Kamis, 18 Januari 2024

Dialog dalam Perspektif Al-Qur'an

 


DIALOG DALAM AL-QUR’AN

Oleh : Fitriyah Syam’un, S.Ud, M.Ag

 

Abstrak

Islam mengajak penganutnya untuk beribadah dengan melakukan interaksi dengan baik kepada sesamanya, baik sesama saudara seiman maupun kepada antarumat beragama lain. Itu artinya Islam adalah agama Sosial yang menjadi solusi pada setiap permasalahan kecil maupun besar, seperti halnya Dialog. Dialog menjadi topik yang menarik untuk dikaji lebih dalam, terkhusus pada era kejayaan teknologi saat ini, yang mana banyak percakapan-percakapan secara langsung atau tidak langsung begitu mudah dilayangkan tanpa ada rem pembatas, sehingga secara tidak langsung merusak etika Dialog yang sejatinya telah diatur oleh Al-Qur’an pada 14 abad yang lalu.

Lantas bagaimana Islam  mengatur  Dialog dengan baik dan tidak menyakiti? Bagaimana Ayat-ayat Dialog dalam Al-Qur’an difirmankan? Dalam artikel ini penulis mencoba mengkaji lebih dalam terkait ayat-ayat Dialog dalam Al-Qur’an dan bagaimana tafisir pada ayat-ayat tersebut, penulis mencoba menjawab permasalahan yang ada melalui studi data  dokumen atau kepustakaan (library resarch), yaitu dengan mengumpulkan ayat-ayat al-Qur’an yang membahas tentang Dialog, sejumlah buku-buku yang masih ada kaitannya dengan objek penelitian dan bahan-bahan rujukan lain yang relevan dengan objek pembahasan yang dibahas, sebagai acuan sekunder.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Qur’an menggunakan banyak istilah untuk meunjukkan makna Dialog, bahkan dialog yang disebutkan dalam al-Qur’an bukan hanya dialog antar sesama manusia dengan satu keyakinan yang sama, tetapi terdapat juga dialog   antara para rasul dengan kaumnya, antara kekuatan baik dan jahat, atau intern kekuatan jahat dan baik, dialog dengan ahli kitab, kaum munafik, pengikut fanatik tradisi buruk nenek moyang, dialog tentang wujud Allah dan keesaan-Nya, hari kebangkitan dan sebagainya. Al-Qur’an juga mengatur bagaimana etika dalam berdialog, sehingga tidak timbul berat sebelah ketika salah satu  mengutarakan pendapatnya.

Keyword: Al-qur’an, Tafsir, Dialog.

 

 

 

 

 

 

 

Pendahuluan

Islam datang saat manusia sedang dalam kejahiliahannya menjalani keyakinan, adat dan tradisi yang keliru tentang kemanusiaan. saat itu mereka mengatur tatanan kehidupan tanpa mengoreksi apakah hal tersebut sesuai dengan tujuan memanusiakan manusia atau tidak, karena bagi mereka menjalani tradisi nenek moyang adalah sebuah harga mati yang harus dipertahankan. Namun Islam datang bak cahaya di ruang gelap, ia datang bak air hujan yang menyirami tanah yang tandus, Islam datang untuk mengangkat derajat kemanusiaan, mengatur dengan bijak segala tatanan kehidupan. Muhammad saw datang membawa Islam dengan ajarannya yang mengatur segala aspek, baik aspek dunia maupun akhirat.

Keragaman dan perbedaan merupakan merupakan salah satu ketentuan tuhan (sunnatullah) yang menjadikan kehidupan ini menjadi penuh warna, hal itu menjadi lazim jika kita melihat dari fakta bahwa adanya siklus kehidupan yang menuntut manusia untuk berinteraksi dan berkompetisi.

Berangkat dari fakta tersebut maka diperlukan sebuah jembatan untuk menghubungkan perbedaan itu untuk bersama-sama membangun kehidupan di dunia secara harmonis. Perbedaan akan terasa indah bila bisa kita kelola dengan baik dalam satu wadah yaitu kebersamaan. Dalam al-Qur’an telah disebutkan bahwa fungsi manusia di muka bumi ini adalah sebagai khalifah Tuhan yang bertugas untuk menjaga dan memakmurkan bumi di tengah-tengah banyak perbedaan namun tentang mampu kebersamaan. Hal tersebut dirumuskan dalam sebuah ungkapan al-Qur’an Lita’arafu (agar kamu saling mengenal). Karena dengan saling mengenal manusia akan saling memahami dan menghargai perbedaan, sehingga akan terwujud kerja sama untuk menciptakan kemaslahatan bersama. Dan salah satu cara untuk saling mengenal adalah terciptanya Dialog.

Dialog merupakan konsekuensi logis dari semua keragaman dan perbedaan, itulah mengapa dialog menjadi bagian dari perintah agama agar saling mengenal dan bekerja sama. Oleh karenanya Islam sendirimemberikan perhatian besar terhadap dialog melalui kitabnya yaitu al-Qur’an, maka tidaklah berlebihan jika kita mengatakan bahwa Islam adalah agama Dialog, karena ajaran Islam menembus setiap tatanan kehidupan baik dunia maupun akhirat.

