Selasa, 02 Januari 2024

MATINYA RANJANG NOMOR 12 OLEH GHASSAN KANAFANI

 


Satu buku lagi yang menemani akhir tahun 2023 kemarin, buku Kumpulan cerpen yang ditulis oleh penulis dari Palestina ini benar-benar sangat menggugah jiwa dan perasaan, selain karena setiap ceritanya pasti  berbicara tentang kebebasan, perampasan tanah, kematian, ketidakpastian, kegetiran Nasib dan garis hidup yang mengerikan, kalimat-kalimat pada renteten kisahnya benar-benar mengandung retorika dan syair yang indah. Tentu inilah yang membuat saya langsung jatuh cinta pada karya mendiang Ghassan Kanafani dan ini adalah pertama kalinya saya membaca karya dari  penulis negeri Palestina.

Matinya ranjang nomor 12 oleh ghassan kanafani, karya ini merupakan kumpulan cerita yang menjadi karya debut beliau sebelum dirinya dikenal sebagai salah satu penulis terpenting di Timur Tengah melalui puluhan karya-karyanya yang lain. Ghassan Kanafani sendiri lahir pada 8 April 1936, beliau merupakan seorang penulis Palestina dan gembong utama Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP). Pada 8 Juli 1972, ia dibunuh oleh Mossad (badan Intelejen Israel) melalui serangan bom yang dipasang pada mobilnya. Al-Fatihah

Buku Kumpulan cerpen ini memiliki ukuran yang standar dan ringan sehingga memudahkan pembaca untuk membawanya kemanapun, karena hanya memiliki ketebalan 161 halaman saja. Buku ini diterbitkan oleh penerbit Intensif Books, pada cetakan pertama  bulan Juni tahun 2023.

Untuk teman-teman readers yang ingin sekali membaca buku ringan dari penulis Palestina, saya rekomendasikan untuk membaca buku ini, semoga ini juga salah satu bentuk dukungan kita untuk kemerdekaan Palestina dan jangan lupa untuk mengirimkan doa kepada penulisnya, semoga Allah letakkan Gassan Kanafani di tempat terbaik di sisinya, dan  doa untuk seluruh Masyarakat Palestina yang telah syahid karena gempuran-gempuran zionis yang tak kunjung usai. Aamiin

Berikut sekelumit kalimat-kalimat indah namun menyayat hati dalam Kumpulan cerpen Gassan Kanafani:

“Bagaimana Palestina Jatuh inci demi inci dan bagaimana kami mundur inci demi inci. Senapan antic di tangan para laki-laki kasar berseliweran di depan mata kami seperti legenda berdarah. Suara-suara rudal dari kejauhan menunjukkan bahwa pertempuran Tengah terjadi. Sementara para istri kehilangan suaminya. Anak-anak kehilangan ayah mereka. Mereka diam melihat peperangan melalui jendela hingga ke liang kematian.” (hlm 9)

“di bawah Cahaya ledakan dari kejauhan, aku melihat kegagahan di kedua matanya. Ada ketakutan di kedua matanya, namun ia teguh menekan perasaan dalam pilihan antara melarikan diri atau mati.” (hlm 13)

“dua belas tahun telah berlalu dan aku yakin kau sangat jauh dari segalanya. Kau merebah dalam tanah dan hancur. Kau juga merebah dalam ingatan kami dan lenyap. Roman wajahmu… lagi, roman wajahmu… aku tak lagi mengingatnya dengan baik. Suaramu, aku juga tak tahu lagi seperti apa. Matamu, aku tak lagi ingat seperti apa kilaunya.” (hlm 24)

