Kamis, 11 Maret 2021

Lingkaran Amarah

 

Untuk kamu yang sedang dilingkari Amarah

Kamu pasti tidak akan membaca ini saat marah, iya kan? tapi kamu pasti membaca ini. karena pada dasarnya tulisan ini adalah kamu sendiri yang menulisnya. Aku yang selalu tau perkembanganmu, aku yang selalu tau bagaimana kamu berusaha untuk merubah sikapmu ketika kamu dilingkari perasaan marah, aku tau kamu berusaha yang terbaik ketika kamu sedang marah, agar tidak ada apapun atau siapapun yang dirugikan. Dan aku bangga padamu.!

Aku mengalami kengerian luar biasa, saat banyak orang-orang diluaran sana tidak bisa mengontrol emosi mereka, sehingga mengakibatkan pembunuhan dan kekerasan yang pada akhirnya mengguncang mental orang-orang terdekat mereka. kerugiannya bahkan tidak hanya pada saat itu, justru itu akan menjadi kerugian orang-orang terdekatnya sepanjang hidup yang mereka jalani. Dan kamu belajar, kamu telah belajar dan berusaha untuk tidak selalu merusak apapun ketika kamu marah. Merusak dirimu, merusak mental orang-orang sekitarmu, dan merusak barang-barang di sekitarmu.

Aku tidak akan menyalahkan siapapun atas sikap amarah yang dulu tidak pernah bisa kamu kendalikan. Tapi hal terpenting saat ini adalah kamu mau berubah, kamu mau berusaha dengan perlahan tapi pasti dan kamu tidak diam pasrah menyalahkan orang lain atas sikap buruk yang pernah kamu lakukan ketika kamu marah.

Beberapa orang mengatakan bahwa manusia adalah produksi dari lingkungan tempat ia tinggal dan tumbuh, dan itu benar meskipun tidak 100 %, karena pada dasarnya manusia tetap bisa memilih dan terus belajar ketika dirinya berada dalam lingkaran yang sangat merugikan dirinya dan orang-orang terdekatnya. Seburuk apapun, sejelek apapun, sejahat apapun lingkungan kamu dan pendidikan rumahmu, kamu masih selalu miliki kesempatan untuk keluar dan menemukan, menciptakan lingkungan-lingkungan baru yang lebih baik lagi untuk orang-orang generasi setelah kamu.

Terimakasih ya, kamu mau belajar untuk perlahan-lahan bisa mengendalikan marahmu. Pengalaman yang kamu jalani, harus aku akui telah mendewasakan cara berfikirmu, mendewasakan caramu dalam mengendalaikan masalah-masalah apapun yang kamu hadapi. Terimakasih untuk tidak selalu menyalahkan lingkungan kamu tumbuh, karena menyalahkan siapapun atau apapun bukanlah solusi untuk kamu bisa menjadi lebih baik. Dan kamu telah melakukan itu, melakukan dengan sekuat tenaga agar kamu bisa menerima apa yang pernah kamu alami di masa lalu.

Teruslah berusaha untuk semua apa yang memang harus kamu lakukan, bukan apa yang orang lain ingin lakukan terhadapmu. Apapun pilihan kamu, aku akan selalu berada dalam diri kamu, mendukungmu untuk seluruh kebaikan yang ingin kamu ciptakan dan sebarkan. Dan untuk mimpi-mimpimu, aku selalu mendoakan  dalam kesunyian dan keheningan hatimu, di sini aku mengetuk pintu langit untuk semua kebaikan dan keberkahan pada hari-hari yang kamu jalani.

 @Fitriyah Syam'un

Rabu, 13 Januari 2021

SIAPA MENYURUH (GUS MUS)

 


Siapa menyuruh kalian mengangkat para pemabuk kekuasaan dan harta menjadi pemimpin?

Siapa menyuruh kalian memilih para gelandangan menjadi wakil-wakil kalian?

Siapa menyuruh kalian menyerahkan nasib demokrasi negeri ini kepada orang-orang yang frustasi yang tidak bermoral?

Siapa menyuruh kalian menunjuk orang-orang miring untuk menegakkan keadilan?

Siapa menyuruh kalian menugasi para pencuri mengangani urusan ekonomi?