 Permasalahan Dialog menjadi semakin pelik diabad 21, itulah mengapa kajian tentangnya menjadi sangat penting di masa kemajuan teknologi saat ini, agar manusia kembali merenungi ayat-ayat Al-Qur’an tentang bagaimana melakukan dialog dengan cara yang paling baik dan tidak menyakiti satu sama lain, namun justru dengan dialog manusia semakin mampu menciptakan perbaikan dan kebersamaan untuk sama-sama berlomba-lomba dalam meraih keridhaan Tuhan.

Dialog

Dialog didefinisikan sebagai percakapan, berdialog artinya melakukan proses tanya jawab secara langsung, bercakap-cakap. Sedangkan dialogis artinya bersifat terbuka dan komunikatif. Dialog juga menjadi salah satu caara manusia agar saling mengenal satu sama lain, selain merupakan konsekuensi logis dari keragaman dan perbedaan, Dialog juga merupakan salah satu perintah agama Islam, agar penganutnya saling bekerja sama dalam kebaikan.

$pkšr'¯»tƒ â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.sŒ 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© Ÿ@ͬ!$t7s%ur (#þqèùu$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& yYÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ׎Î7yz ÇÊÌÈ

Artinya: Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujurat [49]: 13)

Islam memberikan perhatian besar terhadap Dialog dengan meletakkan kaidah dan etikanya. Tidak kurang dari 120 sikap dialogis ditunjukkan dalam Al-Qur’an dengan menggunakan sekitar 1000 ayat atau 1/6 kandungannya. Kata قال dengan segala bentuk derivasinya; قالوا, يقول, قل, قولو, يقولون dan lainnya yang menunjukkan bentuk-bentuk dialog dalam Al-Qur’an tidak kurang dari 1700 kali.

Objek dan pelaku dialognya pun beragam, diantaranya terdapat dialog antara para rasul dengan kaumnya, antara kekuatan baik dan jahat, atau intern kekuatan jahat dan baik, dialog dengan ahli kitab, kaum munafik, pengikut fanatik tradisi buruk nenek moyang, dialog tentang wujud Allah dan keesaan-Nya, hari kebangkitan dan sebagainya. Hal itu menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang dinamis dan realistis, serta mampu menyesuaikan diri pada setiap ruang dan waktu.

            Dialog menjadi hal yangat penting bagi kehidupan mengingat perkembangan dunia modern yang diwarnai dengan berbagai pertikaian, perpecahan, permusuhan dan peperangan antar kelompok maupun individu demi kepentingan-kepentingan tertentu. Oleh sebab itu perlu ditanamkan sikap saling memahami eksistensi masing-masing, memperkuat kerja sama dan mendekatkan keragaman dan pertikaian melalui dialog konstruktif.

Term Dialog dalam al-Qur’an

Padanan kata ini yang biasa digunakan dalam bahasa Arab, yaitu الحوار (al-hiwar). Selain itu, terkait dengan dialog juga dikenal istilah al-jadal, al-mira’, al-mahajjah dan al-munazharah yang pengertiannya lebih dekat pada perdebatan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, debat diartikan pembahasan dan pertukaran pendapat mengnai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing. Kata al-hiwar, al-jadal, al-mira’, al-mahajjah dengan segala derivasinya dapat ditemukan dalam Al-Qur’an, sedangkan al-munazharah tidak disebutkan dalam Al-Qur’an dengan pengertian seperti di atas. Walau demikian, istilah al-munazharah sangat populer dalam tradisi keilmuan Islam sebagai bentuk adu argumentasi.

1.     Al-Hiwar

¼çm¯RÎ) £`sß br& `©9 uqçts ÇÊÍÈ

Artinya: Sesungguhnya dia menyangka bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya). (Al-Insyiqaq [84]: 14)

Pada ayat tersebut hiwar bermakna kembali dan Dialog diungkapkan dengan kata hiwar karena di dalamnya terdapat pembicaraan dan proses tanya jawab secara bergantian dengan argumentasi masing-masing, dan tidak jarang bila kemudian salah seorang peserta dialog menarik pandangannya yang ternyata keliru untuk kembali kepada kebenaran yang terpampang secara benderang (putih) di hadapannya.

šc%x.ur ¼çms9 ֍yJrO tA$s)sù ¾ÏmÎ7Ås»|ÁÏ9 uqèdur ÿ¼çnâÍr$ptä O$tRr& çŽsYø.r& y7ZÏB Zw$tB tãr&ur #\xÿtR ÇÌÍÈ

Artinya: Dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia Berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia: "Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat" (QS. Al-Kahfi [18]: 34)

ôs% yìÏJy ª!$# tAöqs% ÓÉL©9$# y7ä9Ï»pgéB Îû $ygÅ_÷ry þÅ5tGô±n@ur n<Î) «!$# ª!$#ur ßìyJó¡tƒ !$yJä.uãr$ptrB 4 ¨bÎ) ©!$# 7ìÏÿxœ ÅÁt/ ÇÊÈ

Artinya: Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Al-Mujadalah [58]: 1)

Redaksi yuhawir dan tahawur dalam bahasa Arab mengesankan adanya keikutsertaan pihak lain (al-musyarakah), tetapi kata yuhawir lebih mengesankan keunggulan pihak yang melakukannya. Sementara kata tahawur menunjukkan kesetaraan pihak-pihak yang terlibat.

