Senin, 16 April 2018

Me-Restart masyarakat Demokrasi


Menjadi hal yang sensitif saat saya ingin mengupas tentang Demokrasi, karena  sampai sekarang masih menjadi pro kontra terkait sistem Demokrasi di Indonesia. Sebelum ke pembahasan lebih jauh terkait Demokrasi di Indonesia, saya akan sedikit bercerita bagaimana pengalaman saya yang dulu bahkan pernah beranggapan bahwa pak SBY adalah thaghut kafir yang wajib dibunuh karena tidak menerapkan hukum Islam di Indonesia.
Bermula saat saya kelas 12 Madrasah Aliyah, ketika itu saya sudah mengenal media sosial bernama Mbah Facebook. Dan di Fb tersebut entah bagaimana caranya saya bisa berteman dengan orang-orang yang sejurus dengan kontra demokrasi di Indonesia. Saya yang ketika itu masih bodoh sekali, mulai menimbrung dan tertarik dengan teman-teman FB yang setiap statusnya selalu membawa ayat-ayat Qur’an, isinya tentang ceramah-ceramah, mengajak kepada kebaikan dan sebagainya, tentu itu menjadi sesuatu yang sangat menarik. saya berpikir semoga dengan berteman dengan mereka-mereka saya bisa ketularan Agamisnya. Hingga pada suatu hari, mereka membahas tentang sistem hukum kenegaraan Indonesia yang menurut mereka adalah hukum setan karena memakai sistem dari Barat yaitu Demokrasi. Menurut mereka sistem Demokrasi Indonesia ini harus diganti dengan sistem hukum Islam, karena yang tidak berpegang teguh dengan hukum Islam berarti orang tersebut KAFIR. Kemudian saya yang polos mulai bertanya ‘berarti Indonesia ini negara Kafir karena tidak mau menerapkan hukum Islam di dalamnya’ bahkan dari mereka ada yang mengatakan bahwa Pak SBY boleh dibunuh karena ia kafir tidak mau berhukum pada hukum Allah. Saya manut saja, karena dalil yang mereka keluarkan memang dalil dalam Al-Qur’an dan saya jadi terbawa berdalih bahwa Demokrasi itu kafir. Sampai pernah suatu ketika dalam perjalanan saya bertanya pada Abah ‘bah di Indonesia ini tidak menganut hukum Islam, berarti Indonesia ini kafir’ abah hanya menjawab ‘Demokrasi itu bukan kafir’ kalau tidak salah itu yang abah ucapkan, tapi kemudian setelah abah menjawab saya hanya diam saja.
Pemahaman Demokrasi Kafir itu terus menancap dalam diri saya, sampai kemudian saya masuk ke salah satu perguruan tinggi dan mengambil jurusan Tafsir Hadis (waktu itu jurusan UTH masih ada tahun 2011). Di dalam kelaspun ketika pelajaran Civic Education membahas Demokrasi, saya ikut-ikutan mengeluarkan dalil dalam surah an-Nur, tapi bapak dosen waktu itu menjelaskan dengan baik sekali tanpa menyalahkan saya sedikitpun (semoga bapak dosen Civic selalu dalam lindungan Allah). Lambat laun berlalu, saya banyak menemukan ilmu baru, salah satunya Ulum Qur’an yang membuat saya sadar bahwa dalil Al-Qur’an itu membutuhkan tafsir, dan yang menafsirkannya pun tidak sembarangan, harus