Kamis, 25 Desember 2014

Makalah Mufassir Klasik Abu Hayyan al-Andalusi. disusun oleh : ( Fitriyah & Zidna Khoiro Amalia )


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Al-Qur’an, kitab suci umat Islam, merupakan kitab yang paling memiliki kekuatan sepanjang sejarah manusia. Kekuatan tersebut terkadang muncul dengan sendiri, karena aspek estetis al-Qur’an atau dimunculkan oleh manusia (ulama, mufassir) melalui kajian-kajian tafsirnya. Kajian-kajian tersebut dituliskan dalam kitab-kitab tafsir yang memiliki diversitas metode, corak, bentuk, dan karateristiknya. Seiring berjalannya waktu, diversitas itu dengan sendiri kemudian membentuk mazhab-mazhab tafsir.[1]
Dalam makalah ini pemakalah akan mencoba sedikit menguraikan tentang salah satu kitab tafsir klasik karya Abu Hayyan al-Andalusi yang bernama Al-Bahr Al-Muhiht.
B. Rumusan Masalah
1. Siapakah Abu Hayyan?
2. Bagaimanakah Metode Penafsiran Kitab Al-Bahr Al-Muhiht?
3. Bagaimanakah Karateristik Penafsiran Kitab Al-Bahr Al-Muhiht?





