Kamis, 16 November 2023

Kisah KH Hasyim Asy’ari dengan anjing milik Ch. O Vander Plas

 


Tahun 1947 masih menjadi tahun dimana bergejolaknya perundingan kekuasaan wilayah Indonesia dengan pihak kolonial. Berbagai upaya dilakukan Indonesia agar bisa menjadikannya negara yang utuh tanpa campur tangan dan kekuasaan belanda lagi, mengingat proklamasi kemerdekaan Indonesia sudah dikumandangkan Soekarno pada tahun 1945. Hal itulah yang diperjuangkan para tokoh-tokoh nasional dan Islam agar terus berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan secara sempurna, bahkan KH Hasyim Asy’ari mengumandangkan resolusi Jihadnya melawan penjajah dua bulan setelah pembacaan proklamasi kemerdekaan.

Pada tahun 1947 permintaan perundingan Belanda yang sudah disetujui Sutan Sahrir selaku perdana menteri Indonesia mendapat banyak kecaman dari berbagai pihak termasuk  dari gerakan Masyumi yang dipimpin oleh KH Hasyim Asy’ari. Menghadapi hal tersebut pihak Belanda meminta kepada Gubernur Jawa Timur  yang dikomandani Ch. O Vander Plas  untuk berkunjung ke Tebuireng meminta persetujuan langsung dari KH Hasyim Asy’ari.

Kedatangan orang penting Belanda tersebut dikawal ketat. Para santri bersiaga menghadapi kedatangan tamu kolonial, mereka menjaga kyai disejumlah pintu gerbang. Namun keadaan baik-baik saja dan tidak terjadi bentrokan, bahkan tamu belanda itu sangat santun selama berada di Tebuireng, mengingat mereka mempunyai tujuan untuk mengambil simpati KH Hasyim Asy’ari.

Setelah dirasa aman, tamu tersebut dipersilahkan masuk menghadap KH Hasyim Asy’ari. Untuk menghormati pesantren dan KH Hasyim Asy’ari, anjing yang dibawa bersama Ch. O Vander Plas tidak dibawa masuk dan ditinggalkan di luar gerbang pesantren, karena yang mereka tahu anjing adalah binatang yang tidak disukai oleh kaum Muslim apalagi dikalangan pesantren.

KH Hasyim Asy’ari tetap menghormati tamu Kolonial yang datang seperti tamu-tamu yang lain, bahkan disuguhinya buah-buahan segar hasil dari perkebunan di pesantrennya yang membuat tamu kolonial itu memuji Pesantren Tebuireng. “buah-buah ini sangat segar, saya kagum dengan kemandirian pesantren ini, saya sudah lama mendengarnya.”

KH Hasyim Asy’ari mengucapkan terimakasih dengan nadanya yang datar. Setelah sedikit berbasa-basi, kemudian tamu kolonial langsung mengutarakan tujuannya datang ke Tebuireng yang pada akhirnya pembicaraan Ch. O vander Plas dialihkan KH Hasyim Asy’ari pada Anjingnya yang terus menggonggong di luar gerbang. “Maaf tuan sepertinya anjingnya kepanasan dan kehausan berada di luar, silahkan dibawa masuk saja.”

Hal tersebut sedikit membuat kebingungan tamu kolonial, sekaligus kekaguman kepada kyai karismatik tersebut. “bukannya anjing adalah binatang yang dibenci kaum muslim?” tanya sang tamu.

“bukan dibenci, namun dalam batas-batas tertentu muslim memang harus menjauhinya agar tidak terkena najis. Tapi kita tetap berkewajiban memberlakukan makhluk Tuhan dengan sebaik-baiknya.”

Tak lama berselang sang tamu meminta kepada salah satu prajuritnya agar membawa anjing tersebut masuk ke pesantren, sebuah pemandangan yang cukup ganjil disaksikan oleh para santri. Setelahnya perbincangan dilanjutkan dengan kesimpulan akhir bahwa KH Hasyim Asy’ari tetap menolak perjanjian Linggarjati itu karena keputusan bersama dan tamu kolonial pulang dengan tangan hampa.

Dua santri senior yang sedari tadi menemani pertemuan tersebut mendapat jawaban dari KH Hasyim Asy’ari mengenai pemandangan ganjil diperbolehkannya Anjing masuk ke dalam pesantren.

“anakku kalau najis itu sekedar luar saja, seperti duduknya anjing di kursi, itu mudah dibersihkan dengan debu atau air sabun, tapi najisnya hati karena bersekongkol dengan sekutu demi kekuasaan, janganlah sampai kita turuti.”

Sumber : Buku Novel Biografi Sang penakluk Badai (KH Hasyim Asy’ari)


Jumat, 01 September 2023

Rindu paling dalam (Rindu ini untuk Bapak)

 



RINDU INI UNTUK BAPAK

Bagaimana cara mengulang waktu? Sebuah kalimat pertanyaan yang sampai kapanpun tidak akan pernah terjawab, karena faktanya pertanyaan itu adalah pertanyaan Imajinasi yang dilontarkan seseorang karena merindukan semua yang sudah tertinggal di masa lalunya. Dan orang  itu adalah aku, yah aku melontarkan pertanyaan imajinasi tersebut, berharap kehidupan ini tidak jauh berbeda dengan kehidupan negeri dongeng, ada lorong waktu yang bisa aku telusuri jalannya, lantas memperbaiki hari-hari bersamanya, bersama seorang laki-laki yang sampai kapanpun akan menjadi cinta pertama dalam hidupku.

Di siang yang di selimuti awan mendung saat  ini, aku ingin menceritakan tentang kerinduan yang tidak akan menemukan muaranya di dunia, karena kerinduan ini untuk seorang laki-laki yang langkah kakinya sudah tak lagi meninggalkan jejak di atas bumi, seorang laki-laki yang suara lembutnya sudah tak lagi terdengar, seorang laki-laki yang sorot teduh matanya tak lagi aku rasakan, seorang laki-laki yang meski raganya sudah tidak ada di dunia namun kenangannya akan selalu tinggal dalam relung hatiku yang paling dalam.

Bapak, laki-laki itu adalah bapak. Tepat pada bulan Safar enam tahun lalu bapak sakit keras dan akhirnya Tuhan membawanya dalam solat terakhirnya. Bapak tentu tidak akan pernah bisa membaca tulisan ini, tapi kalimat-kalimat kerinduan dalam tulisan ini aku ingin persembahkan untuk bapak, seorang laki-laki yang kuat, seorang laki-laki yang tegas, seorang laki-laki yang lembut dan seorang laki-laki yang mudah sekali menangis.

Seperti sepuluh tahun lalu, tepatnya tahun 2011 tahun dimana aku harus merantau ke luar kota untuk melakukan test masuk studi strata satu, hal yang sampai saat ini akan selalu membuatku pilu ketika mengingatnya.  karena sebelum keberangkatanku, Bapak memelukku sambil menangis, di tengah isak tangisnya bapak memintaku  belajar yang baik agar bisa lulus dan masuk kampus harapan bapak, aku hanya mengangguk takzim dengan tangisan yang tak kalah hebat darinya.

Bapak memang berharap besar agar aku bisa masuk di kampus khusus perempuan tersebut, alasannya tidak karena berharap tentang keduniaan, tapi lebih kepada bapak ingin aku sebagai anak perempuannya bisa memberikan sebuah mahkota di kehidupan selanjutnya dan aku tidak bisa menolaknya, aku seorang anak yang tidak bisa mengatakan B jika bapak sudah mengatakan A. Sejujurnya aku berat menerima harapan bapak yang terlalu besar padaku, tapi aku melakukan semampuku, sekuatku dan karena aku menyayangi bapak lebih dari siapapun.