orang-orang yang berilmu. Saya akhirnya paham bahwa segala sesuatu jangan dilihat dari tekstual saja, tapi harus kontekstual. Saya bertemu dengan ulama-ulama tafsir klasik, pertengahan dan kontemporer, dan akhirnya saya disadarkan bahwa keadaan sosial juga mempengaruhi terhadap penafsiran Al-Qur’an. Sungguh ilmu Allah itu amatlah luas, tidak heran sang Nabi saw memerintahkan kita untuk terus mencari ilmu sampai ke liang lahat, artinya terus belajar tidak peduli sudah berapapun umur kita, karena memang hidup adalah perjalanan yang penuh pelajaran.
Dan tema demokrasi ini menjadi judul yang harus saya teliti untuk memenuhi syarat kelulusan Strata Satu waktu tahun 2015. Saya ingin menggeluti lebih dalam apa itu Demokrasi dengan mengambil salah satu tokoh pembaharu dalam Islam yaitu Muhammad Abduh. ‘Demokrasi menurut Perspektif Muhammad Abduh’. Sedikit tentang Muhammad Abduh, beliau adalah Mufassir, Mujaddid, Mujahid. Melalui muridnya beliau tumpahkan ilmunya, hingga terbitlah Tafsir al-Manar. Muhammad Abduh telah melakukan pembaharuannya melalui jalur pendidikan, berbeda dengan gurunya yaitu Jamaluddin al-Afghani yang melakukan pembaharuannya melalui jalur politik.
Setelah saya menggeluti lebih dalam apa itu Demokrasi, ternyata tidak ada nilai-nilai yang salah dalam Demokrasi, bahkan nilai-nilainya sesuai dengan apa yang Islam ajarkan. Lantas mengapa mereka menganggap bahwa demokrasi itu kafir hanya karena ia berasal dari Barat, bahkan mereka sering menyalahkan sistem demokrasi, saat hukum di Indonesia tidak ada keadilan dan kejujuran, padahal demokrasi menekankan kedua nilai itu. penerapan sistem Demokrasi di setiap negara tentu berbeda-beda, Demokrasi di Amerika berbeda dengan penerapan sistem Demokrasi di Indonesia. Jika di Amerika HAM dijunjung tinggi, kalau di Indonesia tentu harus dibatasi dengan hukum Tuhan, hukum Tuhan tentu tidak perlu dimusyawarahkan lagi tapi haruslah dijalankan.
Saya akui kebobrokan moral di Indonesia ini sudah menjadi-jadi, hukum seperti barang dagangan bisa dibeli oleh siapapun, bahkan hukum bisa lebih tajam ke bawah dan tumpul di atas. Padahal dalam Islam dan Demokrasi mengajarkan keadilan itu harus diterapkan dengan sebaik-baiknya, tapi lagi dan lagi keadilan tinggal nama. Jadi bukan sistemnya yang harus dirubah sampai berdalih bahwa sistem kita sekarang adalah kafir, tapi justru orang-orangnya yang perlu di restart ulang.
Apakah ada hal yang bertentangan dengan Islam terkait lima nilai yang terangkum dalam pancasila? Tentu tidak ada. sistem di Indonesia ini hanya namanya saja yang beda, tapi nilainya tetap sama yaitu mengajak kepada kebaikan.