BAB II
PEMBAHASAN
A.    Biografi penulis
Nama lengkapnya  Atsirudin abu Abdillah Muhammad bin Yusuf bin Ali bin Yusuf bin Hayyan al-Andalusy  al-Garnathi al-Hayyani, populer dengan Abu Hayyan. Lahir di Granathah pada tahun 654 H/1256 M.[2] Orang tuanya berasal dari keturunan suku Barbar. Ia hidup pada masa Dinasti Bani Ahmar (Dinasti Nashriyyah) berkuasa, dinasti ini merupakan dinasti Islam terakhir yang berkuasa di Spanyol.
Di bawah pengawasan ayahnya, al-Andalusi mulai menghafal al-Qur’an. Setelah itu, menashih hafalanya kepada sejumlah Ulama. Al-Andalusi juga gemar berkelana menuntut ilmu keberbagai tempat misalnya Andalus, Afrika, Iskandariyah, Mesir, dan Hijaz. Di berbagai daerah tersebut beliau berguru tak kurang dari 450 Ulama. Dari mereka beragam disiplin ilmu diserap mulai tafsir, hadis, qira’at, bahasa Arab, sastra, hingga sejarah.[3] Sehinggan Abu Hayyan muncul sebagai ahli hadis, sejarahwan, sastrawan, dan mufassir.[4] Beliau juga menguasai berbagai Qira’at, baik qira’at yang shahih maupun qira’at yang syadz, ganjil (beda sendiri).[5]  
Ada yang mengatakan bahwa Abu Hayyan itu pada awalnya bermadzhab Zhairiah [6]dalam bidang fiqih, kemudian mengikuti madzhab Syafi’i. Abu Hayyan luput dari filsafat, dari paham Mu’tazilah, dan Tajsim. Beliau memegang teguh akidah salaf.[7]
Abu Hayyan al-Andalusi menghasilkan banyak karya yang bertebaran di berbagai penjuru dunia pada saat beliau masih hidup atapun setelah beliau meninggal, diantara karya-karyanya adalah:
·         Al-Bahr al-Muhith
·         Al-Nahr al-Madd min Bahr al-Muhith (ringkasan dari kitab al-Bahr al-Muhith)
·         Ittihaf al-Arib bima fi al-Qur’an min al-Gharib
·         Al-Tajzyil wa al-Takmil fi Sarh al-Tashil
·         Gharib al-Qur’an
·         Manzuhumah ‘ala Wazn al-Syathibiyah fi al-Qiraat
·         Lughat al-Qur’an[8]
·         Dan masih banyak lagi karya Abu Hayyan yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu.
Banyak komentar para ulama mengenai sosok Abu Hayyan al-Andalusi, diantaranya:
·         Ibn Al-‘Imad dalam kitab Syadzarat adz-dzahab berkata: “abu hayyan adalah orang yang tekun dan bersungguh-sungguh dalam belajar hadis, Tafsir, bahasa arab, Qira’at, sastra dan sejarah. Namanya terkenal dan pujiannya tersebar, para pembesar pada masanya berguru dengannya dan mereka menjadi terkemuka pada masa hidupnya’’.
·         Ash-Shafdi berkata: “saya tidak pernah melihatnya kecuali ia sedang mendengar (ilmu), bekerja, menulis, atau membaca kitab. Ia adalah orang yang ahli dan kenal dengan bahasa arab, adapun ilmu nahwu dan sharaf, maka ia adalah pakarnya. Ia menghabiskan kebanyakan dari umurnya untuk menutut ilmu, sehingga tidak ada seorangpun di dunia ini yang bisa menandinginya. Ia telah memberikan pengorbanan besar dalam bidang tafsir, hadis dan biografi para tokoh, dan mengenal tingkatan mereka secara khusus ulama-ulama maroko dan ia telah banyak mendidik generasi baik di zaman klasik maupun modern, menghubungkan orang-orang yang datang kemudian dengan ulama-ulama besar yang hidup sebelumnya, dan jadilah semua muridnya sebagai para pemimpin dan syaikh-syaikh semasa hidupnya.
·         Diantaranya lagi sebagaimana yang dikatakan oleh al-Adfawi tentangnya: “beliau adalah seorang yang adil, jujur, selamat akidahnya dari bid’ah-bid’ah filsafat, Mu’tazilah dan yang berlebihan. Ia sangat Khusyu’, sering menangis ketika membaca Al-Qur’an, perawakannya berbadan tinggi, Bagus, Tampan, Berkulit putih kemerah-merahan, putih ubannya, tebal jenggotnya dan panjang tertata rapi rambutnya.”[9]
Abu hayyan wafat setelah lama berkorban demi melayani al-Qur’an dan ilmu-ilmunya, Wafat di mesir tahun 745 H. Semoga Allah menghujani rahmat kepadanya dan meridhainya, amin.[10]
B.     Seputar kitab tafsir Bahr Al Muhith
Kitab al-Bahr al-Muhit terdiri dari 8 jilid besar, telah di cetak dan beredar di kalangan ahli ilmu. Kitab ini tergolong rujukan pertama dan terpenting bagi yang ingin menjalani sisi-sisi i’rab dalam lafadz al-Qur’an. Karena sisi-sisi nahwu pada tafsir ini lebih menonjol dibanding yang lain. Saat membahas sisi nahwu dalam kitab ini, ia menjadi “putra” bagi ilmu ini. Beliau telah memperbanyak membahas masalah nahwu dan khilafiyah antara ulama dibidang ini.[11]
Di dalam kitab tafsir ini, beliau cenderung memperluas perhatiannya untuk menerangkan wajah-wajah i’rab dan masalah-masalah nahwu, bahkan cenderung memperluasnya karena beliau mengemukakan, mendiskusikan dan memperdebatkan perbedaan pendapat di kalangan ahli nahwu, sehingga kitab ini lebih dekat ke kitab-kitab nahwu dari pada ke kitab-kitab tafsir.[12] Beliau juga mengutip pendapat para ulama dalam masalah-masalah fiqih yang memiliki keterkaitan dengan lafadz-lafadz yang ditafsirkan tersebut, baik dari empat Imam mazhab maupun lainnya, di samping argumen-argumen lain yang terdapat di dalam kitab-kitab fiqih.[13]
Berkiatan dengan kisah-kiasah Israiliyat, ternyata Abu Hayyan juga banyak mengutip dalam kitabnya. Diantara kisah-kisah Israiliyat yang dikutip, yang sebenarnya berstatus maudhu’ (palsu) –walaupun hanya sepintas- adalah riwayat tentang batu nabi Musa, Daud dan Istrinya, begitu juga kisah kaum Iram atau Arim (kaum nabi Hud) disinyalir sebagai riwayat yang Bathil. Dalam hal ini Abu Hayyan dianggap tidak konsisten, karena dalam mukadimah kitabnya beliau mengatakan “cerita-cerita atau kisah-kisah Israiliyat yang tidak sesuai dengan syari’at dan akal sehat sangat tidak layak disebutkan dalam ilmu Tafsir”. Sementara beliau terkadang melanggar pernyataannya sendiri, misalnya ketika menceritakan kisah Harut dan Marut. Namun begitu, dalam kaitan ini  Abu Hayyan hanya mendasarkan pada apa yang dianggap benar oleh Ibn ‘Athiyah. Sementara dalam penafsirannya sendiri beliau tidak menganggap.[14]
Di dalam tafsir ini juga Abu Hayyan memasukan hadis-hadis dhaif yang mana diriwayatkan oleh seorang yang tidak tsiqqah. Ini beliau cantumkan hanya memberi keterangan kepada pembaca untuk tidak terpedaya dengannya. Hal ini juga sangat sedikit dan jarang sekali dijumpai.[15] Selain itu juga Abu Hayyan dikenal banyak menulis syair-syair yang indah dalam Tafsirnya yang menjadikannya termasuk dalam golongan ahli hikmah.[16]
C.    Latar belakang penulisan al-Bahr al-Muhith
Abu Hayyan memberi nama kitab Tafsir nya dengan al-Bahr al-Muhith yang artinya lautan yang luas, banyak para pengkaji yang tidak mampu menyelesaikanya karena teramat panjang.[17]
Abu Hayyan telah lama berkhidmat kepada al-Qur’an dan ilmu-ilmu bahasa hingga hampir 60 tahun dari umurnya. Kemudian beliau sibuk semata-mata mengarang tafsir al-Qur’an setelah berhasil mendapatkan ilmu-ilmu ahli tafsir yang dengannya beliau bisa mencapai keberuntungan yang abadi.[18]
Abu Hayyan dalam Mukadimah tafsirnya al-Bahr al-Muhith berkata sebagai berikut: “sesungguhnya ilmu pengetahuan itu banyak dan semuanya penting. Dan yang lebih penting adalah yang membawa kepada kehidupan abadi, keberuntungan  yang kekal, yaitu ilmu kitab Allah. Ilmu inilah yang dituju, sedangka ilmu-ilmu lainnya hanya bagaikan alat-alatnya saja. Ia adalah buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus, timbangan yang lebih sempurna dan lebih kuat, tali yang kukuh, dan jalan yang lurus, dan senantiasa bergejolak dalam ingatan dan pikiranku bahwa jika aku telah sampai kepada masa terpecahnya kulit, yaitu masa yang melepaskan kebebasan para pemuda yang dikatakan: apabila seorang lelaki telah sampai umurnya 60 tahun hendaklah ia menghindari minuman keras. Saya memohon kepada Allah yang maha pengasih untuk semata-mata memikirkan tafsir al-Qur’an. Allah memperkenankan keinginanku itu, waktu itu akhir tahun 710 H, yaitu awal tahun dari umurku yang ke 57 tahun, maka saya berniat untuk menysusun kitab ini”.[19]
Dari perkataan beliau di atas, bisa kami ambil kesimpulan, bahwa Abu Hayyan menyusun kitab tafsir Bahr al-Muhith, karena ingin mengamalkan Ilmunya yang telah beliau banyak dapati selama itu. Abu Hayyan mulai menyusun kitab ini  tatkala usianya 57 tahun, tepatnya tahun 710 H.
D.    Metode penafsiran al-Bahr al-Muhith
Beliau mengawali kitab tafsirnya dengan mukadimah yang sangat indah, kemudian juga menyebutkan teknik penulisannya, ilmu-ilmu yang dibutuhkan oleh seorang mufassir, kriteria-kriteria yang seharusnya dimiliki oleh mufassir, dan membicarakan sebagian mufassir terdahulu, semisal al-Zamakhsyari, dengan kitab tafsirnya al-Kasyaf dan ‘Ibn ‘Athiyah dengan kitab tafsirnya al-Muharrar al-Wajiz. Beliau juga menjelaskan dalam mukadimahnya tentang keutamaan al-Qur’an serta memberi motivasi untuk mendalami Tafsir, nama Mufassir dari kalangan sahabat dan tabi’in, juga definisi ilmu tafsir, baik dari segi etimologis maupun terminologis.[20]
Dalam menyusun kitab ini beliau mula-mula bicara tentang ayat demi ayat dengan menafsiri setiap kata atau lafadz dari sisi bahasa dan nahwu sesuai yang dibutuhkan. Jika satu kata mengandung dua makna atau lebih, maka Abu Hayyan menyebutkannya  untuk kemudian dilihat manakah dari makna-makna itu yang cocok dengan kata-kata tersebut. Kemudian barulah beliau menafsiri ayat dengan menyebut sebab nuzul kalau sebab nuzul itu ada, menyebutkan munasabah dan keterkaitannya dengan ayat sebelumnya, menyebutkan naskhnya jika ada, juga menyebutkan sejumlah qira’at terhadap ayat tersebut baik qira’at yang berlaku maupun yang tidak berlaku, dilengkapi dengan mengutip ucapan para salaf dan khalaf dalam memahami ayat.
Kemudian dijelaskan juga kata-kata yang ada, baik yang jelas maupun yang samar dengan menerangkan i’rabnya yang samar, dan kelembutan sastra dengan mencoba tidak mengulangi pembahasan tentang kata yang telah dijelaskan atau ayat yang telah di tafsiri. Jika ada pengulangan, hal itu untuk menambah ilmu dan manfaat, disertai dengan pengutipan pendapat para imam madzhab empat dan yang lainnya dalam bidang hukum syari’ah, sambil menunjukan  dalil-dalil yang termaktub dalam kitab-kitab fiqih.
Begitu juga berkenaan dengan kaidah-kaidah nahwu, beliau menyebutkan nya dan menunjukannya ke kitab-kitab nahwu. Kemudian beliau mengakhiri penafsiran ayat dari sisi bahasa dengan pembahasan dari sisi ilmu bayan dan badi’ (ilmu sastra) secara sekilas, dilanjutkan dengan uraian bebas tentang kandungan ayat sesuai dengan makna yang beliau pilih. [21]
E.     Corak penafsiran al-Bahr al-Muhith
Tafsir al-Bahr al-Muhith adalah tafsir dengan corak balaghi, yang penekanannya pada kaidah-kaidah nahwu, bahasa arab, Balaghah, dan juga Qira’at baik yang Mahsyur maupun yang syadz.[22]
Pada sisi lain, abu hayyan sangat tidak setuju dengan penafsiran dengan corak ilmiah,  yang di lakukan al-Razi, yang kitabnya sangat kental dengan tafsir ilminya.[23]
Kesimpulannya tafsir Abu Hayyan lebih banyak didominasi oleh pembahasan sisi nahwu sebagai disiplin Ilmu yang paling dikuasainya mengalahkan sisi-sisi yang lain.[24]
F.     Karakteristik tafsir al-Bahr al-Muhith
Tafsir Bahrul Muhith merupakan salah satu kitab Tafsir yang tergolong Tafsir bir-Ra’yi. Krena di dalamnya beliau melengkapi dengan berbagai cabang ilmu yang meliputi Nahwu, Sharaf, Balaghah, Hukum-hukum fiqih dan yang lainnya yang dianggap oleh beliau masih ada hubungannya dengan rujukan Tafsir.[25]
G.    sumber penafsiran al-Bahr al-Muhith
Abu Hayyan dalam menyusun tafsirnya tidak lepas dari berbagai referensi kitab-kitab klasik lainnya. Hal ini beliau lakukan demi mewujudkan Kitab ini sesuai dengan namanya Al-Bahru Al-Muhit. Referensi-referensi tersebut bersumber dari berbagai disiplin ilmu selama masih terkait dengan Wawasan Tafsir. Ini bukan berarti penulisan kitab Bahrul Muhit seutuhnya atas landasan kitab-kitab terdahulu. Namun, tidak jarang juga beliau melakukan kritikan terhadap kitab-kitab tersebut. Beliau hanya melakukan penilaian atas kitab-kitab terdahulu dan mengambilnya yang beliau yakini serta membantahnya yang dianggapnya salah dengan landasan Al-Quran dan Hadis. [26]
Dalam banyak hal beliau berpedoman pada kitab At-Tahrir Wat Tahbir li Aqwali A’immatit Tafsir, karya gurunya Jamaluddin Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman al-Miqdasi yang terkenal dengan Ibnu Naqib.[27]
Dalam tafsir ini juga Abu Hayyan banyak mengutip dari tafsir Az Zamakhsyari dan tafsir Ibn ‘Athiyah, terutama yang berhubungan dengan masalah nahwu dan ‘irab.  Meskipun banyak yang ditolak dari pendapat ibn ‘Athiyah ini, akan tetapi harus jujur dikatakan bahwa tafsir Ibn ‘Athiyah telah memberi manfaat besar bagi Abu Hayyan. [28] Abu Hayyan tidak menyukai paham ke Mu’tazilahan Az Zamakhsyari. Karena itu ia mengkritik dan menyanggahnya dengan gaya bahasa yang sinis. Dan seringkali ia mengakhiri kutipannya dengan sanggahan, bahkan terkadang pula beliau menyerang Zamakhsyari dengan gencar, walaupun di sisi lain beliau memujinya karena keteramapilan nya yang menonjol dalam menyingkapkan retorika (Balaghah) Qur’an dan kekuatan bayan nya.
H.    Studi atas kitab Tafsir al-Bahr al-Muhith
Ternyata banyak juga yang melakukan studi kritis atas kitab tafsir ini, diantaranya:
·         Abu Hayyan al-andalusi: Manhajuhu fi Tafsir al-Qur’an. Disertai dari ‘Ali al-Sybbah, pada fakultas Syariah dan Ushuluddin, Universitas al-Zaituniyah, Tunis, tahun 1981 M.
·         I’rab al-Qur’an fi Tafsir Abi Hayyan, oleh Dr. Shabri Ibrahim al-Syadid. Diterbitkan pertama oleh Dar al-Ma’rifah, Iskandariah, Mesir 1989.
·         Abu Hayyan al-Mufassir: Manhajuhu wa Ara’uhu, disertasi dari Muhammad ‘Abd al-Mun’im Muhammad al-Syafi’i, pada fakultas Ushuluddin, Universitasal Azhar, Kairo 1972.
·         Ikhtilaf al-Huruf wa al-Harakat fi al-Qira’at fi Tafsir Abi Hayyan, oleh Dr Muhammad Ahmad Khathir, dosen fakultas bahasa dan sastra arab, Universitas al-Azhar, Kairo 1990.
·         Aharis al-Bahr al-Muhith fi al-Tafsir, yang di dalamnya berisi ayat-ayat, hadis, pendapat para sahabat, juga klan-klan, kabilah-kabilah, nama kota-kota, nama-nama tempat, nama-nama negara, bait-bait syair. Telah dicetak oleh Dar al-Fikr 1992, dan saat ini tersimpan di perpustakaan al-Buhus wa al-Dirasar, Beirut.[29]




BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
          Nama lengkapnya adalah Atsirudin abu Abdillah Muhammad bin Yusuf bin Ali bin Yusuf bin Hayyan al-Andalusy  al-Garnathi al-Hayyani, populer dengan Abu Hayyan.
Kitab al-Bahr al-Muhith terdiri dari 8 jilid besar, Di dalam kitab tafsir ini, Abu Hayyan cenderung memperluas perhatiannya untuk menerangkan wajah-wajah i’rab dan masalah-masalah nahwu, sehingga kitab ini lebih dekat ke kitab-kitab nahwu dari pada ke kitab-kitab tafsir.
Tafsir al-Bahr al-Muhith adalah tafsir dengan corak balaghi, yang penekanannya pada kaidah-kaidah nahwu, bahasa arab, Balaghah, dan juga Qira’at baik yang Mahsyur maupun yang syadz, jadi tafsir Abu Hayyan ini lebih banyak didominasi oleh pembahasan sisi nahwu sebagai disiplin Ilmu yang paling dikuasainya mengalahkan sisi-sisi yang lain.
Tafsir Bahrul Muhith merupakan salah satu kitab Tafsir yang tergolong Tafsir bir-Ra’yi. Krena di dalamnya beliau melengkapi dengan berbagai cabang ilmu yang meliputi Nahwu, Sharaf, dan lain-lain.









DAFTAR PUSTAKA
Umar Nasaruddin, MA, Ulumul Qur’an Mengungkap Makna-Makna Tersembunyi al-Qur’an (Tanggerang: Al-Ghazali Center, 2008)
Ash Shiddieqy Hasbi, sejarah dan pengantar Ilmu Al qur’an atau Tafsir (jakarta: Bulan Bintang, 1954)
Amin Ghafur Saiful, Profil para Mufassir al-Qur’an, (Jogjakarta : Pustaka Insan Madani, 2008)
Hakim Husnul, Ensiklopedi Kitab-Kitab Tafsir, (Depok: Lingkar Studi Al-Qur’an, 2013)
Husein Adz-dzahabi Muhammad, Ensiklopedia Tafsir, (Jakarta: kalam Mulia, 2010)
Saleh Faisal, terjm Manhaj al-Mufassirun, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2006)
 Mudzakir, Terjemah Mabahis Fi Ulumul Qur’an, (Bogor, Pustaka Litera antar nusa: 2011)
Rul-sq.blogspot.com/2013/12/tafsir-bahr-al-muhit-karya-abu-hayyan.html?m=1