2.     Al-Jadal

Dalam sejarah keilmuan Islam, al-jadal menjadi disiplin ilmu tersendiri yang didefinisikan oleh al-Qanuji sebagai ilmu yang membahas berbagai cara untuk menetapkan atau membatalkan sebuah sikap atau pandangan. Tujuannya adalah memperkuat kemampuan untuk meruntuhkan dan melemahkan argumentasi lawan bicara.

óOçFRr'¯»yd ÏäIwàs¯»yd óOçFø9y»y_ öNåk÷]tã Îû Ío4quŠysø9$# $u÷R9$# `yJsù ãAÏ»yfム©!$# öNåk÷]tã uQöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# Pr& `¨B ãbqä3tƒ öNÍköŽn=tã WxŠÅ2ur ÇÊÉÒÈ

Artinya: Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk (membela) mereka pada hari kiamat? Atau siapakah yang menjadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah)? (QS. An-Nisa’ [4]: 109)

Dalam al-Qur’an, penggunaan kata al-Jadal pada sejumlah konteks pembicaraan terangkum menjadi lima poin pembahasan: Pertama, Membandingkan kehidupan dunia dan akhirat, qur’an surat an-Nisa ayat 109. Kedua, mengalahkan kebatilan dengan kebenaran, qur’an surat al-Ankabut ayat 46. Ketiga, menolak kebenaran dengan kebatilan, qur’an surat al-Mu’min ayat5. Keempat, perdebatan dengan cara-cara terpuji, qur’an surat an-Nahl ayat 125. Kelima, perdebatan dengan cara-cara yang kotor, qur’an surat al-Hajjayat 3.

3.     Al-Mira’

 4 @è% þÎn1§ ãNn=÷ær& NÍkÌE£ÏèÎ/ $¨B öNßgßJn=÷ètƒ žwÎ) ×@Î=s% 3 Ÿxsù Í$yJè? öNÍkŽÏù žwÎ) [ä!#zÉD #\Îg»sß Ÿwur ÏMøÿtGó¡n@ OÎgŠÏù óOßg÷YÏiB #Yymr& ÇËËÈ

Katakanlah: "Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit". Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka. (QS. Al-Kahfi [18]: 22)

Ayat di atas berisi perintah untuk tidak berbantah-bantahan dalam hal bilangan pemuda yang menghuni gua, sebab itu merupakan persoalan gaib dan tidak mendatangkan manfaat. Yang dimaksud dengan orang yang akan mengatakan ini ialah orang-orang ahli kitab dan lain-lainnya pada zaman Nabi Muhammad saw.

Berdasarkan penafsiran surat Al-Kahfi ayat 22, dapat disimpulkan bahwa agaknya padanan yang lebih tepat untuk kata al-mira’ dalam bahasa Indonesia adalah debat kusir, yaitu debat tanpa disertai alasan yang masuk akal, atau juga dapat dikatakan sebagai sikap ngeyel yang artinya tidak mau mengalah dalam berbicara dan ingin menang sendiri.

4.     Al-Mahajjah/al-Muhajjah

Kata ini berasal dari kata hujjah yang artinya argumentasi/alasan. Bentuk kata al-mahajjah menunjukkan adanya keikutsertaan pihak lain, sehingga bermakna saling berargumentasi dalam rangka melemahkan lawan bicara.

öNs9r& ts? n<Î) Ï%©!$# ¢l!%tn zN¿Ïdºtö/Î) Îû ÿ¾ÏmÎn/u ÷br& çm9s?#uä ª!$# šù=ßJø9$# øŒÎ) tA$s% ãN¿Ïdºtö/Î) }În/u Ï%©!$# ¾ÇósムàMÏJãƒur tA$s% O$tRr& ¾ÄÓóré& àMÏBé&ur (  

 Artinya: Apakah kamu tidak memperhatikan orang[163] yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) Karena Allah Telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan.” (Q.S al-Baqoroh: 258)

Ayat di atas menceritakan perdebatan yang dilakukan seorang Raja dari Babilonia bernama Namrudz terhadap Nabi Ibrahim. Yang dimaksud bahwa Raja Namrudz dapat menghidupkan adalah membiarkan hidup, dan yang dimaksudnya dengan mematikan ialah membunuh. perkataan itu untuk mengejek Nabi Ibrahim a.s.

Selain empat istilah di atas yang digunakan Al-Qur’an untuk menunjukkan makna dialog dan yang sejenis dengannya, dalam tradisi keilmuan Islam juga dikenal ilmu al-munazharah yang fungsinya sama dengan dialog atau debat.