Siapa mengamanatkan urusan agama kepada mereka yang tak memilki rasa kasih sayang?

Siapa menyuruh kalian mempercayakan negeri ini kepada para badut yang tak tahu diri?

Kalian sendiri menggiring berlapis-lapis gelap mengepung negeri kalian sendiri.

(salah satu puisi Gus Mus dalam bukunya 'Negeri Daging')


Rabu, 30 Desember 2020

Tahun Berganti lagi

 


Tidak ada mimpi yang terkubur

Meski jarak dengannya semakin kabur.

Selama nafas masih menghirup udara

Tak akan aku biarkan terkadku diserbu nestapa.

Tahun-tahun terlewati

Semangat tak boleh henti

Usaha tak boleh mati.

Jangan menyerah, meski lelah.

Jangan mengeluh. Meski dihujani peluh.

Dan bergeraklah, berjuanglah.

Sampai tidak ada yang bisa menghentikanmu

Kecuali batas waktu.

Hari-hari yang kita lewati tidak ada yang benar-benar sempurna membuatmu selalu berada dalam fase bahagia. Ada masa dimana kita harus jatuh, kita harus sakit, kita harus bersedih, kita harus gagal, kita harus bertemu dengan orang yang salah, kita harus menangis, kita harus merasa tertekan, kita harus merasa tidak percaya diri dan akhirnya kita sampai pada titik dimana kita merasa  bukanlah siapa-siapa, sehingga lahir sebuah pemikiran bahwa kita memang terlahir tidak  seperti orang-orang yang sudah bisa mencapai semua harapan dan mimpinya.

Desember menjadi penutup untuk hari-hari yang kita jalani pada tahun 2020. Segalanya telah terlewati, kesalahan tetaplah jadikan sebuah pelajaran. harapan-harapan teruslah upayakan untuk kamu gapai,dan apapun yang sudah kamu raih tahun ini jadikan sebuah rasa syukur yang tak terbantahkan. Teruslah berjalan atau duduklah sebentar di sini, sambil menunggu tahun ini menutup harinya, siapkan apapun yang bisa membuatmu kuat menjalani hari-hari berikutnya. Tidak apa jika mimpi-mimpimu lagi-lagi tertunda untuk kamu raih, teruslah berusaha, teruslah bergerak dan jangan bosan untuk tetap mengetuk pintu langit.

Semoga harapan-harapan dan mimpimu cepat lambat akan datang memeluk dan membawamu..!

(Fitriyah Syam'un)

Selasa, 01 Desember 2020

Man's Search for Meaning (Dr Viktor E. Frankl)


Di penghujung bulan akhir tahun ini saya  mengenal salah satu buku mlilik Dr Viktor E. Frankl yang merupakan seorang Psikiater terkemuka dari Eropa. Yang mana beliau juga pernah berada di empat kamp kematian Nazi antara tahun 1942-1945. Dan dalam buku ini beliau menceritakan pahit getirnya berada di kamp tersebut, tentang keberuntungan-keberuntungannya, tentang harapannya yang terkadang harus maju mundur, tentang dirinya dan tawanan-tawanan lain yang juga bertarung untuk bisa menerima penderitaannya.

Saya sampai bingung harus mengatakan apa tentang buku ini, kalimat-kalimat dalam ceritanya sangat memotivasi untuk siapapun yang sedang merasa menjadi manusia paling menderita, merasa menjadi manusia paling menyedihkan atau menjadi manusia yang paling sangat tidak beruntung. Sejatinya selama keyakinan itu masih hidup di batin kita, harapan untuk terus melangkah itu akan selalu ada, tidak peduli penderitaan atau situasi apapun yang sedang kita hadapi. Seperti yang dikatakan dalam bukunya bahwa kita harus bisa melakukan apapun di dalam situasi hidup yang bagaimanapun.