Demokrasi yang merupakan nilai terbesarnya adalah musyawarah dijelaskan oleh Muhammad Abduh yang saya kutip dalam tafsirnya al-Manar , terkait ayat tentang musyawarah dalam Al-Qur’an, menurutnya urusan yang perlu dimusyawarahkan itu bersifat umum, bisa politik, peperangan, perdamaian, rasa takut, keamanan dan lain-lain, yang berkaitan dengan kemaslahatan urusan duniawi mereka. Karena dalam musyawarah  itu terdapat manfaat bagi pemerintahan. Urusan yang diputuskan dengan musyawarah ini adalah segala urusan duniawi yang biasanya diajukan kepada hakim, bukan urusan agama yang sumbernya murni berdasarkan wahyu dan bukan berdasarkan pada pendapat manusia. Karena jika masalah agama seperti aqidah, ibadah, dan masalah halal haram ditetapkan berdasarkan musyawarah, niscaya agama menjadi bersumber pada produk manusia, sedangkan agama Islam itu bersumber  dari ketetapan illahi dan tak seorangpun campur tangan mengenai ketetapan illahi, tidak pada masa rasul dan tidak pula pada masa sesudahnya.
Semoga pentas Demokrasi ke depan semakin sehat dan beradab, tidak ada lagi jual beli Hukum, karena dirasa cukup jual beli itu hanya terjadi dalam dunia perdagangan bukan perpolitikkan. Tidak ada lagi dusta antara presiden dengan rakyatnya, kita masarakat Indonesia menginginkan sistem pemerintahan yang terbuka, jangan sampai kita kebingungan kenapa cangkul saja harus impor dari luar, kenapa banyak tenaga kerja asing yang mudah sekali masuk ke indonesia bahkan gajinya lebih besar dari tenaga kerja Indonesia itu sendiri. Jangan lagi ada kebingungan para ibu-ibu kenapa semua bahan-bahan yang berhubungan dengan dapur jadi melonjak tinggi dan jangan ada lagi drama tabrak menabarak sampai tiang listrikpun di tabrak, sungguh kasian tiang listrik. Kita gerah dengan melemahnya hukum di Indonesia yang selalu tumpul di atas, seharusnya kita bisa belajar dari Umar ra yang mencabuk anak kandungnya sendiri sampai meninggal karena ia berzina, padahal ketika itu posisi umar adalah seorang Khilafah besar yang mampu menaklukan negara-negara besar.
Kita butuh keadilan dan kejujuran dan mari kita sama-sama masyarakat Indonesia berlomba-lomba dalam kebaikan, insya Allah masyarakat yang baik akan melahirkan pemimpin yang baik. Lima sila saja diterapkan dengan sebaik mungkin dalam kehidupan kita, insya Allah Indonesia akan melahirkan manusia-manusia yang akan membuat peradaban besar. Aaamiinn
Itulah sekelumit kisah saya dalam mengenal demokrasi, saya tekankan di sini bahwa bukan berarti saya paling benar dengan semua argumen saya. Semua orang bebas beropini dan berpendapat, karena kita hidup di negara demokrasi. Mereka yang pro tidak salah dan yang kontra pun tidak salah, yang salah itu rakyat yang hanya mengkritik tapi tidak bergerak untuk membuat perubahan. Semoga Indonesia ke depan mampu menjadi negeri yang Baldatun Thoyyibah dan dipegang oleh pemimpin yang Amanah dan Istiqomah dalam menyebarkan manfaat bukan mudharat.