Tata Cara berdialog menurut al-Qur’an

Pakar sosiolog muslim kenamaan, Ibnu Khaldun, dalam karyanya al-Muqaddimah mengingatkan betapa pentingnya meletakkan dasar-dasar dan kode etik dialog dan debat. Daintaranya :

1.     Bersih niat dan betujuan mencari kebenaran, (Q.S Hud: 88)

2.     Memperhatikan dan mendengarkan lawan bicara dengan baik. (Q.S Thaha : 65)

3.     Bersikap adil, obejektif, dan proporsional. (Q.S ali Imran : 113-114)

4.     Berbekal ilmu dan argumentasi yang kuat. (Q.S al-Hajj : 3)

5.     Menggunakan retorika yang singkat dan jelas. ( Q.S an-Nisa : 46)

6.     Memilih kata-kata yang baik, lemah lembut dan tidak keras kepala (Q.S Thaha : 43-44)

7.     Berangkat dari Common Platform (titik persamaan). (Q.S ali Imran : 64)

8.     Menghormati lawan bicara dan tidak merendahkannya. (Q.S al-An’am : 108)

9.     Menghindari fanatisme berlebihan. ( Q.S al-Baqoroh : 170)

10.  Menghindari sikap ngeyel/ingin menang sendiri. ( Q.S al-Kahfi : 22)

Dialog antar umat beragama

Dialog merupakan salah satu bentuk komunikasi dua arah, karena jika komunikasi hanya berjalan satu arah atau didominasi hanya salah satu pihak, maka itu disebut dengan monolog.

Dialog memberikan kesempatan yang sama bagi kedua belah pihak untuk menyatakan pendapatnya atau memberikan tanggapan terhadap pendapat pihak lain. Hal itu sejurus dengan dialog antar umat beragama lain yang diartikan sebagai bentuk komunikasi yang berbeda dimana masing-masing agama mempunyai kedudukan yang setara dalam proses komunikasi.

Hubungan baik antar umat beragama memerlukan usaha dari kedua belah pihak untuk saling menghormati dan saling menjadikan ajaran agama masing-masing sebagai dasar untuk menghormati hak umat lain dalam sebuah komunitas yang sama. Al-qur’an tidak melarang komunitas muslim untuk menjalin pertemanan yang baik dengan non muslim, sepanjang mereka tidak memerangi komunitas muslim dalam agama dan tidak mengusir dari kampung halaman mereka, sebagaimana dala al-qur’an disebutkan:

žw â/ä38yg÷Ytƒ ª!$# Ç`tã tûïÏ%©!$# öNs9 öNä.qè=ÏG»s)ムÎû ÈûïÏd9$# óOs9ur /ä.qã_̍øƒä `ÏiB öNä.̍»tƒÏŠ br& óOèdrŽy9s? (#þqäÜÅ¡ø)è?ur öNÍköŽs9Î) 4 ¨bÎ) ©!$# =Ïtä tûüÏÜÅ¡ø)ßJø9$# ÇÑÈ   $yJ¯RÎ) ãNä39pk÷]tƒ ª!$# Ç`tã tûïÏ%©!$# öNä.qè=tG»s% Îû ÈûïÏd9$# Oà2qã_t÷zr&ur `ÏiB öNä.̍»tƒÏŠ (#rãyg»sßur #n?tã öNä3Å_#t÷zÎ) br& öNèdöq©9uqs? 4 `tBur öNçl°;uqtFtƒ šÍ´¯»s9'ré'sù ãNèd tbqßJÎ=»©à9$# ÇÒÈ

Artinya : Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. dan Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim. (Qs al-Mumtahanah:8-9)

Menurut ibnu kasir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa mereka tidak membantu (orang-orang) untuk memerangi dan mengusirmu. dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa allah tidak melarang kamu menjalin hubungan baik dengan orang-orang kafir yang tidak memerangimu karena agama, seperti kaum wanita dan orang-orang lemah dari mereka.

Penutup

Ayat-ayat al-Qur’an yang penulis paparkan di atas menunjukkan, bahwa Islam telah mengatur segala aspek kehidupan termasuk dialog di dalamnya. Dalam Al-Qur’an, istilah yang berdekatan dengan makna dialog antara lain al-hiwar, al-jadal, al-mira’ dan al-muhajjah. Mengingat adanya kemungkinan ditolak dan diterimanya suatu argument, maka diperlukan etika yang mengatur proses selama dialog berlangsung, etika itulah yang harus diamalkan sehingga sebuah dialog tidak menimbulkan perpecahan.

Dialog merupakan salah satu cara untuk saling mengenal dan bekerja sama sehingga tercipta kehidupan yang harmonis, baik sesama antar umat beragama ataupun umat beragama lain. Al-Qur’an telah mengatur secara jelas melalui ayat-ayatnya terkait etika berdialog, dengan harapan ketika seseorang mengamalkan ayat-ayat tersebut maka akan timbul  sebuah dialog yang tenang tanpa permusuhan, perpecahan apalagi sampai mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas, sehingga menmbulkan perilaku buruk dalam berdialog.