“anak-anak yang tidak sabar menunggu suara bel pulang untuk pergi ke gang-gang kecil di Damaskus yang luas demi bergulat dengan senja untuk mendapatkan makan malam. Mereka menunggu bel pulang dengan sangat lapar untuk berbagi  di bawah langit abu-abu yang dingin. Masing-masing dari mereka memiliki cara sendiri dalam hidup. Ketika malam turun, mereka Kembali ke kamp atau rumah tanah mereka dan berhimpitan dengan keluarga mereka  yang sunyi sepanjang malam selain suara batuk. Aku seperti mengajar anak-anak yang lebih tua dari umur yang sebenarnya, sangat lebih tua.  Masing-masing mereka adalah percikan dari gesekan keras kehidupan yang kejam. Mata mereka di kelas bersinar seperti jendela kecil terhadap dunia yang tak dikenal, berwarna dengan warna-warna yang lembut. Sementara bibir mereka terkunci rapat seakan mencegah ketakutan yang tak dapat mereka kendalikan. Kelas itu merupakan dunia yang kecil. Dunia yang terbentuk dari penderitaan yang bertumpuk sekaligus penderitaan kepahlawanan. Di antara mereka aku merasa seperti sesuatu yang asing. Perasaan ini memberiku ketegaran untuk berusaha sampai di hati mereka semampuku.” (Hlm 34)

“sesungguhnya aku adalah manusia yang sakit. Darah yang mendidih dalam diriku sama sekali tak bernilai. Ia adalah darah yang pantas untuk manusia renta, setengah mati, setengah hidup, manusia yang di dalam dadanya tidak ada apapun selain kotak masa lalu yang terkunci, seseorang yang masa depannya hanyalah lilin yang menerangi lainnya dan membakar dirinya lalu padam dan habis.” (hlm 44)

“demi saat-saat ini, aku adalah mercusuar yang bersinar di hadapan perahu yang hilang, yang dengan menemukan mercusuar ini ia bertahan dalam rasa rindu dan kedamaian.” (Hlm 47)

“manusia tidak perlu hidup sambil meyakini sesuatu yang dapat menghentikan umurnya. Kehidupan adalah kehidupan, tempat hidupnya manusia.” (hlm 124)

“ini adalah perjalanan yang luar biasa! Hari ini bukanlah apa pun selain tragedy. Dan esok adalah yang kita sebut dengan petualangan.” (the Last)

Happy Readers…


 


Senin, 25 Desember 2023

Please Look After Mom by Kyung Sook Shin

 

Sebuah novel yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Gramedia ini berhasil membuat pembaca emosional pada setiap lembar yang di tuliskan oleh Writer-nim. Saya menangis, ikut merasakan betapa kesepian dan kesedihan itu terasa nyata dirasakan oleh sang Ibu, namun Ibu tidak menyerah, ia sosok wanita yang melepaskan semua impian-impiannya dan menejalani kehidupan yang sangat berat itu dengan tidak menyerah.  Anak-anak menjadi penguat dirinya untuk tetap bekerja keras, namun rasa kesakitan  bercampur kebahagiaan melihat anak-anaknya ketika mulai beranjak dari rumah lamanya dan pergi ke kota untuk menjemput impian-impiannya sangat menyentuh hati. Ah saya jadi tidak bisa menggambarkan bagaimana penuh emosional nya novel ini, saya pikir setiap lembar novel ini adalah peringatan tentang jangan pernah sia-siakan orang tersayangmu, karena hidup adalah kesempatan yang hanya bisa dirasakan saat kita benar-benar kehilangan.

Dari tangan ibu itulah kelima anaknya berhasil menjemput semua mimpi-mimpinya, tidak peduli masa kecil mereka dihimpit oleh kemiskinan, tapi ibu selalu berusaha mati-matian agar semua anak-anaknya hidup dengan makan yang cukup, meskipun sendirinya harus merasa kesakitan dan kelaparan. Namun ibu juga manusia, yang hatinya harus dikuatkan ketika dirinya sendiri tak kuat menghadapi nasib yang menimpanya dan dalam novel ini kita akan tahu sekuat apapun seseorang ia pasti membutuhkan tempat bersandar untuk menyembuhkan kesedihan itu.