Minggu, 01 April 2018

Gado-Gado Malam (Guru, Anak-anak, Pendidikan dan Manusia seperempat Abad)


Selalu ada kepuasan tersendiri saat bicara kita didengarkan dan dikenang. Saya manusia dengan usia mendekati seperempat abad, saya seorang guru dari anak-anak. Mungkin kata ‘guru’ belum pantas disematkan ke dalam diri saya, karena hakikatnya saya masih harus banyak berguru, bahkan sampai seterusnya sampai ketika waktu yang Tuhan berikan sudah habis. Tapi begitulah anak-anak memanggil saya, ‘Ibu Guru’. Mungkin sebagian orang beranggapan memikul pangkat sebagai guru itu tidak istimewa, tidak keren dan terkesan biasa saja, tidak heran jika di negeri Indonesia banyak guru yang tidak mendapat tempat selayaknya, dalam artian tidak dihargai. Padahal kata salah satu dosen Favorit saya “Guru adalah profesi yang mengajarkan semua Profesi”. Lantas kurang keren apa coba untuk menjadi seorang Guru, dia profesi yang multi fungsi, karena darinya maka lahirlah beberapa profesi lainnya.
Tapi sungguh ironis dengan apa yang terjadi zaman sekarang, Guru bukan saja tidak dihargai dan dihormati oleh pemerintah, tetapi dari Murid dan orang tua murid itu sendiri. Jika anaknya Sukses orang tua tentu sangat bangga, tapi orang tua lupa pada siapa anaknya dulu belajar. Tapi giliran anaknya bermasalah, orang tua langsung menyalahkan guru-guru sekolah, tidak becuslah atau apalah semua kata-kata kotor dilontarkan. Bahkan parahnya berita yang beberapa hari lalu sudah terlewat, seorang anak murid memukul gurunya sampai MENINGGAL. Astaghfirullah zaman macam apa ini? Seorang guru yang darinya kita menimba ilmu, lantas dengan Cuma-Cuma seorang murid tersebut memukulnya karena merasa kesal dan marah pada gurunya. Saya tidak mengikuti berita selanjutnya bagaimana anak murid itu sekarang, biarlah waktu yang akan menjawab apa yang akan terjadi nanti.
Itulah memang mengapa pendidikan di rumah dan di sekolah haruslah seimbang. Rumah yang merupakan madrasah pertama untuk anak-anak, harus mampu menghadirkan sebuah lingkungan yang baik, agar anak-anak bisa mencontoh hal yang baik-baik. Begitupun setelah rumah, sekolah menjadi tempat tinggal kedua untuk anak-anak. Keduanya harus bisa sama-sama menghadirkan aura positif untuk anak-anak tumbuh dan kembang. Apalagi anak merupakan Investasi terbesar dari Allah untuk benar-benar kita jaga, bahkan orang Tua bisa masuk surga karena anak-anaknya, dan anak yang shalih bisa menjadi amal jariyyah untuk orang tuanya yang sudah meninggal.
Itulah menurut saya mengapa pentingnya pendidikan agama sejak usia dini, agar nanti ketika besar anak sudah bisa memilih dengan bijak mana hal yang baik untuk dilakukan dan mana hal tidak baik untuk tidak dilakukan. Karena saya yakin, seorang yang menjadikan agama sebagai penopang kehidupannya, semerawut apapun hidupnya nanti, sesulit apapun hidupnya nanti, ia tidak akan menjadikan hal-hal terlarang untuk menumpahkan masalahnya tersebut. Hal-hal terlarang itu seperti bunuh diri, minum-minuman, nakal yang berlebihan sampai memakai narkoba dan sebagainya, bahkan sampai membunuh orang tuanya, seperti apa yang telah diberitakan beberapa pekan lalu, Naudzu Billahi min Dzalik
Kembali lagi pada ‘Bu Guru’. Sebelum memulai pelajaran inti yang diajarkan, saya biasa menyelipkan sebuah cerita-cerita Islami. Dari mulai kisah nabi, tentang dajjal, hari kiamat dan lain sebagainya. Tentu tidak semua anak respondnya baik atau bagus, terkadang ada anak juga yang tidak suka dengan cerita saya, atau bahkan takut karena cerita Dajjal yang saya sampaikan. Sungguh tidak ada maksud menakuti-nakuti anak-anak yang masih polos tersebut, saya hanya ingin memotivasi anak agar lebih giat dalam solat, ngaji, belajar dan nilai-nilai positif lainnya. Kalian yang seorang guru sekolah dasar tentu paham, bagaimana pola pikir anak zaman sekarang, banyak sekali diantara mereka yang pola pikirnya sudah seperti orang dewasa. Bahkan saya pernah mendapati anak, yang telihat semerawut sekali karena cerita cinta yang sedang ia alami. Tidak perlu jauh-jauh lah, bahkan di media sosial sudah tersebar bagaimana tingkah laku nak-anak sekolah dasar zaman sekarang. Berpacaran, memberikan bunga, berduaaan dan hal-hal yang menjurus kepada nilai negatif itu sangat banyak sekali kita temui. Sungguh ironis bukan? Perkembangan teknologi yang semakin pesat sungguh benar-benar merubah karakter anak-anak yang sesungguhnya.