Dalam bukunya juga beliau mengatakan bahwa kita harus tau tentang alasan kita untuk hidup agar kita bisa menghadapi bagaimana-bagaimana ke depannya nanti. Kita memang tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi dalam hidup kita, tapi kita bisa mengendalikan rasa dan cara kita dalam menghadapi hal tersebut. Kita tidak bisa menolak kesedihan, kita tidak bisa menolak apapun yang sudah ditakdirkan dalam hidup kita, tapi kita bisa mengubah cara pandang dan sikap kita dalam menghadapi kesedihan itu. semua kembali pada diri kita, karena kita punya potensi untuk menentukan cara bersikap dan berfikir kita dalam menghadapi kehidupan. Penderitaan, rasa bersalah dan kematian, sering sekali menghantui kita, tapi ketiga hal tersebut seharusnya mampu menjadi sebuah kesempatan untuk menjadikan diri kita lebih berhasil, lebih belajar untuk menjadi baik dari hari ke hari dan lebih membuat kita menjadi manusia yang bertanggung jawab pada hidup yang tidak kekal.

Dalam buku Dr Viktor ini, kita diajak agar selalu berfikir positif untuk bisa menemukan makna hidup pada situasi dan kondisi apapun. Jangan pernah menyerah, jangan kalah hanya  kerena penderitaan, jangan hancur dikarenakan oleh diri sendiri. Karena kita bisa menentukan untuk memilih cara yang lebih baik dalam menanggapi masalah tersulit dalam hidup.

Kurang lebih itulah sebagian pelajaran yang bisa saya ambil dari buku beliau, saya tidak menuliskannya semua di sini, karena kalian harus mencobanya sendiri untuk membacanya. Dan sebelumnya, ada salah satu cerita beliau yang sangat menyentuh hati saya pribadi, ketika beberapa hari setelah pembebesan beliau  dari kamp Nazi, beliau berjalan menelusuri desa yang ditumbuhi banyak bunga-bunga dan beliau mendengarkan banyak kicauan burung. Tidak ada apapun kecuali bumi dan hamparan langit, pada saat itu beliau berhenti dan menatap sekelilingnya kemudian menengadah ke angkasa dan akhirnya berlutut. Kemudian beliau berucap “Saya memanggil Tuhan dari penjara saya yang sempit dan Dia menjawab saya di kebebasan ruang”, dan beliau sampai tidak ingat berapa lama berlutut dan mengulang-ulang kalimat tersebut. Dari cerita ini, saya seolah terbawa arus kebahagiaan beliau yang tiada tara karena bisa melihat dunia kembali dengan penuh kebebasan.

Cukup sekian review buku ini, saya tidak boleh berlama-lama untuk menuliskannya, karena “Dunia tengah berada dalam kondisi Buruk, tetapi akan tetap memburuk, kecuali masing-masing dari diri kita melakukan yang terbaik” (Dr Viktor E. Frankl)

 

Minggu, 15 November 2020

Ia yang terlahir membawa Rahim, dan yang Rahim (Penyayang)

 


Ada kisah menarik yang aku temukan dari buku Mark Manson, The Subtle Art of not Giving a F*ck, dengan judul bahasa Indonesia Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat. Kurang lebih seperti ini kisahnya, ketika pada tahun 2008 Taliban mengambil kendali lembah Swat, mereka segera melaksanakan agenda ekstremis mereka, dengan salah satu agendanya yaitu meniadakan wanita yang berada di luar rumah tanpa didampingi pria dan meniadakan anak perempuan untuk pergi ke sekolah. Pada tahun 2009, ada seorang gadis Pakistan berusia 11 tahun bernama Malala Yousafzai mulai bersuara untuk melawan larangan beresekolah bagi anak perempuan dan Malala memutuskan untuk tetap pergi bersekolah dan mempertaruhkan hidupnya sendiri dan nyawa ayahnya, ia juga mengikuti pertemuan-pertemuan di kota-kota terdekat, bahkan ia menulis secara online tentang taliban “beraninya Taliban merampas hak saya untuk mendapatkan pendidikan!” seiring berjalannya waktu saat Malala berusia 14 tahun tepatnya pada 2012, di suatu hari ia ditembak tepat di wajahnya saat naik bis dari rumah menuju sekolah. Ketika itu ada seorang tentara Taliban bertobeng membawa senjata menaiki bis dan berteriak “Mana Malala? Katakan atau kutembak semua penumpang di bis ini”. Kemudian Malala menunjukan dirinya, lalu tentara itu menembaknya di kepala di depan semua penumpang bis tersebut. Tapi bersyukur Malala hanya mengalami koma dan masih hidup. Bahkan beberapa tahun kemudian, ia masih berbicara dengan lantang melawan kekerasan dan tekanan terhadap para kaum perempun di berbagai negara.