Setelah aku lolos untuk masuk di kampus tersebut, aku sudah jarang sekali ada di rumah. Aku lebih banyak menghabiskan waktu di tanah rantau, bersama aktifitas-aktifitasku yang menurut versiku itu sangat padat. Aku hanya pulang ke rumah, ketika menjelang liburan saja, dan bapak selalu menyambut kepulanganku dengan suka cita, bahkan saat aku akan pergi lagi ke tanah rantau, bapak tak segan-segan mengantarku sampai di pintu bis kota sambil membantu membawakan barang-barang bawaanku.

Waktu berjalan memelesat seperti busur panah, empat tahun adalah waktu yang biasa dihabiskan para pelajar untuk menyelesaikan studi strata satunya, begitupun aku. Tepatnya tahun 2015 bulan Agustus aku di wisuda bersama ratusan mahasiswa lainnya, dan bapak menatap dengan bangga toga yang aku kenakan hari itu, bapak tersenyum tulus menyambutku di halaman gedung, tanpa pernah aku sadari bahwa bapak sakit, hari itu bapak sebenarnya sedang sakit. Tapi demi menghadiri prosesi wisudaku, bapak menahan rasa sakitnya dan  hanya raut bahagia yang aku saksikan di wajahnya hari itu.

Bahkan hari itu bapak mengulurkan tangannya menyodorkan sebuah kerudung segi empat bertuliskan Made in Turkey, untuk hadiah wisuda katanya. Meskipun aku tidak menyukai kerudung segi empat bermotif jaman dulu tersebut, aku tetap menerimanya dengan senyum sedikit terpaksa. Rupanya bapak menangkap gelagat dari wajahku, sampai kemudian beliau mengatakan bahwa jika tidak suka, tidak apa-apa untuk di simpan saja. sebuah kenangan yang selalu membuat aku menitikkan air mata saat mengingatnya kembali, karena aku menyesalkan diriku, kenapa aku tidak menunjukkan wajah bahagia saat menerima hadiah tersebut, atau minimal berpura-puralah bahagia saat menerimanya.

Tiga bulan setelah acara wisuda tersebut, bapak harus masuk rumah sakit. Aku masih begitu mengingat wajah kesakitan bapak saat itu, aku masih mengingat wajah bapak yang mencoba untuk tetap tersenyum di tengah rasa sakit yang dideritanya, aku masih begitu mengingat ketika bapak menahan sesak di dadanya setiap malam dan aku masih sangat mengingat saat fajar hari itu Tuhan membawa bapak dalam solatnya.

Hatiku benar-benar kosong  , aku sempat tidak tahu sedang merasakan apa ketika orang-orang sudah mulai ramai mengurusi bapak yang sudah tidak bergerak lagi, aku kebingungan dengan apa yang aku dengar,  kenapa orang-orang riuh sekali menangis diiringi lantunan ayat-ayat suci dibacakan tak pernah henti. hari itu disambut dengan hujan dan guntur yang bertalu-talu, sampai akhirnya aku tersadar bahwa hatiku benar-benar pilu. Aku tersadar bahwa laki-laki gagah itu sudah tidak ada, laki-laki gagah itu sudah pergi ke dimensi lain alam ini, meninggalkan kami di tengah-tengah hiruk pikuk padatnya aktifitas dunia.

Hari-hari setelah kepergian bapak adalah hari-hari penuh kerinduan, hari-hari penuh perjuangan terbentang, hari-hari penuh do’a panjang yang aku panjatkan untuk kehidupan bapak di alam sana agar dilimpahi ketenangan dan kedamaian. Aku ikhlas, aku ikhlas, aku meyakinkan hatiku berkali-kali, bahwa  kepergian bapak adalah yang terbaik, bahwa kepergian bapak akan memberikan banyak pelajaran, bahwa kepergian bapak adalah sebuah garis takdir yang harus aku terima dengan penuh keikhlasan dan kesabaran.

Tuhan pasti punya rencana yang tidak pernah Hamba pahami pada mulanya, namun akan selalu indah pada akhirnya.


NB: Tulisan ini dimuat dalam buku Antologi yang berjudul Rindu paling dalam, diterbitkan oleh Motivaksi Inspira pada tahun 2021.

 

 

Cerita Tentang Kota (Ciputat dan Ayah)

 


Kisah ini semoga memberikan sedikit saja pembelajaran untuk siapapun yang membacanya.

Happy Reading...

Mega merah kian menghilang dan malam berlarian datang dengan warnanya yang kehitaman. Aku duduk di kursi di balik meja yang di atasnya ada sebuah Netbook merah, aku membiarkan jari-jari tangan ini menari di atas keyboardnya. Mendadak aku ingin menceritakan kisah sebuah kota yang di dalamnya aku pernah merasa seperti nano-nano, karena banyak rasa.

Putat-putat kata abang kenek kopaja memanggilnya, iya kota itu memiliki nama Ciputat, kota dengan penduduk yang cukup padat, padat karena manusia dan juga kemacetan yang tidak pernah mau berhenti memutari hari. Kota yang pernah membuatku tidak ingin beranjak pergi darinya, bahkan saat Ayah memintaku untuk pulang ke rumah dan aku menolaknya, padahal beliau pergi ke dimensi lain pada beberapa bulan setelahnya. Aku tidak tahu kenapa Ciputat begitu menyihirku, tidak ada yang benar-benar indah dipandang sebenarnya, Kemacetan, asap Knalpot yang selalu menyembur dari belakang membuat Polusi udara yang semakin tidak karuan, bahkan Banjir melanda jika musim penghujan datang dan tempat tinggalku yang dihimpit oleh rumah-rumah selalu terkena dampaknya dan semakin membuat sesak siapapun yang memikirkan kondisi tempatnya. Tapi bukan itu yang ingin aku ceritakan di sini, Ciputat boleh saja dengan jati dirinya yang memang penuh kemacetan dan kepadatan, tapi aku menemukan jati diri aku sendiri di kota ini, aku menimba Ilmu dan bertemu orang-orang hebat di sini, aku menemukan musim-musim penuh kesedihan, kebahagiaan, kesenangan, kejenuhan di sini, aku menemukan Teman-teman yang semakin membuat aku tidak mau beranjak dari Ciputat dan tentu aku menemukan Cinta yang tidak akan aku ceritakan di sini, biarkan ia menjadi masa lalu dan berlalu.

(2015)

Ciputat, pertengahan tahun.

Tahun dimana aku lulus studiku dan juga tahun aku melanjutkan studi lagi. Pada mulanya, Ayah tidak menyetujui untuk tetap berada di Ciputat setelah aku lulus  dan mengharapkan aku segera pulang ke tanah kelahiran pada tahun itu, tapi jelas itu bukanlah keinginanku. pada beberapa hari setelah aku berada di rumah, akhirnya aku berangkat lagi ke Ciputat, karena aku harus mengurusi beberapa hal. Pada saat itulah aku mengambil kesempatan untuk mencari cara bagaimana agar aku bisa tetap tinggal di Ciputat, dan akhirnya beberapa temanku mengajakku untuk melanjutkan studi dan mendaftarkan diri di salah satu Universitas di Bogor yaitu Universitas Ibnu Khaldun. Temanku bahkan tidak segan-segan meminjamiku sepeda motor agar aku mau mendaftarkan diri sebagai mahasiswa di Bogor, pada mulanya aku ragu karena orang tua tidak mengetahui niatku itu, hingga akhirnya aku memutuskan menelpon ibu untuk mengatakan yang sebenarnya dan ibu menyetujui permintaanku agar tidak mengatakannya pada Ayah.