 

DAFTAR PUSTAKA

Etika Berkeluarga, Bermasyarakat dan Berpolitik (Tafsir Al-Qur’an Tematik). Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2009

Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Hubungan Antar Umat Beragama. Jakarta, Departemen Agama RI:2008

Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Terj.Tafsir Ibnu Kasir Juz 28. Bandung, Sinar Baru Algesindo: 2012

 

 


Selasa, 02 Januari 2024

MATINYA RANJANG NOMOR 12 OLEH GHASSAN KANAFANI

 


Satu buku lagi yang menemani akhir tahun 2023 kemarin, buku Kumpulan cerpen yang ditulis oleh penulis dari Palestina ini benar-benar sangat menggugah jiwa dan perasaan, selain karena setiap ceritanya pasti  berbicara tentang kebebasan, perampasan tanah, kematian, ketidakpastian, kegetiran Nasib dan garis hidup yang mengerikan, kalimat-kalimat pada renteten kisahnya benar-benar mengandung retorika dan syair yang indah. Tentu inilah yang membuat saya langsung jatuh cinta pada karya mendiang Ghassan Kanafani dan ini adalah pertama kalinya saya membaca karya dari  penulis negeri Palestina.

Matinya ranjang nomor 12 oleh ghassan kanafani, karya ini merupakan kumpulan cerita yang menjadi karya debut beliau sebelum dirinya dikenal sebagai salah satu penulis terpenting di Timur Tengah melalui puluhan karya-karyanya yang lain. Ghassan Kanafani sendiri lahir pada 8 April 1936, beliau merupakan seorang penulis Palestina dan gembong utama Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP). Pada 8 Juli 1972, ia dibunuh oleh Mossad (badan Intelejen Israel) melalui serangan bom yang dipasang pada mobilnya. Al-Fatihah

Buku Kumpulan cerpen ini memiliki ukuran yang standar dan ringan sehingga memudahkan pembaca untuk membawanya kemanapun, karena hanya memiliki ketebalan 161 halaman saja. Buku ini diterbitkan oleh penerbit Intensif Books, pada cetakan pertama  bulan Juni tahun 2023.

Untuk teman-teman readers yang ingin sekali membaca buku ringan dari penulis Palestina, saya rekomendasikan untuk membaca buku ini, semoga ini juga salah satu bentuk dukungan kita untuk kemerdekaan Palestina dan jangan lupa untuk mengirimkan doa kepada penulisnya, semoga Allah letakkan Gassan Kanafani di tempat terbaik di sisinya, dan  doa untuk seluruh Masyarakat Palestina yang telah syahid karena gempuran-gempuran zionis yang tak kunjung usai. Aamiin

Berikut sekelumit kalimat-kalimat indah namun menyayat hati dalam Kumpulan cerpen Gassan Kanafani:

“Bagaimana Palestina Jatuh inci demi inci dan bagaimana kami mundur inci demi inci. Senapan antic di tangan para laki-laki kasar berseliweran di depan mata kami seperti legenda berdarah. Suara-suara rudal dari kejauhan menunjukkan bahwa pertempuran Tengah terjadi. Sementara para istri kehilangan suaminya. Anak-anak kehilangan ayah mereka. Mereka diam melihat peperangan melalui jendela hingga ke liang kematian.” (hlm 9)

“di bawah Cahaya ledakan dari kejauhan, aku melihat kegagahan di kedua matanya. Ada ketakutan di kedua matanya, namun ia teguh menekan perasaan dalam pilihan antara melarikan diri atau mati.” (hlm 13)

“dua belas tahun telah berlalu dan aku yakin kau sangat jauh dari segalanya. Kau merebah dalam tanah dan hancur. Kau juga merebah dalam ingatan kami dan lenyap. Roman wajahmu… lagi, roman wajahmu… aku tak lagi mengingatnya dengan baik. Suaramu, aku juga tak tahu lagi seperti apa. Matamu, aku tak lagi ingat seperti apa kilaunya.” (hlm 24)

“anak-anak yang tidak sabar menunggu suara bel pulang untuk pergi ke gang-gang kecil di Damaskus yang luas demi bergulat dengan senja untuk mendapatkan makan malam. Mereka menunggu bel pulang dengan sangat lapar untuk berbagi  di bawah langit abu-abu yang dingin. Masing-masing dari mereka memiliki cara sendiri dalam hidup. Ketika malam turun, mereka Kembali ke kamp atau rumah tanah mereka dan berhimpitan dengan keluarga mereka  yang sunyi sepanjang malam selain suara batuk. Aku seperti mengajar anak-anak yang lebih tua dari umur yang sebenarnya, sangat lebih tua.  Masing-masing mereka adalah percikan dari gesekan keras kehidupan yang kejam. Mata mereka di kelas bersinar seperti jendela kecil terhadap dunia yang tak dikenal, berwarna dengan warna-warna yang lembut. Sementara bibir mereka terkunci rapat seakan mencegah ketakutan yang tak dapat mereka kendalikan. Kelas itu merupakan dunia yang kecil. Dunia yang terbentuk dari penderitaan yang bertumpuk sekaligus penderitaan kepahlawanan. Di antara mereka aku merasa seperti sesuatu yang asing. Perasaan ini memberiku ketegaran untuk berusaha sampai di hati mereka semampuku.” (Hlm 34)