Novel ini juga menjadi novel pertama yang saya baca dengan menggunakan POV 2, POV 3 dan POV 1. Di akhir-akhir halaman saya jadi berpikir mungkin narator dalam cerita di novel ini adalah sang ibu sendiri. Tapi apapun itu saya sangat merekomendasikan novel ini, bagi saya jika harus memberikan nilai berapa antara 1-10 maka saya akan memberikannya 10. Sempurna karena novel ini membuat pemahaman bahwa seburuk apapun kamu, kamu jangan pernah menyia-nyiakan seseorang yang telah banyak berkorban untuk hidupmu. Bahkan karena novel ini, penulisnya menjadi wanita pertama dan orang korea selatan pertama yang memenangkan penghargaan sastra  orang Asia pada tahun 2012. Ah saya jadi merinding menulisnya.

Untuk melengkapi review ini, saya ingin menuliskan beberapa kalimat yang ada dalam novel ini, semoga membuat kalian semakin ingin membacanya.

“Kalau dipikirkan baik-baik, sebagian besar hal di dunia ini tidak terjadi dengan tiba-tiba. Bahkan sesuatu yang dianggap tidak biasa, kalau dipikir-pikir sebenarnya sesuatu itu sudah ada gelagat akan terjadi.”

“ibu : bukan masalah senang atau tidak senang. Aku memasak karena sudah seharusnya. Aku mesti ke dapur supaya kalian semua bisa makan dan pergi ke sekolah. mana bisa kita hanya melakukan apa yang kita sukai? Ada hal-hal yang mesti dilakukan, entah suka atau tidak.”

“ibu: bagaimana kau bisa hidup kalau tidak bisa menaruh percaya pada orang lain? lebih banyak orang-orang yang baik daripada orang yang jahat.”

“kadang-kadang kehidupan ini sangatlah rapuh, tetapi ada jiwa-jiwa yang bukan main kuatnya.”

“sosok perempuan itu lenyap, sedikit demi sedikit, setelah melupakan rasa suka cita karena telah dilahirkan, melupakan masa kanak-kanaknya serta impian-impiannya, menikah sebelum mendapatkan menstruasi pertamanya, lalu melahirkan lima orang anak dan membesarkannya. Perempuan yang setidaknya kalau mengenai anak-anaknya tidak merasa terkejut atau bingung akan apapun. Perempuan yang hidupnya ditandai dengan pengorbanan sampai saat dia menghilang.”

Demikian, selamat mencoba untuk membaca, saya yakin kamu tak akan menyesal telah membeli dan membacanya. J



The Cat who Saved Books by Sosuke Natsukawa

 


Sebuah novel ringan yang menemani hari-hari menjelang akhir tahun 2023, The Cat who Saved Books atau dalam judul Bahasa Indonesia Kucing Penyelamat buku karya Sosuke Natsukawa. Seorang penulis Jepang yang juga seorang dokter di Nagano Jepang. Buku ini bercerita tentang seorang lelaki remaja yang tinggal berdua Bersama kakeknya, namun pada suatu hari takdir membawanya pada waktu sang kakek harus pergi meninggalkannya sendiri dengan warisan toko buku tua di sudut kota, sebuah tempat yang sering mereka berdua habiskan untuk membaca sekaligus menjual  buku-buku kuno yang sudah hampir tenggelam karena semakin langka di pasaran.

Namun sepeninggal kakeknya, Rintaro tidak lagi memiliki semangat hidup, meski air mata tak pernah deras mengalir di pipinya, Rintaro bertekad untuk berhenti sekolah dan menutup toko bukunya. Dengan kepribadian Rintaro yang sangat tertutup, Rintaro merasa tidak ada yang benar-benar peduli pada kehadirannya. Tapi  Keajaiban datang, hal-hal aneh terjadi di toko buku, di luar pikirannya, tiba-tiba petualangan-petualangan itu datang dalam hidupnya setelah kucing belang itu tiba-tiba muncul dari rak buku paling belakang dan mulai berbicara dengan Bahasa manusia.