Beberapa hari kemudian setelah aku melakukan test di Bogor, ayah menelponku dan mengatakan, “Tidak perlu melanjutkan di Bogor, lanjutkan saja di Ciputat, di tempat yang sama kamu belajar kemarin” aku hanya terdiam sambil sedikit tertawa mendengarnya. aku memang selalu tidak bisa untuk mengatakan B jika Ayah sudah mengatakan A, jadi aku putuskan untuk membatalkan studi di Bogor. keesokannya pengumuman dari Bogor datang,  bahwa aku diterima di sana , tapi aku mengabaikannya karena Ayah sudah mengatakan tidak.

Ayah dan Ciputat, Ayah dan Ciputat, itulah yang aku pikirkan setelah  menjelang akhir tahun itu Ayah di ambil oleh yang maha kuasa. Sebenarnya aku lebih mencintai Ayah atau Ciputat? Aku mungkin sangat berdosa, karena lebih mencintai Ciputat daripada Ayahku sendiri, seorang ayah yang pernah memintaku pulang saat Bulan Dzulhijah dan Muharam di tahun itu, tapi aku menolak keduanya, dengan alasan aku sedang banyak tugas di kampus, padahal tidak sama sekali.

“ayah katanya mau ngomong” suara ibu di seberang Telepon mengatakan itu padaku. Lalu ibu memberikan teleponnya pada Ayah, “halo Assalamualaikum, kenapa yah?” aku langsung saja bertanya pada Ayah kenapa dan ayah hanya mengatakan “tidak apa-apa, kamu tidak mau pulang?” aku langsung menjawabnya “tidak yah, aku sedang banyak tugas di sini” mungkin ayah kecewa dengan jawaban aku “oh yasudah, padahal di sini setelah lebaran Haji, mau menyembelih sapi” ayah mengatakan itu padaku, mungkin ayah sangat berharap aku bisa pulang ke rumah, karena Ayah juga ingin aku menikmati daging sapi yang biasa kami santap jika lebaran Haji tiba, tapi aku tetap menolaknya dan mengatakan bahwa aktifitas di sini hanya libur ketika hari pertama idul adha saja, sedangkan besoknya aktifitas sudah kembali seperti semula. jadi aku tidak bisa pulang dan sepertinya  percakapan itu berakhir dengan mengecewakan Ayah.

Ciputat, aku sangat mencintaimu dan orang-orang yang pernah aku temui di dalamnya, aku tidak ingin melewatkan waktu seharipun tanpa Ciputat di dalamnya. Kecintaanku pada Ciputat membuatku hanya sering melakukan komunikasi dengan Ayah melalui Telepon. “yah aku belum dapat kerja” aku bercerita pada Ayah tentang kesedihanku hari itu, aku memang sudah bilang pada Ayah bahwa aku akan mencari kerja untuk mengisi waktu senggang, karena kegiatan studi kali ini tidak sepadat seperti studi sebelumnya, maka ayah mengizinkannya. Ayah hanya berpesan “minta saja sama Allah yang banyak” dan seperti biasa nasehatnya seperti embun yang menyejukkan fajar pagi hari.

Pada beberapa bulan sebelumnya, aku menelpon Ayah dan mengatakan bahwa aku ingin membeli handphone baru, karena sebentar lagi ada upacara kelulusan dan ayah mengizinkannya, bahkan Ayah ingin dibelikan Handphone baru juga, tapi itu tidak terwujud sampai Ayah pergi dari dunia ini. Aku pikir memang banyak keinginan aku pada Ayah yeng belum terwujud dan Rencana ayah padaku yang juga belum terwujud, selain karena pada Tahun itu Ayah pergi, juga karena jarangnya aku berinteraksi dengan Ayah di rumah karena betahnya aku di kota yang bernama Ciputat.

Pada bulan Muharam, sebulan sebelum Ayah sakit keras, Ayah menelponku lagi dan mengatakan agar aku Pulang karena akan ada acara lebaran Yatim dan lagi-lagi aku digagalkan pada sesuatu yang sampai saat ini selalu aku sesalkan kenapa aku tidak pulang dan lebih memilih hal yang selalu aku benci ketika aku memikirkannya. Lagi aku selalu dengan wajah tanpa dosa menolak permintaannya, aku tidak pernah tahu apa yang akan waktu berikan padaku di masa depan, jika aku tahu akan terjadi sesuatu pada ayahku bulan depan, tanpa intruksi apapun aku pasti pulang.

Waktu bergulir secepat kilat, sebuah telepon masuk dari kakak tertuaku dan menyuruhku agar pulang karena ayah sakit dan memang pada malam sebelumnya aku bermimpi Ayah terbaring sakit di kamarnya. Setelah dua kali penolakan untuk pulang, akhirnya hari itu saat pertengahan hari, saat aktifitas kota sedang padat-padatnya dan matahari bersinar dengan garangnya aku pulang, menaiki sebuah kopaja jurusan Kp Rambutan kemudian naik Bis satu lagi jurusan Cilegon Merak, sesampainya di terminal Cilegon aku menaiki Angkot dan berhenti di Masjid Agung kota tersebut untuk melaksanakan solat Ashar, dari tempat itulah aku dijemput oleh kakak tertuaku untuk langsung menuju ke rumah sakit.

Selama perjalanan menuju rumah sakit, kakak  mengatakan padaku agar tidak boleh terlihat sedih di depan Ayah, aku hanya menganggukan kepala sambil mata yang terus menatap ke luar jendela mentapi kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang. Sesampainya di rumah sakit, aku langsung menuju tempat ayah dirawat, dan tidak ada yang bisa menahan air mata untuk tidak keluar dari mataku saat aku melihatnya yang sedang duduk di tempat tidur tempatnya dirawat. Pada mulanya aku memang tidak menangis dan mencoba tetap tersenyum saat masuk ke ruang tempat ayah dirawat, “assalamualaikum” aku mengucap salam dan orang-orang di dalam ruangan juga menjawab salamku begitupun ayah yang langsung melihat ke arahku, aku langsung menghampiri beliau yang terlihat lemah dengan wajahnya yang cukup pucat tapi tidak menghilangkan keteduhan yang selalu ayah pancarkan. aku bersalaman dengan Ayah sambil mengatakan “Ayah tidak apa-apakan?” dan sontak Ayah langsung memelukku dan saat itulah tangisku pecah tak tertahan.

Ayah hanya empat  hari di rawat di rumah sakit, bukan karena Ayah sudah sembuh, tapi karena ayah tidak mau berlama-lama di sana, bahkan ayah juga tidak mau cuci darah karena penyakit ginjal yang dialaminya. Ayah hanya ingin pulang ke rumah dan pihak RS  mengizinkannya  dengan syarat pihak keluarga harus menandatangani berkas khusus yang menerangkan bahwa keluarga pasien tidak akan menuntut jika terjadi sesuatu. Hari itu menjelang pertengahan hari, kami semua berkemas dan menuruti kemauan ayah. Sepanjang perjalanan pulang ayah merintih kesakitan, kami semua diam-diam menangis melihatnya dari tempat duduk belakang.