Taliban dan Afghanistan. Menggunakan Islam sebagai dalil dalam menekan para perempuan, merampas hak-hak perempuan.

Ketika budaya-budaya patriarki itu makin menjamur, perempuan harus menjadi lebih tangguh tapi tetap teduh, kuat tapi tetap bersahabat. Karena perempuan banyak mengemban amanah dari Tuhan, untuk menjadi manusia yang melahirkan anak-anak, dari mulai mengandung sampai sembilan bulan membawanya kesana kemari, harus merasakan sakitnya melahirkan dan kemudian menyusui sampai dua tahun.

Di tengah kesibukan perempuan menjadi seorang ibu, ia  dituntut oleh budaya agar bisa menjadi istri yang baik versi budaya dengan bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah, memasak, menyapu, mengepel dan lain sebagainya. bahkan tidak jarang perempuan sering dilarang untuk menempuh pendidikan tinggi-tinggi, dengan alasan pendidikan perempuan tidak boleh mengungguli laki-laki, atau seperti kisah di atas, perempuan di kunci rapat-rapat di dalam rumahnya dan hanya berkutat dengan urusan domestik. Budaya patriarki seakan merampas hak-haknya, membuatmu dan menjadikanmu hanya berkutat soal dapur, sumur dan kasur.

Pada satu waktu saya pernah menelusuri sejarah perjalanan perempuan pada setiap masa, ternyata perempuan sering mendapat perlakuan yang tidak menguntungkan. perempuan bahkan dianggap oleh salah satu agama sebagai penyebab terusirnya Adam dari surga, sehingga dalam hal apapun perempuan  sering menjadi sebuah masalah dan dipermasalahkan. Mereka yang menganggap lemah dirinya, mereka yang menganggap remeh dirinya, mereka yang menganggap bahwa perempuan hanyalah pelayan untuk kehidupan laki-laki, mereka yang menganggap perempuan tidak boleh menempuh pendidikan tinggi-tinggi, aku yakin mereka hanya sedang menuruti keegoisannya saja, bahkan Tak jarang mereka  membawa dalil-dalil agama untuk membenarkan bahwa perempuan itu memang seperti apa yang mereka pikirkan, menganggapnya bahwa laki-laki dalam penciptaannya lebih unggul dari perempuan.

(Sumber: Buku Antologi Setintik Tinta Sejuta Makna, yang diterbitkan Sahabat Literasi. Salah satu tulisan Bird Pipit yang berjudul Untuk Makhluk terhebat, 2020)


Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan menurut Zainab al-Ghazali dalam Tafsirnya Nazharat fi Kitabillah.

 


Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwasanya Al-Qur’an tidak mengenal pembedaan antara laki-laki dan perempuan dan yang membedakannya hanyalah dari segi biologisnya. Al-Qur’an tidak mengajarkan diskriminasi antara laki-laki dan perempuan sebagai manusia. konstruk sosial dan agama mendudukan perempuan pada tempat semestinya, sama halnya dengan membongkar habis sejarah manusia yang telah berlangsung berabad-abad dan yang digugat tidak hanya sistem sosial yang terdiri dari kaum pria, tapi juga dari kaum perempuan itu sendiri.[1]

Al-Qur’an sebagai konsepsi dasar ajaran Islam secara verbal telah menjelaskan bahwa posisi perempuan sejajar dengan laki-laki. Untuk itu, jika ada pemahaman miring terhadap kedudukan perempuan dalam Islam, hal itu sebenarnya hanya hasutan orang-orang non muslim atau kaum orientalis. Islam tidak hanya sekedar menempatkan perempuan dalam kerja sama dengan laki-laki pada semua aspek tanggung jawab, baik secara khusus maupun umum. Lebih dari itu, Islam telah mengangkat derajat perempuan dan menempatkan sebagai perimbangan atas tanggung jawab yang dipikul dipundak mereka. Islam mengharuskan adanya penghargaan kepada kaum perempuan apabila ternyata mereka benar, persis seperti penghargaan yang harus diberikan kepada laki-laki. Jika Islam berkenan menerima pendapat sebagian laki-laki, maka ia pun menerima pendapat sebagian perempuan.[2]