Tapi meski begitu anak-anak tetaplah anak-anak, sisi kepolosan dia tentu masih ada. sebagian dari mereka diam tak berkutik saat saya dengan semangatnya menceritakan bagaimana peristiwa dahsyat hari kiamat nanti, atau bagaiamana besarnya fitnah dajjal dan hukuman untuk manusia-manusia yang tidak mau menjalankan kewajiban dari Allah. Mereka antusias, bahkan setelah saya selesai bercerita, mereka dengan semangatnya mengatakan “nanti cerita lagi ya bu”. Kata-kata mereka yang sederhana itu, selalu membangkitkan semangat saya untuk terus memberikan manfaat lagi dan lagi, tidak peduli dimanapun tempatnya, tidak peduli sudah terlambat atau tidak, selama Tuhan masih memberikan waktu untuk kita, mari kita teruskan menebar manfaat bukan mudharat. Karena nilai ikhlas yang membuat seseorang masuk surga adalah bukan karena profesinya yang menjadi seorang profesor atau doktor atau apapun lah. Tapi dalam hadis Nabi dikatakan, seseorang yang bahkan hanya menyingkirkan duri dari jalanan saja bisa mengantarkan ke dalam surga, jika perbuatan kecil diiringi nilai ikhlas yang sangat luar biasa.
Berbicara soal ikhlas, bukan berarti di sini saya menganggap bahwa saya adalah manusia yang paling ikhlas, tapi justru karena saya masih harus banyak belajar lagi apa itu ikhlas, maka dari itu saya katakan di sini ‘meski kehidupan manusia itu berbatas, tapi aku ingin ikhlas yang tanpa batas’.
Tentang bercerita, dari dulu memang sudah menjadi metode pengajaran saya kepada anak-anak sebelum memulai pelajaran. Jika anak-anak antusias dan mendengarkan, saya akan melanjutkan ceritanya, tapi jika anak merasa bosan dan jenuh maka dengan berat hati saya langsung masuk ke inti pelajaran. Pelajaran yang saya ajarkan biasanya dibaluti dengan lagu-lagu, jika memang pelajaran itu bisa di iringi dengan lagu anak-anak, tatapi liriknya di ganti dengan kosa-kata bahasa Arab contohnya. Ya begitulah anak-anak bisa lebih mudah memahami jika disampaikan dengan cara yang menarik, contohnya dengan seni. Sama halnya ketika Wali Songo menyebarkan Islam di Nusantara, bukankah mereka merubahnya pelan-pelan melalui seni. Lagu-lagu yang biasa digunakan untuk membaca-baca ajaran budha atau hindu, oleh Wali Songo dirubahnya dengan shalawat-shalawat Nabi, masya Allah.
Semua orang tentu menginginkan Surga, tapi kita manusia punya cara yang berbeda untuk menggapai satu tujuan itu, meski memang tujuan kita sama. Kurang lebih seperti itulah perumpamaannya, kita yang sudah diamanatkan untuk terjun ke lapangan dalam rangka mengarahkan sesuatu ke arah yang lebih baik, tentu mempunyai metode masing-masing dalam pengarahan tersebut.
Saya bukan orang yang baik, tapi saya adalah orang yang belajar untuk menjadi baik, lebih baik dan jangan merasa paling baik. Kita boleh terus berbuat baik, tapi jangan merasa paling baik. Teruslah belajar, karena hidup ini adalah pelajaran yang penuh pelajaran. Seorang guru yang mengajari anak didiknya, bukan berarti ia tidak belajar. Seorang guru juga belajar dari anak-anak didiknya, belajar ikhlas, sabar dan memahami. Semoga kita semua menjadi manusia bermanfaat, seperti apa yang telah disabdakan Nabi saw “sebaik-baik kalian adalah yang memberikan manfaat” apapun profesinya. Selamat menjalani hari-hari penuh manfaat bukan mudharat.