Sehari setelah ayah rawat di rumah, aku minta izin untuk ke Ciputat karena ada jadwal studi, ayah mengizinkannya dan  keesokan harinya aku sudah pulang lagi ke rumah dan empat hari kemudian saat fajar akan terbit, Ayah pergi dari dunia ini untuk selama-lamanya, Tuhan telah  menjemputnya dalam solatnya. Saat itu, waktu mendadak berjalan sangat lambat, makanan yang coba aku masukan melalui mulutku mendadak terasa sakit dan sesak di dada, air mata? Tentu satu hal yang tak akan pernah bisa aku tahan. Tapi aku ikhlas, asalkan Ayah di sana sudah tidak merasakan sakit lagi. biarlah banyaknya harapan-harapan yang ingin aku wujudkan, tergapai tanpa raga ayah lagi di atas bumi, aku pikir nafas ketulusan hatinya masih berhembus sampai saat ini.

Dua minggu setelah kepergian Ayah, aku semakin tidak ingin tetap tinggal di rumah, aku ingin Ciputat, Ciputat dan Ciputat untuk menghibur kesedihan dan kepedihanku. Pertama kalinya berangkat ke Ciputat tanpa menyentuh tangan ayah dan lagi-lagi aku menangis tak tertahan, ah memang tidak ada yang menginginkan perpisahan, tapi ini sudah hukum alam, manusia hanya butuh sabar sebanyak-banyaknya.

Setelah kepergian ayah, aku pernah menelpon Ibu pada tengah hari saat Ciputat diguyur ribuan air hujan dari langit, aku menangis sambil mengatakan “kalau ibu tidak cukup biaya, aku tidak apa-apa berhenti dari studiku” ucapku sambil terisak tangis, dan ibu langsung mengatakan bahwa aku tidak boleh berhenti. Setelah ibu tidak mengizinkanku untuk berhenti studi, aku benar-benar gencar menyebarkan Cv kemana-mana, meskipun aku harus mendapatkan hasilnya satu tahun kemudian, pada pertengahan tahun 2016.

Pada akhir tahun 2017 setelah kelulusanku, aku memutuskan untuk pulang ke tanah kelahiran dan tentu itu hal terberat, tapi lebih berat lagi jika aku tidak pulang, karena sama saja aku mengabaikan amanah Ayah. Aku meninggalkan Ciputat pada saat Matahari melambai-lambaikan sinarnya di ufuk senja, aku meninggalkan kota itu dengan jutaan kenangan menyerbu bukan main. Sepanjang perjalanan, aku hanya menatap ke luar jendela, menatap tempat-tempat yang di dalamnya aku pernah menghabiskan dengan orang-orang tercinta yang sudah seperti keluarga kedua untukku. Aku akan merindukannya, pasti aku akan sangat merindukannya, 7 tahun  Ciputat menjadi kota tempat aku berkeluh kesah, bahagia, berjuang, menangis dan bahkan aku pernah menangis di derasnya hujan dengan posisi aku mengendarai sepeda motor, tidak perlu diceritakan lagi mengapa, karena pada akhirnya seberapa jauhpun kamu melangkah, Rumah selalu menjadi tempat kembali, tidak peduli kamu suka atau tidak, Rumah akan tetap menantimu untuk kembali.

Ciputat benar-benar telah membuatku menjadi manusia yang paling tidak betah berada lama-lama di tanah kelahiran, sejujurnya ini sangat menyakitkan ketika harus mengingatnya lagi, tapi tidak apa-apa, semoga ini menjadi pelajaran untuk siapapun yang sedang melangkahkan kakinya jauh dari rumah. Kembalilah sebelum semuanya terlambat, pulanglah saat orang tua memintamu untuk itu, karena kamu tidak akan tahu apa yang telah waktu rencanakan, pada saatnya nanti kita tidak akan pernah bisa berdiskusi dengan waktu, apalagi sampai berdebat dengannya.

‘Silahkan pergi, asalkan tempat kembalimu adalah aku, rumahmu tempat kelahiranmu’ (Fitriyah Syam’un)


Tulisan ini dimuat dalam buku Antologi yang diterbitkan oleh Sahabat Literasi dengan Judul asli "Pernah sangat Mencintaimu" Cerita tentang Kota, tahun 2020.


Untuk Laki-laki Tercinta Kami

 


Untuk laki-laki tercinta kami

Bapak…

Apa kabar? Bagaimana tempatmu di sana sekarang? Indah bukan?

Bapak bisa melihat kami dari alam sana kan? Lihatlah pak, bapak sudah memiliki lima cucu yang menggemaskan bukan main, dan akan terus bertambah jumlahnya, meregenerasi seterusnya sampai dunia ini habis umurnya.

Pak…

Kami selalu melangitkan doa untukmu tak pernah henti sampai nanti Tuhan membawa kami juga untuk menemuimu, berkumpul lagi di tanah surga yang mengalir di bawahnya Sungai-sungai, Insya Allah, Aamiin

Pak…

Tidak terasa delapan tahun sudah berlalu atas kepergianmu, waktu berjalan melintas cepat bak busur panah. Kami menjadi sudah sangat terbiasa tanpa kehadiranmu, menjalani hari-hari tertatih penuh perjuangan mengemban jejak kehidupanmu yang ditinggalkan. Tapi pak, percayalah kami akan terus meregenerasikannya, agar amal jariyahmu tak pernah sedikitpun terputus.

Pak…

Delapan tahun tanpamu, tak membuat kami melupakanmu, tidak akan pernah!

Bapak tak perlu khawatir, kami selalu meletakkkanmu di dalam hati terdalam kami, kami selalu membawa semangatmu dalam melanjutkan kehidupan, kami selalu berbisik lirih pada Tuhan agar ia meletakkanmu di tempat terbaik Bersama ruh-ruh hamba-hamba yang shalih.

Pak…

Meski surat ini tak akan pernah dibaca olehmu, tapi kalimat-kalimat yang berhamburan ini adalah kalimat kerinduan, sebuah kerinduan yang kami tahu tidak akan pernah menemukan muaranya di dunia.

Sudah ya pak, kami tutup surat ini dengan untaian doa yang tak pernah bosan mengetuk langit:

“Ya Allah tempatkanlah laki-laki tercinta kami (Syam’un Abduh) di tempat terbaik di sisimu dan jadikanlah alam kuburnya sebagai taman-taman surganya, yang menenangkan dalam tidur panjangnya…” Aamiin

 

Cilegon, September 2023

Saat langit semakin erat memeluk gelap,

dari kami anak-anakmu yang akan selalu merindukanmu.

 


Kamis, 04 Mei 2023

Tafsir Muhammad Jebara dalam Buku Muhammad the World Changer

 


Bismillah, saya kembali  lagi merenungi salah satu buku yang beberapa hari ini usai  dibaca. Buku biografi yang akan selalu saya baca dengan penulis yang berbeda-beda, karena ribuan narasi satu buku tak akan pernah cukup puas untuk saya bisa mengenal sosok manusia mulia itu, sosok manusia yang bahkan berabad-abad lalu telah meninggalkan dunia ini.