[1] Nasaruddin Umar, MA, Ulumul Qur’an Mengungkap Makna-Makna Tersembunyi al-Qur’an (Tanggerang: Al-Ghazali Center, 2008), cet 1, hlm XI
[2] M. Hasbi Ash Shiddieqy, sejarah dan pengantar Ilmu Al qur’an atau Tafsir (jakarta: Bulan Bintang, 1954) Hlm 277
[3] Saiful Amin Ghafur, Profil para Mufassir al-Qur’an, (Jogjakarta : Pustaka Insan Madani, 2008), hlm 103
[4] Husnul Hakim IMZI, Ensiklopedi Kitab-Kitab Tafsir, (Depok: Lingkar Studi Al-Qur’an, 2013), cet 1, hlm 111
[5] Muhammad Husein Adz-dzahabi, Ensiklopedia Tafsir, (Jakarta: kalam Mulia, 2010) Cet I, Hlm 297
[6] Pendiri madzhab ini adalah Abu Sulaiman Daud bin Ali al-Asfahaniy az-zahiri, dalam Madzhab ini    Imam Daud amat berpegang dengan firman Allah dalm surat An-nisa: 59, bahkan telah menjadikan ayat Allah ini sebagai asas utama madzhabnya. Waqlaupun madzahab ini tersebar luas dan ramai pengikut, tetapi madzhab ini juga tidak bertahan lama dan mulai pupus sejak kurun tahun ke lima hijriah dan terus pupus sampai seterusnya. Dan saat ini madzhab beliau hanya berupa pendapat-pendapat yang terdapat di kitab-kitab.
[7] Muhammad Husein Adz-dzahabi, Ensiklopedia Tafsir, Hlm 297
[8] Husnul Hakim IMZI, Ensiklopedi Kitab-Kitab Tafsir, hlm 111-112
[9] Faisal Saleh, terjm Manhaj al-Mufassirun, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2006) Hlm 386-387
[10] Muhammad Husein Adz-dzahabi, Ensiklopedia Tafsir, Hlm 297-298
[11] Muhammad Husein Adz-dzahabi, Ensiklopedia Tafsir, Hlm 297
[12] Mudzakir AS, Terjemah Mabahis Fi Ulumul Qur’an, (Bogor, Pustaka Litera antar nusa: 2011) cet 14, Hlm 507
[13] Husnul Hakim IMZI, Ensiklopedi Kitab-Kitab Tafsir, hlm 112
[14] Husnul Hakim IMZI, Ensiklopedi Kitab-Kitab Tafsir, hlm 115
[16] Faisal Saleh, terjm Manhaj al-Mufassirun, Hlm 387
[17] Faisal Saleh, terjm Manhaj al-Mufassirun, Hlm 389-390
[18] Mani’ Abd Halim Mahmud, Metodogi Tafsir, Hlm 388
[19] Faisal Saleh, terjm Manhaj al-Mufassirun, Hlm 388
[20] Husnul Hakim IMZI, Ensiklopedi Kitab-Kitab Tafsir, hlm 112-113
[21] Muhammad Husein Adz-dzahabi, Ensiklopedia Tafsir, Hlm 298-299
[22] Syadz : langka atau kurang mahsyur.
[23] Husnul Hakim IMZI, Ensiklopedi Kitab-Kitab Tafsir, hlm 114-115
[24] Muhammad Husein Adz-dzahabi, Ensiklopedia Tafsir, Hlm 301
[25] Rul-sq.blogspot.com/2013/12/tafsir-bahr-al-muhit-karya-abu-hayyan.html?m=1
[27]Mudzakir AS, Terjemah Mabahis Fi Ulumul Qur’an, Hlm 508
[28] Husnul Hakim IMZI, Ensiklopedi Kitab-Kitab Tafsir, hlm 114
[29] Husnul Hakim IMZI, Ensiklopedi Kitab-Kitab Tafsir, hlm 166

Bangtan sonyeondan



Jumat, 10 Oktober 2014

Translate lagu Se7en Thank you

Di malam saat aku tak bisa tidur, aku memikirkanmu
Dan aku membayangkan hari-harimu tanpa diriku
Ada banyak hal yang ingin kulakukan untukmu
Namun yang terus menerus kupikirkan hanyalah hal yang tak bisa kulakukan
Di malam yang gelap dan sepi
Aku sangat merindukan suaramu dan merindukanmu
Aku bahagia bisa bersamamu di masa-masa yang indah mempesona
Seperti itulah hatiku yang selalu tak berubah, seperti saat ini, semua baik-baik saja
Aku tak bisa mengekspresikan semua isi hatiku dengan kata-kata
Aku akan menyampaikannya pada kalian dengan menyanyikan lagu ini
“Terima kasih banyak”, kata ini yang ingin kuucapkan secara langsung
Terima kasih telah datang untukku
Di antara banyak orang
Aku meminta maaf meninggalkan tempat kosong di sampingmu
Aku merindukanmu
Aku tak bisa mengekspresikan semua isi hatiku dengan kata-kata
Aku akan menyampaikannya pada kalian dengan menyanyikan lagu ini
“Terima kasih banyak”, kata ini yang ingin kuucapkan secara langsung
Terima kasih telah datang untukku
Berapa kalipun musim berlalu, kaulah yang kulindungi di sisiku
Aku akan menunggu pertemuan kembali kita suatu saat nanti
Aku bahagia bisa bersamamu di masa-masa yang indah mempesona
Seperti itulah hatiku yang selalu tak berubah, aku di sini menunggumu kembali
Menunggumu
Aku tak bisa mengekspresikan semua isi hatiku dengan kata-kata
Aku akan menyampaikannya pada kalian dengan menyanyikan lagu ini

“Terima kasih banyak”, kata ini yang ingin kuucapkan secara langsung
Terima kasih telah datang untukku
NB: ini lagu udh lama, tapi tetep easy listening BGT, cucok sosweeettt 
http://haerajjang.wordpress.com/2013/08/13/k-lyric-se7en-thank-you-with-indonesian-translation/

Lupa menurut al-Qur'an

بسم الله الرحمن الرحيم


di antara kesulitan-kesulitan manusia adalah ia memiliki sifat lupa. itu adalah perkara yang berbahaya baginya, dimana ia (sifat lupa) akan memperingatinya (Manusia) dalam banyak situasi dan kondisi, serta terhadap Harmonisasi yang baik (sehat) bagi problematika hidup yang dihadapinya. al-Qur'an menyebutkan kata "Lupa" atau "lalai" dalam banyak ayat. apabila kita kembali merujuk kepada ayat-ayat ini dan mempelajari makna-maknanya, maka pastilah kita akan mendapati bahwa lupa yang ada di dalamnya memiliki sejumlah makna, yang makna ringkasnya adalah:

  • lupa yang datang secara tiba-tiba pada pikiran tentang peristiwa-peristiwa, nama-nama orang per orang, dan informasi-informasi yang beraneka bentuk yang sebelumnya telah diperoleh seseorang. itu adalah lupa biasa yang dialami orang sebagai konsekuensi saling berdesakandan tumpah tindihnya berbagai informasi. para Psikolog mempelajari bentuk lupa ini dengan studi yang terperinci dan mereka menghubungkannya kepada tumpang-tindihnya informasi. mereka membedakan dua jenis dari Overlapping yakni hambatan retroaktif dan hambatan proaktif. hambatan retroaktif terjadi di saat studi yang tengah kita lakukan terhadap materi-materi baru melemahkan memori kita terhadap materi-materi yang sebelumnya telah kita pelajari. sementara hambatan proaktif terjadi karena pengaruh kebiasaan-kebiasaan dari berbagai aktifitas dan informasi kita terdahulu dalam memori kita terhadap materi yang baru kita pelajari.dimana memori kita terhadap materi ini akan menjadi lebih baik apabila informasi-informasi dan aktifitas lalu lebih sedikit. untuk itu,anak-anak lebih mampu di dalam mengingat detail peristiwa yang lalu,daripada orang-orang yang telah mencapai usia dewasa. Allah telah menyebutkan jenis lupa ini  dalam firmannya: "kami akan membacakan (al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa." (QS. al-A'la:6)
  • lupa yang memuat makna lalai atau ceroboh. seperti orang yang lupa sesuatu berada di tempat mana, atau seperti orang yang hendak berbicara dengan orang lain dalam berbagai persoalan, lalu ia membicarakan sebagiannya dan lupa sebagian yang lainnya. ia baru ingat setelah selesai berbicara kemudian. contohnya seperti yang diceritakan dalam al-Qur'an tentang murid Nabi Musa as: "muridnya menjawab, tahukah engkau tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak ada yang melupakan aku untuk menceritakannya, melainkan setan. dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali." (QS. al-Kahfi:63). contoh lain adalah apa yang diucapkan Nabi Musa as kepada hamba yang saleh, sebagaimana diungkapkan oleh Allah SWT dalam firmannya: "janganlah engkau menghukum aku karena kelupaanku." (QS. al-Kahfi: 73).       jenis lupa semacam ini mungkin juga diinterpretasikan dengan Overlapping.
  • lupa dengan makna hilangnya perhatian kepada suatu perkara. contoh dari lupa ini terdapat dalam al-Qur'an: "mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka."  (QS. at-Taubah:67). adapun makna kalimat "mereka telah lupa kepada Allah" adalah bahwasanya mereka tidak taat kepadanya akibat telah hilangnya perhatian mereka dengan ketaatan pada perintahnya. dan makna kalimat "maka Allah melupakan mereka" adalah bahwa Allah mengalihkan karunianya dari mereka dan menyerahkan mereka kepada nafsu-nafsu mereka sendiri.
Sumber: Dr. Muhammad 'Utsman Najati, dalam bukunya "Jiwa Manusia dalam Sorotan al-Qur'an."

Sabtu, 05 Juli 2014

La Tahzan ( Aidh al-Qarny )

Mengendalikan Emosi
Emosi dan perasaan akan bergolak dikarenakan dua hal; kegembiraan
yang memuncak dan musibah yang berat. Dalam sebuah hadits Rasulullah
bersabda,
"Sesungguhnya aku melarang dua macam ucapan yang bodoh lagi
tercela: keluhan tatkala mendapat nikmat dan umpatan tatkala mendapat
musibah."
Dan, Allah berfirman,
{(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap
apa yang luput dan kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa
yang diberikan-Nya kepadamu.}
(QS. Al-Hadid: 23)
Maka dari itulah, Rasulullah bersabda,
 "Sesungguhnya kesabaran itu ada
pada benturan yang pertama."
Barangsiapa mampu menguasai perasaannya dalam setiap peristiwa,
baik yang memilukan dan juga yang menggembirakan, maka dialah orang
yang sejatinya memiliki kekukuhan iman dan keteguhan keyakinan. Karena
itu pula, ia akan memperoleh kebahagiaan dan kenikmatan dikarenakan
keberhasilannya mengalahkan nafsu. Allah s.w.t. menyebutkan bahwa
manusia adalah makhluk yang senang bergembira dan berbangga diri.
Namun, menurut Allah, ketika ditimpa kesusahan manusia mudah berkeluh
kesah, dan ketika mendapatkan kebaikan manusia sangat kikir. Akan tetapi,
tidak demikian halnya dengan orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya.
Itu karena merekalah orang-orang yang mampu berdiri seimbang di antara
gelombang kesedihan yang keras dengan dan luapan kegembiraan yang
tinggi. Dan mereka itulah yang akan senantiasa bersyukur tatkala mendapat
kesenangan dan bersabar tatkala berada dalam kesusahan.
Emosi yang tak terkendali hanya akan melelahkan, menyakitkan, dan
meresahkan diri sendiri. Sebab, ketika marah, misalnya, maka kemarahannya
akan meluap dan sulit dikendalikan. Dan itu akan membuat seluruh
tubuhnya gemetar, mudah memaki siapa saja, seluruh isi hatinya tertumpah
ruah, nafasnya tersengal-sengal, dan ia akan cenderung bertindak
sekehendak nafsunya. Adapun saat mengalami kegembiraan, ia
menikmatinya secara berlebihan, mudah lupa diri, dan tak ingat lagi siapa
dirinya.
Begitulah manusia, ketika tidak menyukai seseorang, ia cenderung
menghardik dan mencelanya. Akibatnya, seluruh kebaikan orang yang tidak
ia sukai itu tampak lenyap begitu saja. Demikian pula ketika menyukai
orang lain, maka orang itu akan terus ia puja dan sanjung setinggi-tingginya
seolah-olah tak ada cacatnya. Dalam sebuah hadist dikakatan: uCintailah
orang yang engkau cintai sewajarnya, karena siapa tahu ia akan menjadi musuhmu
di lain waktu, dan bencilah musuhmu itu sewajarnya, karena siapa tahu dia menjadi
sahabatmu di lain waktu."
Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda, "Ya Allah saya minta pada-
Mu keadilan pada saat marah dan lapang dada."
Barangsiapa mampu menguasai emosinya, mengendalikan akalnya dan
menimbang segalanya dengan benar, maka ia akan melihat kebenaran, akan
tahu jalan yang lurus dan akan menemukan hakekat.
{Sesungguhnya, Kami telah mengutus rasul-rasul dengan membawa bukti-bukti
yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca
(keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.}
(QS. Al-Hadid: 25)
Islam mengajarkan keseimbangan norma, budi pekerti, dan perilaku
sebagaimana ia mengajarkan manhaj yang lurus, syariat yang diridhai, dan
agama yang suci.
{Dan, demikianlah (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat
yang adil dan pilihan.}
(QS. Al-Baqarah: 143)
Keadilan merupakan tuntutan yang ideal sebagaimana ia dibutuhkan
dalam penerapan hukum. Itu terjadi, karena pada dasarnya Islam dibangun
di atas pondasi kebenaran dan keadilan. Yakni, benar dalam memberitakan
berita-berita Ilahi dan adil dalam menetapkan hukum, mengucapkan
perkataan, melakukan tindakan dan berbudi pekerti. Dan,
{Telah sempurnalah kalimat Rabb-mu (al-Qur'an) sebagai kalimat yang benar)