Writer by: Manusia yang mendekati usia seperempat abad, yang sedang mempunyai cita-cita untuk bisa membangun Rumah Membaca, di kampung halamannya!!!

Sabtu, 31 Maret 2018

Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng


Novel ini adalah novel kedua dari Jostein Gaarder yang saya baca. Sebelumnya saya sudah membaca novel The Puppeter. Tidak jauh berbeda dengan novel yang saya baca sebelumnya, kedua-duanya menghadirkan sosok teman dari dunia imajinasinya. Petter sosok anak kecil yang bicaranya dewasa sebelum waktunya, pastinya bukan tanpa alasan kenapa dia berbeda dari anak-anak lain pada umumnya. Otak Petter selalu dipenuhi dengan imajinasi yang kadang mengacak-acak pikirannya, hingga akhirnya dia tidak bisa membedakan mana yang kenangan nyata dan kenangan dari imajinasinya saja dan setelah mendekati akhir bacaan ini, saya tau bahwa Petter adalah anak kecil yang tumbuh dari orang tua yang suka bertengkar bahkan bercerai. Jadi tidak heran mengapa Petter berbeda dengan anak-anak kecil kebanyakan.
Karena bakat Imajinasi yang berlebihan itulah, Petter mulai menjual sinopsis-sinopsis kepada penulis-penulis dunia. Petter tidak suka ketenaran, bahkan Petter sendiri mengatakan bahwa dirinya tidak akan menulis novel, maka dari itu ia lebih memilih menjualnya. Menurut saya karakter Petter ini tidak jauh berbeda dengan Jacob dalam novel The Puppeter, keduanya sama-sama memiliki teman imajinasi dan sama-sama penyendiri. Kalau Jacob menyambung komunikasi dengan orang lain dengan cara menghadiri setiap upacara kematian, tapi kalau Petter dengan cara menjual-jual sinopsis hasil dari pikirannya tersebut. Perbedaannya di novel ke-dua yang saya baca ini, ada bagian-bagian yang menurut saya terasa amat vulgar. Tapi terlepas dari itu novel Putri Sirkus ini masih enak kok untuk dinikmati.
“Novelis memiliki bakat khusus untuk berjuang berlama-lama dengan gigih demi menyempurnakan sebuah cerita, sering kali selama bertahun-tahun. Bagi saya, itu terasa terlalu pasif, kurang fokus dan melelahkan” (Petter)
“saya tidak pernah dapat melakukan tindakan hebat seperti menulis, menerbitkan dan mempersembahkan sejumlah novel atau antologi cerita pendek, kemudia ke atas panggung dan mendengarkan tepuk tangan. Satu hal lagi menulis novel telah menjadi hal yang sangat biasa. hanya orang lainlah yang menulis novel. Suatu hari menulis novel akan menjadi sebiasa membacanya”. (Petter)
Novel Putri Sirkus dan Lelaki penjual Dongeng, bisa dibeli di Gramedia atau memesannya via Online. Dengan membaca ini,  kalian akan diajak berimajinasi oleh sang Penulis dengan dongeng-dongeng yang seperti fakta dan tidak fakta...

Jumat, 30 Maret 2018

Fatimah Az-Zahra binti Muhammad saw


Fatimah adalah puteri bungsu Nabi saw. Dialah anak yang paling dicintai Nabi. Karena itu ia dijuluki Ummu Abiha (ibu dari bapaknya). Fatimah memeluk islam bersama ibu dan saudara-saudaranya ketika tinggal di Makkah. Fatimah turut serta dalam perang badar dan uhud. Dialah yang mengobati luka Nabi saw saat perang Uhud dan tak kuasa menahan tangis saat melihat keadaan Nabi saw.

Fatimah dipersunting Ali bin Abi Thalib setelah direstui Nabi saw. Mahar yang ditermia Fatimah adalah harga baju perang milik Ali senilai 400 dirham. Pernikahan Ali dengan Fatimah adalah karena perintah Allah kepada rasulnya. Fatimah adalah sosok ibu mulia yang melahirkan anak laki-laki dan perempuan yaitu Hasan, Husain, Muhsin, Zainab, dan Ummu Kultsum. Annas meriwayatkan bahwa setiap kali keluar hendak mengerjakan shalat subuh, Nabi melewati pintu rumah Fatimah selama enam bulan. Kemudian Nabi berseru, “ayo shalat, wahai keluarga Muhammad”. Lalu beliau membaca ayat, “sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.

Riwayat lain dari Ibnu Abbas bahwa dia berkata, “apabila Nabi baru tiba dari sebuah perjalanan, beliau selalu mencium puterinya, Fatimah”. Demikianlah  Nabi telah mengajarkan kepada kita mengenai pribadi seorang ayah yang penuh ketulusan dan kasih sayang kepada anak-anaknya.