Muhammad the World Changer karya Muhammad Jebara, satu-satunya buku  biografi yang begitu indah  menggambarkan bahwa Muhammad saw adalah manusia biasa namun memiliki keteduhan akhlak yang begitu menghangatkan. Muhammad kecil yang mengambil madu saat di bawah didikan pengasuhnya, Muhammad yang bahkan mencintai lautan dan ombaknya saat para kafilah dagang memutuskan berhenti sejenak di pinggiran pantai, Muhammad yang dengan halus selalu menolak ajakan para kerabatnya untuk menyentuh Wanita dan Khamr, Muhammad yang larut dalam kesedihan karena kepergian orang-orang terdekatnya, Muhammad yang belajar berkuda memanah di bawah pengasuhan pamannya Hamzah.  Semua kepribadian Muhammad saw yang tiada tanding mulianya benar-benar dinarasikan dalam buku Muhammad Jebara ini. Meskipun dalam pendahuluannya penulis memohon maaf karena lancang mengorek kehidupan pribadi Manusia mulia tersebut.

Allahumma Sholli ‘ala Muhammad. Dalam bukunya penulis menarasikan manusia mulia itu sebagai seorang pemikir kontemplatif yang menyadari bahwa harga diri bangsanya yang terlalu tinggi justru menghambat dinamika. Masyarakat Mekah terlalu memegang teguh cara hidup leluhur dan takut menghadapi perubahan. Manusia mulia itu begitu menyadari bahwa penduduk Mekah sangat tidak menyukai perubahan.

Masyarakat Mekah pada masa itu mendapat julukan Jahiliyyah, yang  penulis gambarkan sebagai pola pikir yang menerima tradisi turun temurun tanpa bertanya-tanya. Al-Qur’an mengartikan Jahiliyyah sebagai pengukungan. Al-Qur’an memberikan larangan untuk Kembali ke cara-cara yang sudah ketinggalan zaman dengan penuh keangkuhan, seakan-akan mengungkung diri sendiri di dalam benteng yang terpencil.

Selain menarasikan kisah perjalanan dan pribadi manusia mulia, ada beberapa poin yang cukup menarik untuk tidak pembaca lewatkan begitu saja. Salah satunya adalah tentang tafsir dan terjemah ayat-ayat al-Qur’an yang cukup berbeda dibandingkan tafsir dan terjemah pada umumnya. Penulis juga menfafsirkan ayat Mutasyabihat seperti surat Toha, yang dalam kisahnya menjadi salah satu surat yang menggugah hati Umar bin khathab kemudian memutuskan untuk masuk Islam.

Pada halaman 150, Ketika manusia mulia itu menerima wahyu surat al-Alaq, penulis menafsirkan ayat-ayat tersebut dengan tafsir yang dalam dan menggugah.

اِÙ‚ۡرَاۡ بِاسۡÙ…ِ رَبِّÙƒَ الَّذِÙ‰ۡ Ø®َÙ„َÙ‚َ​ۚ‏

Pada ayat pertama penulis menafsirkan bahwa ayat tersebut menggambarkan harapan, seperti Ketika selama musim dingin segala macam tumbuhan seolah-olah mati, tetapi kedatangan musim semi mengungkapkan bahwa tumbuh-tumbuhan itu ternyata tengah menantikan waktu yang tepat untuk bertunas dan berkembang lagi. Ayat tersebut menyebutkan kata rabb sebuah istilah untuk pembimbing, yang mengandung makna seseorang yang dengan lembut menyiramkan air ke pangkal tanaman baru, lalu memasang kayu penyangga untuk memandu arah pertumbuhannya.

Ø®َÙ„َÙ‚َ الۡاِÙ†ۡسَانَ Ù…ِÙ†ۡ عَÙ„َÙ‚ٍ​ۚ‏ Ù¢

Pada ayat kedua, Kata ‘Alaq dalam ayat tersebut mengacu pada sulur yang menempel ke batang pohon sebagai contoh symbiosis dalam alam. Sulur-sulur dapat tumbuh tanpa membahayakan pohon yang menjadi inang. Untuk mengasah potensi mereka, manusia perlu saling berhubungan dan bekerja sama, saling bertukar ilmu, dan menggabungkan gagasan-gagasan lama untuk membentuk gagasan baru.

اِÙ‚ۡرَاۡ ÙˆَرَبُّÙƒَ الۡاَÙƒۡرَÙ…ُۙ‏

Pada ayat ketiga, Kata iqra’ diulang untuk memberikan penekanan pada perkembangan, lalu kata akram digunakan untuk mengingatkan   pada kebun anggur. Yang  mana bagi orang Arab, kebun anggur melambangkan tempat yang asri untuk mencari kedamaian dan keamanan. Mengacu pada sulur-sulur yang digambarkan pada ayat sebelumnya, ayat ini menggambarkan tempat buah dari sulur-sulur itu diubah menjadi sesuatu yang menyenangkan dan menyehatkan.

الَّذِÙ‰ۡ عَÙ„َّÙ…َ بِالۡÙ‚َÙ„َÙ…ِۙ‏

Gambaran tentang kebun anggur menjadi pengantar pada ayat berikutnya, yang menenkankan pada proses. Istilah ‘Allama mengandung makna gunung agung (‘alam), melambangkan stamina yang dibutuhkan untuk mencapai puncaknya dan kesetiaan penduduk Mekah pada kenangan masa lalu untuk mengamankan diri. Upaya keras dan penuh kehati-hatian juga terkandung dalam kata Qalam, yang menggambarkan seni mengasah bilah ilalang untuk membuat pena. Menurut penulis, lapisan demi lapisan makna perlu dikupas dengan hati-hati hingga akhirnya menunjukkan inti pemahaman dan memberikan alat untuk membagi pengetahuan kepada dunia.

عَÙ„َّÙ…َ الۡاِÙ†ۡسَانَ Ù…َا Ù„َÙ…ۡ ÙŠَعۡÙ„َÙ…ۡؕ‏

Ayat terakhir atau ayat kelima, mengingatkan pada tujuan utama yaitu mengubah kemandekan menjadi kemungkinan yang semula tidak terbayangkan. Kata Insan (yang bermakna kiasan manusia) memiliki banyak konotasi. Di satu sisi, kata itu bisa dimaknai sebagai seseorang yang melupakan dan menunda-nunda sehingga mengakibatkan kemandekan. Namun di sisi lain, kata itu juga memiliki makna seseorang yang hebat. Dengan mengambil keputusan secara sadar untuk mengembangkan potensi tersembunyi, seseorang yang semula mengalami kemandekan dapat menjadi hebat. Jika penduduk Mekah bisa menerapkan teladan pembaharuan musim semi dalam kehidupan mereka, mereka akan mampu meraih pencapaian-pencapaian besar.

Penulis menekankan bahwa ajaran yang dibawa manusia mulia itu bersifat revolusioner.  : hikmah perbuatan baik seseorang mungkin baru akan disadari bertahun-tahun kemudian, atau bahkan setelah kematian. Pesan yang disampaikan Muhammad saw kepada para pengikut bawah tanahnya bersifat revolusioner: meskipun saat ini kau berhadapan dengan kekejian, tetaplah berpikir, Menyusun rencana dan bertindak untuk jangka Panjang.

