada setiap masa, ternyata perempuan sering mendapat perlakuan yang tidak menguntungkan. perempuan bahkan dianggap oleh salah satu agama sebagai penyebab terusirnya Adam dari surga, sehingga dalam hal apapun perempuan  sering menjadi sebuah masalah dan dipermasalahkan. Mereka yang menganggap lemah dirinya, mereka yang menganggap remeh dirinya, mereka yang menganggap bahwa perempuan hanyalah pelayan untuk kehidupan laki-laki, mereka yang menganggap perempuan tidak boleh menempuh pendidikan tinggi-tinggi, aku yakin mereka hanya sedang menuruti keegoisannya saja, bahkan Tak jarang mereka  membawa dalil-dalil agama untuk membenarkan bahwa perempuan itu memang seperti apa yang mereka pikirkan, menganggapnya bahwa laki-laki dalam penciptaannya lebih unggul dari perempuan.

(Sumber: Buku Antologi Setintik Tinta Sejuta Makna, yang diterbitkan Sahabat Literasi. Salah satu tulisan Bird Pipit yang berjudul Untuk Makhluk terhebat, 2020)


Makhluk Terbatas

  Makhluk terbatas itu kamulah salah satunya. Kekuatanmu terbatas, daya pikirmu terbatas, semua yang ada dalam dirimu dan di luar dirimu ter...