Seri Ilmu Pengetahuan

Bismillah
Ø  Seputar ilmu geografi
Objek material adalah semua gejala yang terjadi di permukaan bumi atau geosfer, yang meliputi:
a.       LITOSFER (Lapisan batuan/lapisan keras), merupakan lapisan luar dari bumi kita. Lapisan ini dalam ilmu geologi disebut kerak bumi.
b.      ATMOSFER (lapisan udara), terutama untuk lapisan atmosfer yang paling bawah yang dikenal sebagai lapisan troposfer.
c.       HIDROSFER (Lapisan air), baik yang berupa lautan, dananu, sungai dan air tanah.
d.      BIOSFER (lapisan tempat hidup), yang terdiri atas hewan, tumbuhan, dan manusia sebagai suatu komunitas bukan sebagai individu.
e.      PEDOSFER (Lapisan tanah), merupakan lapisan batuan yang telah mengalami pelapukan, baik pelapukan fisik, organik, maupun kimia.
f.        ANTROPOSFER (Lapisan manusia), ini merupakan tema-tema sentral.
Berikut ini ada beberapa teori tentang pembentukan muka bumi sebagai berikut:
a.       Continental drift (apung benua), alfred lothar wegener mengatakan semua benua berasal dari satu masa daratan yang besar atau induk yang disebut PANGEA. Daratan ini mengalami proses pembentukan yang panjang. Dimulai dari terbentuknya daratan GONDWANA 200 juta tahun lalu. Gondwana merupakan pecahan dari pangea yang mengalami pergeseran secara perlahan-lahan. Sekitar 100 juta tahun kemudian, tanah gondwana terurai. Akhirnya, secara perlahan-lahan masa daratan ini mengalami pergeseran ke arah equator dan terbentuk benua-benua seperti sekarang ini.
b.      Kontraksi (contracties), rene descartes mengatakan bahwa bumi semakin lama semakin susut dan mengkerut disebabkan oleh terjadinya proses pendinginan, sehingga di bagian permukaannya terbentuk relief berupa gunung, lembah dan daratan.
c.       Laurasia gondwana (dua benua), suess mengatakan bahwa bumi terbentuk dari dua benua yang berada di belahan bumi bagian utara dan selatan. Kedua benua itu bernama LAURASIA dan GONDWANA. Kemudia kedua benua secara perlahan-lahan bergerak ke arah equator dan akhirnya terpecah-pecah menjadi beberapa benua seperti yang kita lihat sekarang ini. Yang termasuk kedalam benua Gondwana adalah Amerika selatan, Afrika, Australia, dan India. Sedangkan benua-benua yang lain termasuk di dalam benua laurasia.
d.      Lempeng Tektonik, vine dan matthews menemukan garis-garis magnetis bumi yang menunjukan bahwa batuan pada dasar laut jauh lebih muda dari batuan yang di atasnya. Hal ini menunjukan bahwa bumi terdiri atas lempengan-lempengan yang sebagian berupa benua dan sebagian lain berupa lautan.
e.      Teori konveksi (convection Theory), arthur holmes dan harry h. Hess dan dikembangkan oleh roert diesz menyatakan bahwa di dalam bumi yang ,asih dalam keadaan panas dan berpijar terjadi arus koneksi ke arah lapisan kulit bumi yang berada di atasnya, sehingga ketika arus konveksi yang membawa materi yang berupa lava yang sampai ke permukaan bumi di wilayah mid oceanic ridge (punggung tengah samudra), lava tersebut akan membeku membentuk lapisan kulit bumi yang baru menggeser dan menggantikan kulit bumi yang lebih tua.
Kerak bumi ada dua macam yaitu:
a.       Kerak benua, merupakan banua padat yang terdiri atas batuan granit dibagian atasnya, sedangkan di bawahnya terdiri dari batuan Basalt, kerak ini di atasnya berupa benua.
b.      Kerak samudra, merupakan benda padat yang terdiri atas endapan di laut pada bagian atasnya, kemudian di bawahnya tersusun batuan vulkanik dan paling bawah dari batuan beku, kerak ini di atasnya berupa samudra. Kerak samudra lebih tipis dan lebih berat dari kerak benua.
Macam-macam bentuk gunung api, yaitu:
a.       Gunung api perisai/tameng/aspit, yaitu gunung api ini terjadi karena magma yang keluar sangat encer, sehingga magma yang keluar dapat bergerak sangat jauh dari lubang pusat erupsi (letusan), akibatnya akan membentuk gunung api yang mempunyai lereng yang landai.
MAGMA: batuan cair (cairan) panas yang memijar dan bersuhu tinggi.
b.      Gunung api maar, gunung api ini terjadi akibat erupsi eksplosif (kuat) kemudian gunung api ini mati, akibatnya dapur gunung api yang dangkal, bentuk gunung api ini kecil tetapi mempunyai lereng yang curam.
c.       Gunung api strato, terjadi akibat peristiwa eksplosif (ledakan) kemudian diselingi erupsi efusif (lemah) yang mengeluarkan lelehan, akibatnya lereng gunung menjadi berlapis-lapis. Bentuk gunung api ini yang paling banyak di dunia, dan hampir semua gunung api di indonesia berbentuk strato.
Lahar dibedakan menjadi dua yaitu:
a.       Lahar panas, adalah lahar yang baerasal dari magma yang bercampur dengan air (air ini berasal dari pipa kawah/danau kawah), setelah bercampur bsru keluar.
b.      Lahar dingin, adalah lahar yang berasal lava (bahan letusan) yang mengendap di lereng-lereng gunung berapi kemudian kena air hujan mencair terus mengalir menuruni lereng.
Tanda-tanda gunung api akan meletus (gejala pravulkanik):
a.       Terjadi gempa
b.      Temperatur/suhu di area sekitar kawah mengalami peningkatan
c.       Sumber-sumber air atau mata air menjadi kering
d.      Adanya suara gemuruh dari dalam gunung
e.      Tumbuh-tumbuhan disekitar lereng layu
f.        Banyak binatang yang turun gunung
Setelah gunung api beristirahat atau bahkan mati, kadang-kadang masih terdapat gejala yang menunjukan sisa aktifitas vulkanisme. Gejala itu dinamakan gejala pascavulkanik. Gejala tersebut antara lain:
a.       Munculnya sumber air panas, sperti yang terdapat di cipanas dan ciater jawa barat, dan baturaden di jawa tengah.
b.      Munculnya sumber air mineral (air makdani), yaitu sumber air yang mengandung larutan mineral. Air dari tempat ini sering dijadikan obat karena mengandung belerang. Contohnya maribaya dan sangkanurip di jawa barat.
c.       Munculnya geiser, yaitu sumber air panas yang memancar berkala, seperti yang ditemukan di cisolok dan kemojang jawa barat dan the old faithful geiser yang terkenal di yellowstone national park amerika serikat.
d.      Munculnya sumber gas (ekshalasi). Seperti gas belerang (solfatar), yang terdapat di dataran tinggi Dieng.
Bencana yang ditimbulkan gunung api antara lain:
a.       Bahaya langsung, berupa letusan yang disertai hamburan abu, bom, batu apung, prioklastika, aliran lumpur, dan lava.
b.      Bahaya tidak langsung, merupakan bencana yang terjadi karena adanya aktifitas gunung api, misalnya gelombang pasang (tsunami), gempa vulkanik, perubahan muka tanah, hilangnya sumber air  tanah dan sebagainya.
c.       Munculnya gas-gas yang berbahaya, seperti asam sulfida, sulfur dioksida, dan monoksida.
d.      Bahaya lanjutan seperti perubaham mutu lingkungan fisik (gerakan tanah, longsoran, guguran batuan)
e.      Letusan besar sebuah gunung berapi dapat menyebabkan jatuhya korban jiwa dan hilangnya harta kekayaan, bagi penduduk di daerah sekitarnya.
f.        Letusan gunung api dapat menimbulkan banjir lahar baik panas maupun dingin.
Manfaat dari gunung api antara lain yaitu:
a.       Sumber mineral, daerah mineralisasi dan potensi air tanah merupakan aspek-aspek positif yang dapat di manfaatkan dari adanya aktivitas gunung api.
b.      Daerah tangkapan hujan.
c.       Daerah pertanian yang subur, kesuburan tanah di daerah tersebut diperoleh dari produk gunung api yang telah mengalami pelapukan.
d.      Daerah objek wisata.
e.      Sumber energi, tenaga panas bumi dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit tenaga listrik.
Menurut jenisnya gempa bumi dibedakan menjadi empat, yaitu:
a.       Gempa bumi vulkanik, adalah gempa yang disebabkan oleh adnya aktivitas vulkanisme atau letusan gunung api. Gempa ini hanya terasa disekitar gunung api tersebut dan berlangsungnya sebelum, selama dan sesudah letusan gunung api tersebut.