Selain tafsir wahyu pertama, penulis juga menafsirkan ayat-ayat pertama surat Ta ha:

Ø·ٰÙ‡ٰ​ ۚ‏

(tegak berdiri). Perintah dalam surat itu mendorong para pendengarnya untuk tidak gentar. Kedua abjad yang mengawali surah juga mengandung makna. Tha melambangkan tujuan dan Ha melambangkan suri teladan. Jika dipadukan, kedua abjad tersebut meminta para pendengar untuk tekun mengejar tujuan, yaitu membebaskan potensi tersembunyi mereka dengan cara meneladani orang lain. Dari tafsir ayat ini pembaca bisa melihat, bahwa Muhammad Jebara menafsirkan ayat Mutasyabihat, huruf-huruf awal surat yang biasanya hanya berdiri sendiri tanpa penafsiran.

Ù…َاۤ اَÙ†ۡزَÙ„ۡـنَا عَÙ„َÙŠۡÙƒَ الۡـقُرۡاٰÙ†َ Ù„ِتَØ´ۡÙ‚ٰٓÙ‰ ۙ‏

اِÙ„َّا تَذۡÙƒِرَØ©ً Ù„ِّÙ…َÙ†ۡ ÙŠَّØ®ۡØ´ٰÙ‰ ۙ‏

Masing-masing kata dalam dua ayat singkat tersebut sarat kiasan dan makna berlapis. Istilah menurunkan (anzal) mengandung makna gugusan bintang (manazil, yang berasal dari akar Bahasa Ibrani, mazal) yang digunakan oleh para pemandu untuk menentukan arah di padang pasir. Bagaikan cahaya bintang dalam kegelapan, wahyu-wahyu yang telah diturunkan memberikan harapan di tengah keputusasaan dan petunjuk praktis bagi siapapun yang tengah mencari arah kehidupan. Istilah membebani (syaqqa) menggambarkan wajah bersimbah peluh dan lumpur seorang budak yang sedang mengangkut beban berat. Tuhan bukanlah majikan yang memeras tenaga budak untuk kepentingan pribadi, tetapi pembimbing yang hendak membantu manusia menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan.

Istilah untuk membebaskan dan meninggikan derajat (tadzkirat) menggambarkan seseorang yang bebas berdiri dan menonjolkan diri untuk membuat orang lain terkesan atau seseorang yang dikenang lantaran perbuatannya. Dan akhirnya, kata yakhsya yang secara harfiah bermakna ‘keluar dari kepompong’ dapat diartikan sebagai mendobrak penghalang yang dibangun sendiri, yang tidak memungkinkan pemahaman. Ayat ini meminta pendengarnya untuk melonggarkan pertahanan mental mereka dan mendengarkan secara aktif dan tulus untuk membuka pikiran mereka terhadap gagasan-gagasan yang cukup kuat untuk membebaskan dan meninggikan derajat mereka.

Surat Tha Ha, berbeda dari wahyu-wahyu sebelumnya yang berisi renungan intelektual rumit, menyajikan contoh-contoh praktis untuk dipelajari (sesuatu yang jauh lebih bisa dipahami oleh penduduk Mekah daripada renungan abstrak selama setahun sebelumnya). Wahyu surat ini sarat akan cerita, terdiri atas lebih dari seratus ayat dan menyampaikan berbagai kisah tentang orang-orang yang tidak sempurna dan memiliki kekurangan. Dengan kisah-kisah tentang Musa, Harun dan Adam, surat ini memperkenalkan sosok-sosok nabi yang selain Ibrahim sang pendiri Mekah yang telah dikenal oleh bangsa Arab.

Narasi surat Ta Ha diawali dengan Musa yang melakukan perjalanan melintasi alam liar Bersama keluarganya dan mellihat nyala api di kejauhan. Dia mengira api itu dinyalakan oleh sesama musafir, tetapi beberapa saat kemudian dia melihat kobaran api di semak-semak dan dari dalamnya Tuhan memberinya perintah: “Aku adalah Tuhan yang maha penyayang (Allah)… maha mengetahui apa yang terlihat maupun yang ghaib … “

Surah Ta Ha menggambarkan Musa sebagai sosok perkasa dan temperamental, seseorang yang membunuh orang lain saat amarahnya memuncak, lalu kabur begitu saja. Seseorang yang dengan kasar menyambar janggut saudaranya sendiri lantaran merasa terkhianati. Seorang pria pemarah yang telah dengan kesal melempar sabak batu Tuhan ke tanah tetapi mendapat pengampunan.

Dari sepetik tafsir dalam bukunya, penulis menonjolkan sisi motivasi pada setiap makna ayat-ayat yang terkandung dalam kedua surat di atas, rentetan kalimat yang begitu indah untuk direnungi dan mudah untuk diresapi.  selain tafsir terdapat juga terjemah beberapa ayat Qur’an di dalamnya yang berbeda dengan terjemah Qur’an pada kebanyakan, seperti kata Iqra’ yang bisa bermakna Bacalah, penulis menerjemahkan lebih jauh dari itu yaitu Berkembanglah majulah. Menurutnya konteksnya adalah sang Nabi saw berbicara di hadapan kerumunan orang Arab yang Sebagian besar buta huruf dalam keadaan stagnan akibat perilaku mereka sendiri, kata tersebut lebih bisa dimaknai sebagai tujuannya untuk menginspirasi kemajuan. Maka, iqra’ bisa dianggap sebagai homonym yang bermakna: Majulah.

Narasi kisah manusia mulia itu tertulis dengan kalimat yang menggugah pembaca, banyak hal-hal yang tidak pernah kita temui di buku-buku biografi Muhammad saw lainnya, sehingga semakin membuka wawasan pembaca untuk bisa mengenal lebih dalam sosok bagaimana manusia mulia itu berjuang dan menjalani kehidupan.

Terjemah dan tafsir dalam buku Muhammad The World Changer   tidak mungkin saya tulis semua di sini, dengan harapan agar pembaca juga turut melahap semua kalimat yang tertoreh dalam buku tersebut. Namun di sini izinkan saya juga mengutip beberapa kalimat yang sekiranya bisa menjadi referensi untuk menyemangati para pembaca untuk segera memiliki dan membaca bukunya dengan diawali dan diakhiri Shalawat kepada baginda Nabi Muhammad saw, keluarganya, para sahabatnya, dan seluruh umatnya sampai hari akhir.

“kau telah  merenggut nyawa seseorang , tetapi kami menyelamatkanmu dari kedalaman rasa bersalah dan putus asa dan Kamilah yang menyebabkanmu merenung dan mempertimbangkan Kembali tujuan hidupmu.” (hlm 162)

“sebagai Muslim, mereka menerima bahwa manusia memiliki kekurangan, tetapi justru itulah yang menyemangati mereka untuk terus meneladani satu-satunya hal yang sempurna di alam Semesta, Tuhan.” (hlm 157)

“mendidika anak laki-laki berarti memberdayakan dirinya, tetapi mendidik anak perempuan berarti memberdayakan seluruh bangsa. Hargailah anak perempuanmu dan jangan mengutamakan anak laki-lakimu.” (hlm 133)

“Bahasa adalah dasar kepemimpinan. Karena Arab kekurangan kekuatan militer kemampuan diplomasi menjadi kekuatan utama. Untuk menjadi pemimpin, seeorang harus berbicara dengan fasih, pintah membaca situasi dan dapat berbicara dengan orang-orang dari berbagai latar belakang dengan cara yang bisa mereka hargai.” (hlm 67)

“kematian Khadijah radhiallahu anhuma merupakan pukulan telak bagi sang Nabi saw ‘dia adalah tempatku mencari kedamaian di tengah lautan kebingungan. Sia mempercayaiku Ketika orang lain menghujatku. Dia memunculkan sisi terbaik dari diriku Ketika orang lain berusaha meremehkanku. Dia mendukungku Ketika orang lain mencoba menghentikanku. Dia menguatkanku dengan kata-katanya, membagikan kekayaannya kepadaku dan menghidupiku beserta anak-anak kami’.” (hlm 191)