“sesungguhnya aku adalah manusia yang sakit. Darah yang mendidih dalam diriku sama sekali tak bernilai. Ia adalah darah yang pantas untuk manusia renta, setengah mati, setengah hidup, manusia yang di dalam dadanya tidak ada apapun selain kotak masa lalu yang terkunci, seseorang yang masa depannya hanyalah lilin yang menerangi lainnya dan membakar dirinya lalu padam dan habis.” (hlm 44)

“demi saat-saat ini, aku adalah mercusuar yang bersinar di hadapan perahu yang hilang, yang dengan menemukan mercusuar ini ia bertahan dalam rasa rindu dan kedamaian.” (Hlm 47)

“manusia tidak perlu hidup sambil meyakini sesuatu yang dapat menghentikan umurnya. Kehidupan adalah kehidupan, tempat hidupnya manusia.” (hlm 124)

“ini adalah perjalanan yang luar biasa! Hari ini bukanlah apa pun selain tragedy. Dan esok adalah yang kita sebut dengan petualangan.” (the Last)

Happy Readers…


 


Senin, 25 Desember 2023

Please Look After Mom by Kyung Sook Shin

 

Sebuah novel yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Gramedia ini berhasil membuat pembaca emosional pada setiap lembar yang di tuliskan oleh Writer-nim. Saya menangis, ikut merasakan betapa kesepian dan kesedihan itu terasa nyata dirasakan oleh sang Ibu, namun Ibu tidak menyerah, ia sosok wanita yang melepaskan semua impian-impiannya dan menejalani kehidupan yang sangat berat itu dengan tidak menyerah.  Anak-anak menjadi penguat dirinya untuk tetap bekerja keras, namun rasa kesakitan  bercampur kebahagiaan melihat anak-anaknya ketika mulai beranjak dari rumah lamanya dan pergi ke kota untuk menjemput impian-impiannya sangat menyentuh hati. Ah saya jadi tidak bisa menggambarkan bagaimana penuh emosional nya novel ini, saya pikir setiap lembar novel ini adalah peringatan tentang jangan pernah sia-siakan orang tersayangmu, karena hidup adalah kesempatan yang hanya bisa dirasakan saat kita benar-benar kehilangan.

Dari tangan ibu itulah kelima anaknya berhasil menjemput semua mimpi-mimpinya, tidak peduli masa kecil mereka dihimpit oleh kemiskinan, tapi ibu selalu berusaha mati-matian agar semua anak-anaknya hidup dengan makan yang cukup, meskipun sendirinya harus merasa kesakitan dan kelaparan. Namun ibu juga manusia, yang hatinya harus dikuatkan ketika dirinya sendiri tak kuat menghadapi nasib yang menimpanya dan dalam novel ini kita akan tahu sekuat apapun seseorang ia pasti membutuhkan tempat bersandar untuk menyembuhkan kesedihan itu.

Novel ini juga menjadi novel pertama yang saya baca dengan menggunakan POV 2, POV 3 dan POV 1. Di akhir-akhir halaman saya jadi berpikir mungkin narator dalam cerita di novel ini adalah sang ibu sendiri. Tapi apapun itu saya sangat merekomendasikan novel ini, bagi saya jika harus memberikan nilai berapa antara 1-10 maka saya akan memberikannya 10. Sempurna karena novel ini membuat pemahaman bahwa seburuk apapun kamu, kamu jangan pernah menyia-nyiakan seseorang yang telah banyak berkorban untuk hidupmu. Bahkan karena novel ini, penulisnya menjadi wanita pertama dan orang korea selatan pertama yang memenangkan penghargaan sastra  orang Asia pada tahun 2012. Ah saya jadi merinding menulisnya.

Untuk melengkapi review ini, saya ingin menuliskan beberapa kalimat yang ada dalam novel ini, semoga membuat kalian semakin ingin membacanya.

“Kalau dipikirkan baik-baik, sebagian besar hal di dunia ini tidak terjadi dengan tiba-tiba. Bahkan sesuatu yang dianggap tidak biasa, kalau dipikir-pikir sebenarnya sesuatu itu sudah ada gelagat akan terjadi.”

“ibu : bukan masalah senang atau tidak senang. Aku memasak karena sudah seharusnya. Aku mesti ke dapur supaya kalian semua bisa makan dan pergi ke sekolah. mana bisa kita hanya melakukan apa yang kita sukai? Ada hal-hal yang mesti dilakukan, entah suka atau tidak.”

“ibu: bagaimana kau bisa hidup kalau tidak bisa menaruh percaya pada orang lain? lebih banyak orang-orang yang baik daripada orang yang jahat.”

“kadang-kadang kehidupan ini sangatlah rapuh, tetapi ada jiwa-jiwa yang bukan main kuatnya.”

“sosok perempuan itu lenyap, sedikit demi sedikit, setelah melupakan rasa suka cita karena telah dilahirkan, melupakan masa kanak-kanaknya serta impian-impiannya, menikah sebelum mendapatkan menstruasi pertamanya, lalu melahirkan lima orang anak dan membesarkannya. Perempuan yang setidaknya kalau mengenai anak-anaknya tidak merasa terkejut atau bingung akan apapun. Perempuan yang hidupnya ditandai dengan pengorbanan sampai saat dia menghilang.”