b.      Gempa bumi tektonik, adalah gempa yang disebabkan adanya gerakan lempeng lithosfer, lempeng atau kerak bumi yang bergerak pada suatu saat akan terjadi tumbukan. Tumbukan tersebut akan menyebabkan terjadinya gempa tektonik. Gempa ini sangat berbahaya karena getarannya sangat kuat dan tidak ada tanda-tanda sebelumnya.
c.       Gempa bumi terban atau runtuhan, yaitu gempa yang terjadi karena jatuhnya massa tanah dibagian atas rongga dalam bumi secara tiba-tiba, gempa ini biasanya terjadi di daerah goa atau daerah pertambangan, lereng tebing yang curam, dan di daerah karst. Runtuhan yang terjadi di daerah-daerah tersebut sering menimbulkan getaran gempa yang dikelompokan kedalam gempa bumi runtuhan.
d.      Gempa bumi tumbukan, gempa ini terutama disebabkan oleh meteor besar yang jatuh ke bumi, gempa ini jarang terjadi.
Pengikisan (erosi) adalah terkikisnya dan terbawanya batuan oleh tenaga air, Angin, gletsyer dan gelombang laut. Macam-macam erosi  berdasarkan  tenaga penyebabnya adalah sebagai berikut:
a.       Erosi, tenaga penyebabnya air yang mengalir, biasanya terdapat di sungai.
b.      Abrasi, tenaga penyebabnya adalah gelombang laut, biasanya terdapat di pantai.
c.       Korosi (deflasi), tenaga penyebabnya adalah angin, biasanya terdapat di gurun.
d.      Glasial (ekharasi), tenaga penyebabnya adalah gletsyer, biasanya terdapat di daerah dingin seperti kutub, dan di pegunungan tinggi yang puncaknya selalu tertutup es, seperti pegunungan himalaya, pegunungan alpina, pegunungan rocky, dan puncak jaya wijaya.
Tanah berasal dari hasil pelapukan bahan anorganik (batuan) dan bahan organik (sisa tumbuhan dan binatang). Pelapukan ini terjadi karena panas matahari. Hujan, dan angin. Selain itu pelapukan juga dapat terjadi karena  meleburnya batu-batuan oleh panas ynag terjadi di dalam lithosfer. Ciri-ciri tanah yaitu tanah mempunyai sifat fisik, kimia dan biologi.
Sifat fisik tanah:
a.       Tekstur tanah adalah perbandingan relatif dari berbagai golongan besar partikel tanah dalam suatu massa tanah, terutama perbandingan antara fraksi-fraksi seperti pasir, debu dan lempung (tanah liat).
b.      Struktur tanah, merupakan cara pengikatan butir-butir tanah yang satu terhadap yang lain.
c.       Konsistensi tanah, merupakan sifat fisik tanah yang menyatakan besar kecilnya gaya kohesi dan adhesi dalam berbagai kelembaban.
d.      Lengas tanah, pada musim kemarau, musim memanen palawijaya antara lain bawang, kacang, ketela, dan sebaginya. Ladang yang kelihatan kering termyata ada gumpalan tanah yang melekat pada buah kacang atau bawang dan tanah masih lembab. Kelembaban inilah yang disebut lengas tanah.
e.      Udara tanah, petani yang menanam palawijja pada waktu hujan lebat atau tertimpa bahaya banjir tanaman tersebut akan mati lemas, hal ini karena tanaman kekurangan udara tanah.
f.        Warna tanah antara lain: warna kuning yang berasal dari mineral limonit. Warna coklat berasal dari bahan-bahan organis asam yang lapuk sebagian. Warna putih berasal dari mineral-minerral silika kuarsa, kapur, kaolin, bauksit, aluminium dan silikat, gipsum, nitrat, garam-garaman yang sudah larut serta koloida-koloida organis tertentu. Warna hitam berasal dari bahan-bahan organis yang telah terurai dengan hebat dan biasanya ada hubungannya dengan unsur-unsur karbon, magnesium, serta belerang. Warna merah berasal dari mineral  hematit atau turgit. Warna hijau berasal dari oksida ferrous. Warna biru berasal dari mineral lilianit.
g.       Suhu tanah, pada waktu pagi, siang dan sore hari suhu tanah selalu berbeda. Pada siang hari suhu tanah lebih tinggi dibanding dengan suhu tanah  di pagi hari maupun sore hari.
h.      Permeabilitas tanah, ini merupakan kecepatan air merembes ke dalam tanah  melalui pori-pori, secara horizontal maupun vertikal. Cepat lambatnya perembesan air ini sangat ditentukan tekstur tanah.
i.         Porositas tanah, ini merupakan prosentase volume pori yang ada didalam tanah dibanding volume masa tanah.
j.        Drainase tanah, ini merupakan kemampuan tanah mengalirkan dan mengatuskan kelebihan air, baik air tanah maupun pada air permukaan.
Sifat kimia tanah yaitu berupa derajat keasaman pH. pH tanah dikatakan normal antara 6,5 sampai 7,5. Pada keadaan ini semua unsur hara pada larutan tanah dalam keadaan tersedia, seperti ketersediaan nitrogen serta unsur hara lainnya.
Sifat biologi tanah, didalam tanah terjadi proses-proses yang menghasilkan sifat biologi tanah. Misalnya adanya cacing tanah akan meningkatkan unsur nitrogen, posfor, kalium, serta kalsium dalam tanah, sehingga dapat meningkatkan kesuburan tanah. Peranan cacing tanah yang lain berupa lubang yang ditinggalkan di tanah akan meningkatkan dranase tanah, hal ini penting dalam perkembangan tanah.
Untuk menjaga supaya tanah tetap subur, maka usaha-usaha yang harus dilakukan antara lain sebagai berikut:
a.       Melakukan pemupukan, ini diusahakan dengan pupuk hijau, pupuk kandang, pupuk kompos, dan pupuk buatan.
b.      Sistem irigasi yang baik, misalnya membuat check dam dan bendungan-bendungan.
c.       Pada lereng-lereng gunung dibuat hutan-hutan cadangan.
d.      Menanami lereng-lereng yang telah gundul.
e.      Menyelenggarakan pertanian di daerah miring secara benar.
Ada beberapa sifat atmosfer diantara yaitu:
a.       Memiliki massa dan tekanan
b.      Bersifat dinamis (dapat berpindah tempat) dan elastis (dapat mengembang dan menyusut)
c.       Tembus pandang terhadap semua bentuk radiasi
d.      Tidak berasa, tidak berwarna, dan tidak berbau.
Manfaat adanya atmosfer yaitu:
a.       Sebagai perlindungan bagi makhluk hidup dan radiasi matahari
b.      Pernapasan bagi makhluk hidup
c.       Perlindungan bumi dari jatuhnya benda-benda langit kepermukaan bumi
d.      Memungkinkan terjadinya awan,  penyebab terjadinya hujan
e.      Pemantulan gelombang bunyi untuk komunikasi
f.        Menyebabkan suhu bumi tidak terlalu tinggi pada siang hari dan tidak terlalu rendah pada malam hari
g.       Sarana berlangsungnya proses pembakaran, tanpa ada udara kita tidak dapat menyalakan api
h.      Penggerak kincir angin dan sebagi sarana olah raga terbang layang.
Cuaca adalah keadaan udara di suaatu tempat yang relatif sempit dan jangka waktunya relatif singkat. Contoh udaranya cerah, berawan, mendung, hujan lebat. Contoh lagi, yogyakarta berawan, jakarta hujan, medan cerah, denpasar hujan.
Iklim adalah keadaan rata-rata udara dari suatu daerah yang relatif luas dan dalam jangka waktu yang lama (30 tahun). Contoh beriklim tropis, subtropis, subpolair, dan polair.
Angin adalah udara yang bergerak dari daerah yang bertekanan udara maksimum ke daerah yang bertekanan udara minimum. Sesuai dengan hukum buys ballot, angin bergerak dari daerah maksimum ke daerah minimum dan di belahan bumi utara berbelok ke kanan serta berbelok ke kiri di belahan bumi selatan.
Awan adalah kumpulan titik-titik air/kristal es yang melayang-layang di udara yang cukup tinggi. Terjadinya karena adanya kondensasi/sublimasi dari uap air yang terdapat dalam udara. Awan yang menempel di permukaan bumi di sebut kabut.
Jenis-jenis perairan darat yaitu:
a.       Sungai, adalah air tawar dari sumber alamiah yang mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah dan menuju atau bermuara ke laut, danau atau sungai yang lebih besar.
b.      Danau, adalah cekungan (basin) yang merupakan genangan air yang sangat luas di daratan. Danau dipandang sebagai tempat penampungan (reservoir) air tawar di darat pada ketinggian tertentu di atas permukaan laut yang bersumber dari mata air, air hujan, sungai, dan gletsyer.
c.       Rawa, adalah tanah basah yang sering di genangi air karena letaknya yang relatif rendah. Berdasarkan airnya rawa dibedakan menjadi dua yaitu rawa  yang airnya selalu mengalir dan rawa yang airnya menggenang.