Ketika ajal nabi saw sudah dekat, Fatimah menangis di samping Nabi saw. Fatimah menangis karena Nabi saw membisiki dirinya tentang ajal Nabi dan Fatimah adalah orang pertama dari keluarganya yang akan menyusul Nabi saw. Dan kemudian Fatimah tersenyum, karena Nabi saw membisiki kedua kalinya, beliau berkata “kabar gembira untukmu bahwa kamu akan menjadi penghulu kaum wanita di surga” kemudian Fatimah tertawa. Fatimah wafat enam bulan kemudian setelah kematian Nabi saw.

Rasul saw bersabda, “wanita paling baik di alam semesta adalah Asiyah binti Muzahim (istri Firaun), Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid dan Fatimah binti Muhammad saw”.

Sumber Tulisan: Samiyah Menisi, Muhammad Rahmat bagi Wanita. Abdurrahman Umairah, Wanita-wanita dalam Al-Qur’an.

Ummu Kultsum binti Muhammad saw


Ummu Kultsum adalah puteri ketiga Nabi saw. Dia memeluk Islam, mengikuti baiat dan bersama puteri-puteri nabi lainnya berhijrah ke Madinah. Ummu Kultsum diperistri Utaibah bin Abu Lahab sebelum masa kenabian, kemudian diceraikan karena faktor dakwah ayah mertuanya. Dia tingga di Makkah bersama ibu dan saudar-saudaranya. Dia masuk Islam dan mengikuti baiat bersama kaum wanita dihadapan Nabi saw. Setelah berhijarah ke Madinah, dia tinggal di Madinah bersama Nabi saw hingga kematian Ruqayyah. Kemudian pada tahun ke-3 Hijriyah dia menikah dengan Utsman atas perintah Allah. Dari situlah Utman mendapat julukan Dzu al-Nurain (pemilik dua cahaya) karena telah menikahi dua puteri Nabi saw.

Ummu Kultsum tinggal bersama Utsman sampai ajal menjemputnya pada bulan Sya’ban tahun ke-9 Hijriah. Pada hari wafatnya, Nabi turut memandikan Ummu Kultsum sekaligus mengajarkan cara wanita memandikan jenazah puterinya. Dalam sebuah riwayat, Annas bin Malik berkata, “aku melihat Nabi saw duduk di dekat kuburan Ummu Kultsum dengan berlinang air mata”. Nabi saw menshalati jenazah Ummu Kultsum dan duduk di samping liang lahatnya, seraya melepas kepergian puterinya dengan penuh cinta dan kasih sayang.

Ummu Kultsum adalah mujahid wanita yang ikut berhijrah seraya mengharap pahala dari Allah swt. Dia mujahidah yang sabar dan tabah dalam berjuang. Nabi mengasuh Ummu Kultsum dengan penuh cinta dan kasih sayang seorang ayah hingga ajal menjemputnya.

Sumber Tulisan: Samiyah Menisi, Muhammad Rahmat bagi Wanita. Abdurrahman Umairah, Wanita-wanita dalam Al-Qur’an.





Ruqayyah binti Muhammad saw


Ruqayyah adalah anak kedua dari Nabi Muhammad saw dan Khadijah ra, dia lahir setelah Zainab. Dia memeluk Islam ketika tinggal di Makkah bersama ibu dan saudara-saudaranya. Bersama mereka Ruqayyah ikut berbaiat di hadapan Nabi saw dan menyaksikan bagaimana kafir Quraish mengisolasi mereka. bersama mereka Ruqayyah ikut berjihad membantu perjuangan ayahnya di Makkah sampai ajal menjemput ibunya. Ruqayyah menikah dengan Utbah bin Abu Lahab, kemudian diceraikan suaminya karena dakwah yang dibawa oleh ayah mertuanya. Setelah itu Ruqayyah menikah dengan Utsman bin Affan, lalu mereka ikut berhijrah ke Habasyah. Saat itulah dia melahirkan anak laki-laki bernama Abdullah al-Akbar, sebuah nama sekaligus julukannya. Puteranya meninggal saat berusia enam tahun setelah kedua matanya dipatuk ayam.