Demikian, selamat mencoba untuk membaca, saya yakin kamu tak akan menyesal telah membeli dan membacanya. J



The Cat who Saved Books by Sosuke Natsukawa

 


Sebuah novel ringan yang menemani hari-hari menjelang akhir tahun 2023, The Cat who Saved Books atau dalam judul Bahasa Indonesia Kucing Penyelamat buku karya Sosuke Natsukawa. Seorang penulis Jepang yang juga seorang dokter di Nagano Jepang. Buku ini bercerita tentang seorang lelaki remaja yang tinggal berdua Bersama kakeknya, namun pada suatu hari takdir membawanya pada waktu sang kakek harus pergi meninggalkannya sendiri dengan warisan toko buku tua di sudut kota, sebuah tempat yang sering mereka berdua habiskan untuk membaca sekaligus menjual  buku-buku kuno yang sudah hampir tenggelam karena semakin langka di pasaran.

Namun sepeninggal kakeknya, Rintaro tidak lagi memiliki semangat hidup, meski air mata tak pernah deras mengalir di pipinya, Rintaro bertekad untuk berhenti sekolah dan menutup toko bukunya. Dengan kepribadian Rintaro yang sangat tertutup, Rintaro merasa tidak ada yang benar-benar peduli pada kehadirannya. Tapi  Keajaiban datang, hal-hal aneh terjadi di toko buku, di luar pikirannya, tiba-tiba petualangan-petualangan itu datang dalam hidupnya setelah kucing belang itu tiba-tiba muncul dari rak buku paling belakang dan mulai berbicara dengan Bahasa manusia.

Buku ini sangat epic dan ringan sekali untuk dibaca, tentu penulisnya ingin menyampaikan bahwa buku-buku itu sangat penting dan tak akan pernah lekang oleh waktu. Buku The Cat who Saved Books atau dalam judul Bahasa Indonesia Kucing Penyelamat buku karya Sosuke Natsukawa ini hanya memiliki ketebalan sampai 199 hlm saja, dengan ukurannya yang tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar memudahkan untuk para readers membawanya kemana-mana.

Ada kutipan-kutipan menarik dalam buku ini, kutipan-kutipan itu saya ambil dari percakapan antara Rintaro dan si kucing ataupun dari penulisnya sendiri.

“buku itu memiliki kuasa amat besar, ada cerita-cerita yang abadi, cukup kuat untuk bertahan dari zaman ke zaman, bacalah buku-buku seperti itu banyak-banyak, karena buku itu akan menjadi temanmu, mengilhami dan menopangmu.” (hlm 16)

“dunia ini mendatangkan bermacam rintangan untuk kita, kita dipaksa menanggung begitu banyak masalah berat, senjata terbaik mita untuk melawan segala kepedihan dan kesulitan di dunia ini bukanlah logika atau kekerasan. Senjata terbaik kita adalah humor.” ( hlm 23)

“tidak benar bahwa semakin banyak kau membaca, semakin banyak kau melihat dunia, seberapa banyak pun pengetahuan yang kau jejalkan ke dalam kepalamu, kalau kau tidak menggunakan otakmu sendiri untuk berpikir, berjalan dengan kakimu sendiri, pengetahuan yang kau peroleh akan selalu hampa dan sekedar pinjaman.” (hlm 45)

“buku bisa memberi kita pengetahuan, kebijaksanaan, prinsip, pandangan tentang dunia dan masih banyak lagi, sukacita karena baru mengetahui sesuatu yang tadinya tidak kita ketahui dan mellihat segala sesuatu dari sudut pandang baru terasa mendebarkan. Tetapi entah mengapa aku percaya bahwa buku memberi kita sesuatu yang lebih dari itu.” (hlm 179)

Baiklah sekian review dari saya, semoga review singkat ini sedikit banyak menarik teman-teman untuk membaca buku Kucing Penyelamat Buku karya Sosuke Natsukawa ini, Happy Readers…



Sabtu, 02 Desember 2023

Muhammad sang Guru

 

Ada salah satu buku yang menurut saya wajib sekali dibaca oleh semua para pendidik, baik pendidik umat maupun pendidik untuk keluarga di dalam rumahnya. Buku itu berjudul asli ar-Rasul al-Mu’alim wa Asalibuhu fi at-Ta’lim dengan judul Bahasa Indonesia Muhammad sang Guru karya Abdul Fattah Abu Ghuddah, salah seorang tokoh Pendidikan Islam dan Guru Besar Ilmu Hadis dari Aleppo, Suriah.

Pada mulanya saya pikir buku ini akan menjadi buku yang menjenuhkan untuk dibaca, tapi ternyata tidak. Meskipun dipenuhi dengan banyak dalil-dali hadis maupun Al-Qur’an, Susunan tulisan yang disodorkan penulis justru memudahkan pembacanya menangkap inti dari apa yang ingin disampaikan. Penulis benar-benar mengambil intisari dari al-Qur’an dan hadis terkait metode Pendidikan ala nabi saw dengan diksi yang sangat mudah untuk dibaca dan dipahami.