  

Artinya: “Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): "Sesungguhnya aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik." (QS ali-Imran: 195)

 

Dalam tafsirnya Zainab al-Ghazali menjelaskan:

“Sesungguhnya diantara kegungan Allah Swt adalah bahwa ia merupakan zat yang maha adil lagi maha benar, tidak akan pernah menyia-nyiakan amalan hambanya, baik laki-laki maupun perempuan. Pada potongan ayat, ‘sebagian kalian dari sebagian yang lain’ mengandung makna kesetaraan sekaligus pemuliaan terhadap perempuan dan laki-laki secara bersamaan. Allah menjadikan keduanya sebagai esensi dari humanisme yang utuh. Allah gantungkan pengelolaan makhluk secara umum kepada mereka berdua serta Allah bebankan kepada mereka keharusan untuk mengikuti syri’at Nabi Muhammad saw serta bersama-sama dengannya menanggung amana serta menyampaikna risalah agama.

Kemudian Allah mengangkat derajat orang-orang yang maju untuk berjihad dari golongan laki-laki dan perempuan, lalu mereka berhijrah di jalan Allah. Mereka tanggung segala penderitaan di jalannya, sekalipun mereka diusir dari kampung halaman mereka. Begitu juga mereka mendapatkan berbagai perlakuan yang kurang baik dari orang-orang kafir dan zhalim. Kemudian dengan ganjaran dari Allah swt, ia hapuskan dosa-dosa keburukan mereka. Ia masukkan mereka ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, serta ia berikan untuk mereka ganjaran terbaik dari sisinya.[3]

 

Menurut Asma Barlas keberpasangan laki-laki dan perempuan yang berpotensi berbuat kebaikan dan dosa, itu artinya Al-Qur’an menuntut agar keduanya hidup berdasarkan prinsip-prinsip yang sama dan memandang keduanya memiliki kemampuan yang sama untuk melakukan atau tidak melakukannya.[4]

Dalam ayat-ayat Al-Qur’an maupun sunnah Nabi yang merupakan sumber utama ajaran Islam, terkandung nilai-nilai universal yang menjadi petunjuk bagi kehidupan manusia dulu, kini dan akan datang. Nilai-nilai tersebut antara lain nilai kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, kemerdekaan dan sebagainya. Berkaitan dengan nilai kesetaraan dan keadilan, Islam tidak pernah mentolerir adanya perbedaan atau perlakuan diskriminasi diantara umat manusia. sementara itu berkaitan dengan kesetaraan di antara jenis kelamin, yakni antara perempuan dan laki-laki, dalam ajaran Islam tidak membedakan diantara mereka berdua. Siapa saja diantara mereka akan mendapat ganjaran setimpal dengan apa yang telah mereka perbuat. Namun dalam kenyataannya hubungan antara laki-laki dan perempuan di tengah masyarakat masih timpang. Diantara penyebab hal tersebut adalah mitos-mitos yang disebarluaskan melalui nilai-nilai dan tafsir-tafsir ajaran agama yang keliru mengenai keunggulan kaum laki-laki.[5]

Al-Qur’an tidak membedakan perilaku moral dan sosial antara laki-laki dan perempuan. Al-Qur’an justru menerapkan standar yang sama terhadap mereka dan menetapkan hukum atas mereka berdasarkan kriteria yang sama. sedikitpun  tidak ditemukan dalam Al-Qur’an pernyataan bahwa laki-laki dan perempuan karena secara biologis berbeda maka tidak setara dan berlawanan dalam berbagai hal atau bahwa Tuhan telah menganugerahi laki-laki kemampuan atau potensi yang tidak diberikan kepada perempuan. Kesetaraan antara laki-laki dan perempuan berdasarkan keimanan atau keingkaran mereka inilah yang menjadi inti ajaran Al-Qur’an tentang personalitas moral dan keimanan.[6]


Artinya: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana(71). Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar (72).” (QS at-Taubah: 71-72)

 

Dalam tafsirnya Zainab al-Ghazali menjelaskan:

“Sesungguhnya ketentuan Allah Swt yang menyebutkan bahwa orang-orang yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan sebagian mereka adalah sekutu bagi sebagian yang lain, merupakan penjelasan terhadap ungensitas persatuan dan kesatuan di antara kaum muslimin. Sesungguhnya satu golongan yang berbeda dalam hal pemikiran yang muncul di kalangan kaum muslimin sangat berpotensi menyia-nyiakan kesungguhan golongan yang lain serta melemahkan semangat mereka. Tidaklah  pertolongan kaum muslimin awal-awal terhadap Rasulullah saw melainkan karena sesungguhnya mereka ibarat gelang perhiasan yang ada di sekeliling pergelangan tangan. Dengan demikian, kewajiban awal yang diperintahkan oleh sang penyeru umat (Muhammad saw) terhadap umat Muslim yang taat adalah menyatukan barisan mereka dan berusaha sekuat tenaga untuk melenyapkan perpecahan, pembelotan, serta pertikaian yang akan menceraiberaikan umat sehingga melemahkan persatuan mereka dan melenyapkan kekuatan mereka.

Hendaknya kita wahai kaum Muslimin, mengambil pelajaran dari hikmah salat berjama’ah serta anjuran untuk melaksanakannya di masjid. Anjuran ini menegaskan kepada kita bahwa kekuatan Islam terletak pada kesatuan umat di bwah petunjuk Al-Qur’an yang mulia, dimana ayat-ayatnya kita senandungkan di dalam setiap rakaat dari salat-salat kita dengan penuh semangat dan kecintaan. Maka melalui fenomena yang kita hadapi sekarang, kita melihat kondisi umat, siapakah diantara mereka yang berpegang teguh terhadap Al-Qur’an, siapa yang mau menyatukan barisannya di bawah petunjuk Al-Qur’an dengan semangat persaudaraan, kecintaan, kesungguhan dan amal saleh? Allah telah menjanjikan kepada hamba-hambanya yang beriman, berakidah tauhid, bersikap benar dalam perkataan dan perbuatan, baik di saat sendirian ataupun bersama orang lain, maka akan Allah berikan surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai dan mereka kekal di dalamnya. Bagi mereka di dalamnya juga disediakan tempat-tempat yang baik dalam surga ‘Adn dan bahkan yang lebih besar dari itu yaitu keridhaan Allah terhadap mereka dan itulah kemenangan yang terbesar.[7] 

Dalam penafsiran ayat ini, Zainab al-Ghazali semakin menekankan bahwa laki-laki dan perempuan itu adalah sekutu yang harus diperkuatkan persatuan dan kesatuannya. Beliau memaparkan bahwa perbedaan dalam hal pemikiran di kalangan kaum muslimin sangat berpotensi menyia-nyiakan semangat golongan umat Islam dan akan melemahkan semangat mereka. karena menurutnya itu dapat meruntuhkan persatuan umat muslim. Seharusnya umat Muslim yang taat itu harus menyatukan barisan  dan berusaha dengan sekuat tenaga  untuk menghilangkan perpecahan dan itu tidak dibeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan, karena kedua-duanya harus ikut andil dalam memperjuangkan persatuan umat Islam.

Kewajiban beramar ma’ruf nahi munkar itu bukan hanya menjadi tanggung jawab laki-laki saja, tetapi juga mencakup perempuan. dengan kewajiban sosial tersebut, kewajiban amar ma’ruf nahi munkar, Islam telah memberikan kedudukan sosial yang tinggi kepada perempuan, di mana untuk pertama kalinya Islam telah menjadikan perempuan sebagai orang yang menyuruh, yang sebelumnya tidak pernah dikenal di dalam ajaran lain melainkan hanya sebagai orang yang diperintah.[8]