Ruqayyah adalah salah satu selasih dari selasih surga, ia adalah hembusan angin sepoi pada waktu musim gugur yang indah. Ruqayyah adalah keturunan rumah tangga keimanan dan ketakwaan, rumah tangga keikhlasan dan ketaatan, kesucian dan kesetiaan. Hati Ruqayyah kecil telah menyaksikan kesediahan dan rasa iba atas sikap para kaum kafir yang terang-terangan menabuh genderang perang terhadap ayahnya dan para pengikutnya yang lemah. Bagaimana mereka diikat oleh tali, disimpan di bawah terik panas sinar matahari yang membakar  dan di atas mereka di simpan batu-batu yang panas sampai mereka kembali menyembah Tuhan patung mereka.

Ketika tinggal sekitar 17 bulan di Madinah, Ruqayyah diserang penyakit cacar. Nabi memerintahkan Utsman agar tetap berada di samping istrinya meskipun kaum muslimin bersiap-siap untuk perang Badar. Ketika Nabi baru tiba dari perang Badar, Ruqayyah wafat dan dimakamkan. Saat Fatimah duduk di makam Ruqayyah, Fatimah menangisi saudarinya di samping Nabi saw. Nabi saw memegang Fatimah, mengusap air matanya dengan ujung kain beliau. cukuplah beliau menunjukkan kesabarannya di hadapan Allah. Ruqayyah turut berjuang di jalan Allah, Nabi saw memuji keagungan Allah dan menitipkan Ruqayyah di sisinya.




Sumber Tulisan: Samiyah Menisi, Muhammad Rahmat bagi Wanita. Abdurrahman Umairah, Wanita-wanita dalam Al-Qur’an.

Zainab binti Muhammad saw


Zainab adalah putri sulung Nabi saw dengan Khadijah Ra. Ia lahir ketika Nabi saw berusai 30 tahun. Zainab menikah dengan putera bibinya dari pihak ibu, Abu al-‘Ash bin al-Rabi’ sebelum masa kenabian. Bibinya Halah binti Khuwailid sangat dihormati Nabi. Ketika Zainab bersama ibu dan saudara-saudaranya memeluk Islam, Abu al-‘Ash tetap memegang agama yang dipeluk orang-orang Quraisy. Dari pernikahannya dengan Abu al-‘Ash, Zainab melahirkan seorang putera bernama Ali yang meniggal ketika menginjak usia dewasa. Nabi pernah memangku Ali ketika naik kendaraan pada saat fathu Makkah. Kemudian lahir pula dari rahim Zainab seorang anak perempuan bernama Umamah, yang kemudian dinikahi Ali bin Abi Thalib setelah kematian Fatimah. Sesudah Ali wafat, Umamah diperistri oleh Mughirah bin Naufal.

Sejarah mencatat bahwa Zainab adalah puteri yang sangat patuh kepada ayahnya. Dia selalu mencurahkan isi hatinya kepada kitab suci. Memohon agar Allah memberikan hidayah kepada suaminya hingga terbuka hatinya untuk masuk Islam dan memohon agar dia diberi ketenangan dan kekuatan atas apa yang akan terjadi. Kemudian Abu ‘Ash memeluk Islam pada tahun ketujuh Hijriyah, namun baru saja ikatan keluarga tersebut terajut, perpisahan terakhirpun terjadi. Pada tahun kedelapan hijriyah, Zainab wafat. Abu ‘Ash hidup seorang diri sampai akhirnya setelah itu dia pun menyusul istrinya.

Dengan kepergian Zainab, wanita yang paling dicintai rasulullah saw. Keihklasan, kebaikan dan pengorbanan yang sudah dilakukan Zainab merupakan inspirasi bagi semua orang.

Sumber Tulisan: Samiyah Menisi, Muhammad Rahmat bagi Wanita. Abdurrahman Umairah, Wanita-wanita dalam Al-Qur’an.

Makhluk Terbatas

  Makhluk terbatas itu kamulah salah satunya. Kekuatanmu terbatas, daya pikirmu terbatas, semua yang ada dalam dirimu dan di luar dirimu ter...