Beberapa kutipan dalam buku akan saya tuliskan di sini, sebagai referensi untuk teman-teman agar semakin tertarik untuk memiliki dan membaca buku ini, sehingga kemudian berdampak dalam melaksanakan proses belajar mengajar kepada peserta didik.

Penulis buku mencantumkan pendapat Thomas Carlyle yang merupakan penulis satir dari Skotlandia, yang memberikan opini terkait bangsa Arab: “mereka adalah bangsa yang melakukan perjalanan di padang pasir, bangsa yang luput dari perhatian selama berabad-abad. Ketika seorang Nabi dari bangsa Arab datang kepada mereka, mereka menjadi pusat perhatian dalam berbagai bidang ilmu dan pengetahuan, jumlah mereka bertambah banyak dan menjadi bangsa yang mulia. Tidak sampai satu abad, seluruh penjuru dunia tercerahkan oleh kepandaian dan ilmu mereka.” (hlm 7)

Ada salah satu hadis Mauquf riwayat Imam Tirmidzi yang dicantumkan penulisnya dalam buku ini, hadis tersebut menggambarkan bagaiamana mulia dan indahnya karakter mengajar baginda Nabi saw:

“Rasulullah adalah orang yang senantiasa bersedih, selalu berpikir, tidak mengenal Lelah, pendiam (tanang), hanya berbicara ketika diperlukan, memulai dan menutup pembicaraan dengan menyebut nama Allah, berbicara dengan Jawami’ul Kamlim (kalimat yang singkat, tapi penuh makna), perkataannya rinci, tidak terlalu Panjang dan tidak terlalu pendek. Beliau bukan orang yang berperangai kasar dan hina, selalu menghargai nikmat sekecil apapun nikmat itu dan tidak mencelanya sedikitpun. Beliau juga tidak suka mencela makanan dan minuman, tidak pula memujinya.” (hlm29)

“Rasulullah adalah orang yang selalu menampakkan wajah riang dan ceria, memiliki akhlak dan tabiat lembut, tidak berkata kasar, bukan orang yang keras, tidak suka berteriak, tidak pernah berkata dan berbuat kotor, tidak pernah mencela, tidak pernah memuji berlebihan, mudah melupakan hal-hal yang tidak ia sukai, tidak memupus harapan orang yang berharap kepadanya, tidak pula mengecewakannya. Rasulullahb saw juga selalu berusaha menjauhkan diri dari tiga hal: 1, perselisihan (perdebatan). 2, berlebih-lebihan. 3, segala hal yang tidak bermanfaat baginya. Beliau juga menjauhkan manusia dari tiga hal : 1, mencela atau menghina orang lain. 2, membuka aib orang lain. 3, berbicara dengan orang lain tanpa ada pahala (manfaat) di dalamnya.” (hlm 35)

Terdapat 40 metode pengajaran ala Rasulullah saw yang dikemas apik dalam buku ini dan sudah seharusnya menjadi buku pegangan bagi para pendidik agar bisa menciptakan proses belajar mengajar yang didasarkan pada karakter masing-masing peserta didik.

Metode pengajaran Rasulullah yang paling penting, utama dan paling menonjol adalah menjadikan dirinya teladan dengan mencontohkan akhlak mulia. Jika Rasul menyuruh melakukan sesuatu, beliau orang pertama yang akan melakukannya sehingga para sahabat bisa mengikutinya dan mengamalkan sebagaimana yang mereka lihat langsung. Tak diragukan lagi metode mengajar deengan Tindakan dan praktik langsung lebih kuat pengaruhnya, lebih membekas dalam jiwa, lebih memudahkan pemahaman dan ingatan, serta lebih menarik perhatian untuk diikuti dan dicontoh dibandingkan sebatas penjelasan yang diucapkan. (hlm 81-82)

Ibnu Hajar dalam kitab Fath al-Bari menyatakan : “mengajarkan ilmu juga harus dilakukan secara bertahap. Sebab jika awal mempelajari sesuatu itu sudah mudah, orang yang akan menekuninya pasti semangat dan mampu mempelajarinya dengan cara sederhana. Sebagian cirinya adalah biasanya mereka akan minta tambahan Pelajaran. Namun akan menjadi sebaliknya jika awal mempelajari sesuatu sudah terlihat sulit.

jika Rasulullah saw mengutus salah seorang sahabatnya dalam suatu urusan, beliau berwasiat, ‘berilah kabar gembira (kapada manusia), jangan buat mereka menjauh. Permudahlah (urusan) mereka, jangan dipersulit.” (HR Muslim)

Abdullah bin Umar: “jika sudah masuk waktu sore, jangan kau tunggu datangnya pagi. Jika sudah pagi, jangan kau tunggu sore. Carilah bekal pada masa sehatmu untuk masa sakitmu, pada saat kau hidup untuk kematianmu nanti. Sebab nanti, wahai hamba Allah, kau takkan pernah tahu siapa namamu kelak.” (hlm 293)

Semoga bermanfaat …


 

 


Makhluk Terbatas

  Makhluk terbatas itu kamulah salah satunya. Kekuatanmu terbatas, daya pikirmu terbatas, semua yang ada dalam dirimu dan di luar dirimu ter...