“jangan berkubang dalam kepedihan masa lalu: ganjalan perasaan mengakibatkan kemandekan, sedangkan pengampunan mendatangkan kebebasan.” (Hlm 210)

“mereka perlu menyadari bahwa kesuksesan bisa didapatkan dengan cara mengambil Tindakan dan memperlakukan kekurangan mereka sebagai tantangan untuk memperbaiki diri. Mereka perlu menyadari bahwa pola-pola yang rusak harus diperbaiki untuk memberikan ruang bagi gagasan dan kreativitas baru. Berpikir besar berarti melihat peluang dimana-mana: mengubah bahan mentah menjadi hasil karya yang indah, mengubah unsur-unsur yang semula dianggap sampah menjadi hasil karya baru, berani merancang visi baru, dan memanfaatkan unsur-unsur yang cacat dalam masyarakat.” (hlm 220)

Sekian untuk ulasan dari buku Muhammad the World Changer. Buku ini diterbitkan oleh Bentang Pustaka dengan judul yang sama dari aslinya dan diterjemahkan oleh Berlian M. Nugrahani. Harus diakui Bentang Pustaka selalu menerbitkan buku-buku terjemah, namun tetap konsisten pada keindahan Bahasa yang ditorehkan oleh penulis. Semoga bermanfaat dan selamat menyelami Samudra ilmu.

 

 


Sabtu, 25 Februari 2023

Abu Nawas dan Syair Penyesalan Dosa

 


Siapa yang tidak mengenal Abu Nawas, seorang tokoh central Islam dalam bidang Tasawuf, Sastra dan seorang yang sangat cerdas dan jenaka. Seorang dengan nama asli Hasan ini merupakan penyair dengan bakat yang besar, jangkauandan variasi puisinya luas, memiliki cakrawala pengetahuan yang luas, hafal al-Qur’an dan Hadis, seorang yang dermawan bahkan karena kedermawanannya ini beliau hidup miskin.

Namun dalam sejarahnya dikatakan bawha Abu Nawas dikenal publik sebagai seorang yang bejat dan tidak bermoral karena puisi-puisinya yang menggambarkan tentang homo, penikmat seks, penggila anggur, pemuja Iblis, antipati terhadap agama dan metafora-metafora lain yang amoral. Namun apakah benar Abu Nawas seseorang yang seperti ditulis dalam pusinya ataukah itu hanya metafora yang Abu Nawas cipta untuk mengkritk praktik agama para pembesar pemerintahan kala itu.

Karena dalam banyak syairnya juga Abu Nawas menuliskan syair-syair yang penuh dengan nilai-nilai batiniah Islam, karena hal inilah Abu Nawas dikategorikan sebagai seorang sufi yang mempraktikan tasawuf secara nyata di tengah-tengah kehidupan sosial.

Abu Nawas dikenal dekat dengan penguasa kala itu, meskipun beberapakali pernah dipenjara olehnya. Abu Nawas juga dikenal oleh parapenguasa sebagai Problem Solver untuk pihak istana yaitu ketika warganya datang ke istana raja dan meminta solusi atas permasalahan mereka, dan ketika raja tidak menemukan solusi atas permasalahan tersebut, Abu Nawas menjadi orang pertama yang dipanggil ke Istana.

Dalam syairnya Abu Nawas mengkritisi pemerintah tetapi di sisi lain ia memuji para pemimpin dengan syair-syair indahnya. Dalam syairnya Abu Nawas mengkritisi orang-orang yang sholat dan memuji orang-orang yang mabuk, tapi di sisi lain ia merendahkan dirinya sendiri karena dosa-dosanya.

Tenggaklah anggur,meski dilarang

Karena Allah mengampuni bahkan dosa yang besar

Bintang keberuntungan telah terbit malam ini

Ketika seorang pemabuk menyerang pemabuk yang lain

Kami melewatkan waktu untuk bersujud kepada iblis

Hingga para biarawan membunyikan lonceng saat fajar

Dan seorang pemuda pergi, menyeret jubah yang menyenangkan

Yang telah kunodai dengan perilaku-ku yang jahat

Khalifah Harun ar-Rasyid pernah memerintahkan Abu Nawas untuk menjadi tenaga pendidik di Persia. Ia terkenal sebagai guru agama yang jenaka dan sangat humoris. Penjelasannya luas dan segar, sebab ucapan-ucapannya senantiasa puitis. Di luar kelas, Abu nawas  menulis puisi-puisi yang kontroversial, kritis terhadap pembesar dan kondisi masyarakat, namun dengan nada yang jenaka. Meski banyak yang mencemooh Abu Nawas karena syair-syair yang ditulisnya, namun rasa kagus dan cinta para murid kepadanya tidak berkurang.

Abu Nawas dikenal sebagai orang yang toleran dalam beragama, ia bahkan mengajak penganut Yahudi dan Nasrani untuk memperthankan keyakinannya agar bisa menjalankan agama dengan baik sesuai dengan panduan agamanya masing-masing. Meski begitu Abu Nawas merupakan seorang muslim yang tak tergoyahkan, meskupun banyak pandangan-pandangan tidak baik pada dirinya disebabkan syair-syair yang ditorehkannya.

Seseorang yang dihormati Abu Nawas yang bernama Syekh Zakariyah al-Qusyairi pernah memprotes kepada Abu Nawas, karena tidak menemukan satu mushafpun di rumah Abu Nawas. namun sang penyairpun hanya menjawab tenang “ terang (al-Qur’an) dan gelap (diri Abu Nawas) bukanlah teman sekamar.”

 Selain terkenal dengan puisi anggurnya, Abu Nawas juga sering membuat syair untuk dirinya sendiri atau biasa disebut dengan Puisi Kemusnahan Diri yang paling fasih dan indah sepanjang kesusastraan Abbasiyah. Puisi ratapan ini ditulis ketika Abu Nawas terbaring sakit.

Kemusnahan telah merayapi bagian bawah dan atas diriku

Kulihat anggota tubuhku sekarat satu demi satu

Tidak ada satu jam pun kulewati kecuali demikian kurasa

Ia mengurangi bagian diriku sepintas lalu

Seiring kekuatanku berkurang, berkurang pula ketaatanku

Kini kuingat semuanya

Ketika sujud kepada Tuhan dalam keadaan kurus lemah

Betapa kusesali malam-malam itu

Dihabiskan dalam hiburan dan main-main

Kini telah melakukan setiap perbuatan jahat

Semoga Allah memaafkan dan memberi kita pengampunan.

Di akhir hidupnya, Abu Nawas menulis banyak puisi Zuhdiyat. Hal ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa di akhir-akhir hidupnya ia bertaubat dari kehidupannya yang bergelimang lumpur dunia. Meskipun apakah benar Abu Nawas di masa lalunya adalah seorang peminum dan penjilat penguasa. Tidak ada yang memastikan kebenaran sejarah tersebut, meskipun selalu dinarasikan bahwa Abu Nawas adalah seorang peminum berat dan melakukan perbuatan-perbuatan bejad lainnya.

Apa yang akan menjadi pembelaanku

Terhadap segala yang telah aku lakukan?

Apa yang akan aku katakan pada Tuhanku?