Karena sudah menjadi sesuatu hal yang wajar apabila antara manusia yang satu dan yang lain saling bekerjasama dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagai bagian dari masyarakat, sebagaimana halnya laki-laki, perempuan memiliki andil besar dalam menentukkan arah, corak dan pola generasi kini dan masa depan. Karena itu, perempuan bersama laki-laki juga harus bertanggung jawab dalam perngaturan urusan umat/masyarakat secara keseluruhan. Dengan kata lain, kaum muslim maupun muslimah semuanya wajib berjuang untuk menjadikan umat Islam sebagai Khayru Ummah, sebaik-baik umat yang ada di dunia ini, bergerak bersama-sama dan tidak memisahkan diri. Sebab, sebagai din yang sempurna dan universal, Islam memandang setiap persoalan kemanusiaan tanpa pernah membedakan apakah itu persoalan laki-laki dan persoalan perempuan saja. Islam memandang setiap persoalan umat manusia sebagai tanggung jawab seluruh kaum muslim, baik laki-laki maupun perempuan (sebagai individu serta bagian keluarga dan masyarakat).[9]


(sumber: Tesis Fitriyah Syam'un, Kesetaraan Gender menurut Zainab Al-Ghazali , Studi Analisis Tafsir Nazharat fi Kitabillah,: PT Qaf Media, 2017)

 

 

 



[1] Maslamah dan Suprapti Muzani, Konsep-konsep tentang Gender Perspektif Islam,  hlm 285

[2] Huzaemah Tahido Yanggo, Fikih Perempuan Kontemporer, (Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia, 2010), Cet I, hlm 84

[3] Zainab al-Ghazali al-Jubaili, Nazharat fi Kitabillah,  hlm 278

[4] Asma Barlas, Believing Women in Islam, Terj,.R. Cecep Lukman Yasin, hlm 255

[5] Ratna Batara Munti, Perempuan sebagai Kepala Rumah Tangga, (Jakarta: The Asia Foundation, 1999), Cet I, hlm 38

[6] Asma Barlas, Believing Women in Islam, Terj,.R. Cecep Lukman Yasin, hlm 254

[7] Zainab al-Ghazali al-Jubaili, Nazharat fi Kitabillah,  hlm 573

[8] Muhammad Ali al-Hasyimi, Jati Diri Wanita Muslimah, (Jakarta: al-Kautsar, 1997), cet I, hlm 425

[9] Najmah Sa’idah dan Husnul Khatimah, Revisi Politik Perempuan, (Bogor: CV IdeA Pustaka Utama, 2003), Cet I, hlm 130


Lawanmu adalah Kamu

 


Kamu tidak perlu mencari siapa yang harus kamu lawan, karena musuhmu sendiri ada dalam dirimu, bersemayam dan duduk manis. Ia sedang menantimu, menanti kamu membuat perang antara akal dan hatimu. Tidak mudah untuk menyadari, bahwa pada akhirnya bukan orang lain yang harus kamu kalahkan, tapi musuh terbesarnya ada dalam dirimu sendiri.

ketika kamu merasa disakiti  orang lain, kamu harus berperang dengan dirimu sendiri, beradu pikiran, apakah kamu harus membencinya atau membiarkan saja dan memaafkannya. Ketika kamu merasa dunia tidak adil, lagi-lagi kamu juga harus berperang hebat dengan pikiranmu, apakah kamu harus sabar atau marah pada Tuhan. Hal-hal yang terasa membuatmu sedih, menangis, senang, bahagia, secara otomatis akal dan hatimu mencernanya dan mencari cara terbaik, sikap apa yang tepat untuk mengahadapi dan menerimanya.

Terkesan mudah, ketika mendengar dirimu sendiri yang harus dilawan, tapi faktanya itulah hal terberat dan sering membuatmu kalah dan ingin menyerah. Tapi percayalah, situasi apapun yang sedang kamu hadapi sekarang, bukan karena Tuhan tidak menyayangimu, justru karean Tuhan tau kamu mampu dan Tuhan ingin kamu selangkah lebih dekat lagi kepadanya.

Menangislah dan marahlah, apapun itu semoga tidak merubah dirimu untuk tetap menjadi pribadi yang semakin hari semakin kuat dan tangguh. Aku mencintaimu yang sedang berjuang melawan kekurangan apapun yang ada dalam dirimu, sampai nanti kamu akan ada  pada satu titik, dimana kamu bisa merubahnya menjadi lebih baik dan menerima dirimu dengan penerimaan yang besar.

(Fitriyah Syam'un)

Makhluk Terbatas

  Makhluk terbatas itu kamulah salah satunya. Kekuatanmu terbatas, daya pikirmu terbatas, semua yang ada dalam dirimu dan di luar dirimu ter...