Mari Belajar dari Sahabat Umar bin Khattab ra

Satu hari terlihat Umar bin Khattab berlari-lari mengejar seekor unta. Rupanya unta yang lepas itu berasal dari peternakan Baitul Maal. Ketika ditanya “Wahai khalifah, mengapa tuan tidak menyuruh anak buah untuk menangkap unta liar tersebut?” Umar pun menjawab, “Ini aku lakukan karena aku tidak siap menjawab pertanyaan Allah di yaumil akhir nanti, bahwa Umar telah mensia-siakan sebagian harta umat yang diamanahkan di atas pundak Umar di Baitul Maal?” Luar biasa, begitu teguh Umar mengemban amanah yang ada di pundaknya. Bandingkan dengan apa yang terjadi di negeri kita ini. “Unta yang lepas dari Baitu Maal” itu terjadi setiap hari. Wujudnya bisa berupa dana triliunan rupiah yang mengucur lewat skema BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia). Atau jutaan kubik kayu yang ditebang dari hutan-hutan di Indonesia, dan tak jelas ke mana hasilnya. Begitu pula dengan miliaran rupiah dana yang terbang dari bank-bank milik pemerintah, akibat transaksi-transaksi fiktif beberapa waktu lalu. Sayangnya tak terlihat pemimpin kita yang mengejar dengan terbirit-birit, dana yang kabur dari kas negara tersebut. Seandainya mereka sempat mendengar kisah Umar ini, boleh jadi sikap mereka akan lain.
Tak hanya untuk urusan itu Umar patut diteladani. Beliau juga selalu meminta sahabat-sahabat senior untuk melakukan social audit serta teguran jika ia diindikasikan melakukan penyelewengan. Pernah satu ketika ia mengumumkan secara terbuka di masjid. “Siapa yang berkenan untuk meluruskan aku ketika aku menyimpang”. Tiba tiba meloncatlah seorang sahabat dengan pedang terhunus dan berkata, “Wahai amirul mukminin, niscaya akan aku luruskan engkau dengan pedang ini jika aku mendapatkan engkau khianat dengan amanah rakyat yang ada di pundakmu”. Mendengar pernyataan itu Umar tersenyum gembira, ”Alhamdulillah masih ada yang sayang kepada saya dan bersedia mengingatkan”.
Seorang pemimpin yang paripurna, tentu tak sekadar jujur dan memegang amanah. Ia juga harus cerdas dan mampu menciptakan suatu sistem yang baik, sehingga kejujuran dan amanah itu tidak hanya berlaku bagi dirinya, namun juga seluruh aparatnya. Tengok saja bagaimana Umar menciptakan satu sistem manajemen yang sangat terdokumentasi dengan baik. Atas instruksi Umar, Abdullah Ibn Arqam dan para asistennya melakukan pencatatan penerimaan dan pengeluaran dengan lajur yang terpisah satu di sisi debet dan satu di sisi kredit. Pembukuan ini merangkum kharaj (1/5 hasil garapan atas tanah pemerintah), usyr (1/10 hasil panen pertanian), jizya (pajak kemanan dari non-muslim), ghanimah (1/5 dari pampas an perang) usyur al-tijarah (pajak impor sebesar 10%) dan zakat serta harta harta warisan dan peninggalan yang tidak ditemukan lagi ahli warisnya di sisi pendapatan (waridaat). Sementara gaji pegawai negeri, tunjangan untuk para pensiun ahli Badr dan Uhud, pembangunan infrastruktur, keperluan dakwah dan pendidikan, serta belanja angkatan bersenjata dicatat di sisi pengeluaran.
Tentu saja manajemen keuangan masa kini sudah jauh lebih baik dan moderen di banding zaman Umar. Namun yang perlu diteladani dari Umar adalah kemauannya untuk terus berkreasi dan berinovasi, melalui ijtihad yang tak henti-hentinya, untuk mengatasi persoalan-persoalan yang di masa itu belum ada contoh penyelesaiannya.
Masalah-masalah yang belum ada contoh penyelesaiannya, cukup banyak ada di Indonesia. Misalnya saja bagaimana mengelola aset perusahaan yang menumpuk di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN, lembaga yang kini sudah dibubarkan itu). Untuk mengatasinya, para pemimpin kita tampaknya harus “berijtihad” terus menerus.
Umar juga selalu menerapkan kebijakan keuangan publik yang mengemban amanah dan kepentingan rakyat. Hal ini tercermin dari prioritas Umar untuk membangun jalan-jalan sarana irigasi serta kanal-kanal penunjang irigasi pertanian. Tercatat Umar membangun kanal yang menghubungkan sungai Nil dengan Laut Merah.
Ah, seandainya para pemimpin kita bersedia meneladani Umar....


 Source: http://tazkiaonline.com/bicara.php?aksi=lihat&bicaraid=11



Makhluk Terbatas

  Makhluk terbatas itu kamulah salah satunya. Kekuatanmu terbatas, daya pikirmu terbatas, semua yang ada dalam dirimu dan di luar dirimu ter...