Alasan apa yang akan menjadi milikku

Yang hidup tiada mencari kebenaran

Atau merangkul kebaikan yang akan kutinggalkan?

Duhai kesengsaraan saat kembaliku

Betapa kasihanapa yang telah hilang dari hidupku!

Abu Nawas memang tidak memiliki karya besar seperti imam Ghazali dengan Ihya’ Ulumuddin, atau Ibnu Arabi dengan Fushush al-Hikam, atau Jalaluddin Rumi dengan Matsnawi, atau Ibnu Atha’illah as-Sakandari dengan al-Hikam. Abu Nawas mewariskan kesufiannya bukan dalam bentuk kitab, melainkan dalam bentuk anekdot dan syair-syairnya. Salah satu syair termahsyurnya sampai saat ini adalah syair al-I’tiraf.

Ada dua pendapat mengenai lahirnya syair al-I’tiraf ini. ada yang mengatakan bahwa aslah seorang murid Abu Nawas yang bertanya bagaimana cara merayu Tuhan, lalu Abu Nawas menyodorkan syairnya. Namun ada pula yang mengatakan bahwa syair ini ditulis oleh Abu Nawas setelah beliau bermimpi, dalam mimpinya Abu Nawas dinasihati oleh seseorang yang berkata kepadanya, “jika engkau tidak mampu menjadi garam yang bisa melezatkan makanan, setidaknya jangan menjadi lalat yang membuat jijik dan merusak makanan.”

Setelah itu Abu Nawas langsung terbangun dan menangis histeris. Ia menyesali hidupnya yang telah ia sia-siakan. Puisi-puisi yang diciptakannya praktis berubah menjadi untaian dzikir dan doa. Dan salah satunya syair al-I’tirof ini:

Wahai Tuhanku, aku bukanlah ahli Surga Firdaus

Dan aku tidak kuat menahan siksa Neraka jahim

Maka terimalah taubatku dan ampunilah dosa-dosaku

Sesungguhnya engkau Pengampun dosa-dosa yang besar

Dosa-dosaku bak bilangan pasir

Maka terimalah taubatku, wahai Tuhan yang maha agung

Umurku berkurang setiap hari, sedang dosaku kian bertambah

Bagaimanakah aku menanggungnya?

Wahai Tuhan, hambamu yang penuh maksiat datang menghadapmu

Mengakui segala dosa dan berdoa kepadamu dengan sungguh-sungguh

Bila engkau mengampuninya, sungguh engkau memang maha pengampun

Dan bila engkau menolaknya, maka kepada siapa lagi

Aku berharap selain kepadamu?

Ketika masa di saat Abu Nawas  wafat, kawannya yang bernama Ibnu Khalikan tidak mengetahui kabar tersebut karena ia sedang tidur. Di dalam tidurnya ia bermimpi bertemu Abu Nawas. Ibnu Khalikan bertanya, “wahai Abu Nawas, apa balasan Allah terhadapmu?” Abu Nawas menjawab “Allah mengampuni dosaku karena beberapa bait syair yang kutulis saat sakit sebelum wafat. Syair itu kusimpan di bawah tempat tidurku.”

Ketika terbangun, Ibnu Khalikan langsung mendatangi kediaman keluarga Abu Nawas. Sesampainya di sana, ia benar-benar tak menyangka, rupanya sang teman telah meninggal dunia. Orang-orang berkumpul memandikan jenazahnya. Kemudian Ibnu Khalikan menuturkan mimpinya kepada keluarga Abu Nawas dan meminta izizn untuk menggeledah kamar Abu Nawas. Ternyata benar, ia menemukan secarik kertas berisi syair di bawah tempat tidur Abu Nawas. Ia membaca dengan seksama syair itu dan tak terasa ia menangis, berikut syair terakhir Abu Nawas tersebut:

Ya Allah jika dosaku sangat besar

Aku tahu, ampunan-mu amatlah besar

Jika tidak boleh berharap kepada-mu kecuali orang-orang baik

Lalu kepada siapa lagi si pendosa ini akan berharap?

Aku telah memohon kepada-mu dengan sikap hormat

Sebagaimana yang telah engkau perintahkan

Maka jika engkau menolak tanganku ini

Lalu siapa lagi yang akan mengasihiku?

Tak ada pada diriku tali penyambung

Antara aku dan engkau kecuali harapan

Maka demi keagungan ampunan-mu

Aku pun kepada-mu berserah diri.

Dalam sejarahnya konon Imam Syafi’i pernah berguru hadist kepada Abu Nawas, namun saat kewafatan Abu Nawas, Imam Syafi’i menolak untuk menshalati jenazah gurunya itu karena layaknya pandangan orang pada umumnya, Abu Nawas dipandang sebagai orang yang Zindiq, Bahkan Kafir. Dan dalam fiqh, Hukum menshalati orang kafir adalah haram. Lantas  Ibnu Khalikan mendekati Imam Syafi’i dan menceritakan mimpinya. Kemudian ia memberikan secarik kertas berisi puisi tersebut. Seketika, Imam Syafi’i menangis sejadi-jadinya, begitu juga beberapa orang yang hadir. Kemudian Imam Syafi’i mengajak orang-orang yang hadir untuk menshalati jenazah Abu Nawas dan Imam Syafi’i menjadi imamnya.

Abu Nawas pergi dengan meninggalkan syair-syair Master piecenya, syair penyesalan dosa-dosa masa lalunya menggugah para penikmat lembar-lembar sejarah. Perjalanan hidupnya yang jenaka membawa napas segar dalam dunia Tasawuf dan kesusatraan. Semoga ampunan dan rahmat Tuhan selalu menyelimutimu wahai Abu Ali al-Hasan bin Hani’al-Hakami. . .

 


BANJIR BAGIAN DARI INDONESIA by Ani Maftiyah (Kelas X IPS Al-Bustaniyah)

 


Siapa yang tidak kenal dengan bencana banjir?

Banjir di Indonesia sudah seperti perayaan, yang setiap tahun ada. Banjir tidak boleh dibiarkan menjadi ritual tahunan dari tahun ke tahun, bukannya berkurang melainkan malah bertambah parah. Kawasan yang terendam banjir makin meluas karena sekarang diperkirakan tidak kurang 70 % wilayah sekitar mengalami banjir. Banjir adalah peristiwa yang terjadi ketika aliran air yang berlebihan sehingga merendam daratan (seringnya curah hujan).

Adapun penyebab banjir  terjadi yaitu penyumbatan aliran sungai yang disebabkan membuang sampah di sungai sembarangan. bisa juga karena penggundulan hutan yang dilakukan oleh ulah tangan manusia yang berpikir singkat tanpa berpikir efek ke depannya bagaimana, tindakan tersebut berupa penebangan hutan yang tidak menggunakan sistem tebang pilih, akibatnya tidak ada pohon menyerap air sehingga air mengalir tanpa terkendali.

Dampak yang ditimbulkan dari banjir dapat menimbulkan korban jiwa , rusaknya sarana dan prasarana, dan timbulnya berbagai macam penyakit.

Mari kita sama-sama menanggulangi bencana banjir dengan menghilangkan kebiasaan membuang sampah sembarangan dan mari kita menghijaukan negara INDONESIA ini.


Makhluk Terbatas

  Makhluk terbatas itu kamulah salah satunya. Kekuatanmu terbatas, daya pikirmu terbatas, semua yang ada dalam dirimu dan di luar dirimu ter...