Buku ini sangat epic dan ringan sekali untuk dibaca, tentu penulisnya ingin menyampaikan bahwa buku-buku itu sangat penting dan tak akan pernah lekang oleh waktu. Buku The Cat who Saved Books atau dalam judul Bahasa Indonesia Kucing Penyelamat buku karya Sosuke Natsukawa ini hanya memiliki ketebalan sampai 199 hlm saja, dengan ukurannya yang tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar memudahkan untuk para readers membawanya kemana-mana.

Ada kutipan-kutipan menarik dalam buku ini, kutipan-kutipan itu saya ambil dari percakapan antara Rintaro dan si kucing ataupun dari penulisnya sendiri.

“buku itu memiliki kuasa amat besar, ada cerita-cerita yang abadi, cukup kuat untuk bertahan dari zaman ke zaman, bacalah buku-buku seperti itu banyak-banyak, karena buku itu akan menjadi temanmu, mengilhami dan menopangmu.” (hlm 16)

“dunia ini mendatangkan bermacam rintangan untuk kita, kita dipaksa menanggung begitu banyak masalah berat, senjata terbaik mita untuk melawan segala kepedihan dan kesulitan di dunia ini bukanlah logika atau kekerasan. Senjata terbaik kita adalah humor.” ( hlm 23)

“tidak benar bahwa semakin banyak kau membaca, semakin banyak kau melihat dunia, seberapa banyak pun pengetahuan yang kau jejalkan ke dalam kepalamu, kalau kau tidak menggunakan otakmu sendiri untuk berpikir, berjalan dengan kakimu sendiri, pengetahuan yang kau peroleh akan selalu hampa dan sekedar pinjaman.” (hlm 45)

“buku bisa memberi kita pengetahuan, kebijaksanaan, prinsip, pandangan tentang dunia dan masih banyak lagi, sukacita karena baru mengetahui sesuatu yang tadinya tidak kita ketahui dan mellihat segala sesuatu dari sudut pandang baru terasa mendebarkan. Tetapi entah mengapa aku percaya bahwa buku memberi kita sesuatu yang lebih dari itu.” (hlm 179)

Baiklah sekian review dari saya, semoga review singkat ini sedikit banyak menarik teman-teman untuk membaca buku Kucing Penyelamat Buku karya Sosuke Natsukawa ini, Happy Readers…



Sabtu, 02 Desember 2023

Muhammad sang Guru

 

Ada salah satu buku yang menurut saya wajib sekali dibaca oleh semua para pendidik, baik pendidik umat maupun pendidik untuk keluarga di dalam rumahnya. Buku itu berjudul asli ar-Rasul al-Mu’alim wa Asalibuhu fi at-Ta’lim dengan judul Bahasa Indonesia Muhammad sang Guru karya Abdul Fattah Abu Ghuddah, salah seorang tokoh Pendidikan Islam dan Guru Besar Ilmu Hadis dari Aleppo, Suriah.

Pada mulanya saya pikir buku ini akan menjadi buku yang menjenuhkan untuk dibaca, tapi ternyata tidak. Meskipun dipenuhi dengan banyak dalil-dali hadis maupun Al-Qur’an, Susunan tulisan yang disodorkan penulis justru memudahkan pembacanya menangkap inti dari apa yang ingin disampaikan. Penulis benar-benar mengambil intisari dari al-Qur’an dan hadis terkait metode Pendidikan ala nabi saw dengan diksi yang sangat mudah untuk dibaca dan dipahami.

Beberapa kutipan dalam buku akan saya tuliskan di sini, sebagai referensi untuk teman-teman agar semakin tertarik untuk memiliki dan membaca buku ini, sehingga kemudian berdampak dalam melaksanakan proses belajar mengajar kepada peserta didik.

Penulis buku mencantumkan pendapat Thomas Carlyle yang merupakan penulis satir dari Skotlandia, yang memberikan opini terkait bangsa Arab: “mereka adalah bangsa yang melakukan perjalanan di padang pasir, bangsa yang luput dari perhatian selama berabad-abad. Ketika seorang Nabi dari bangsa Arab datang kepada mereka, mereka menjadi pusat perhatian dalam berbagai bidang ilmu dan pengetahuan, jumlah mereka bertambah banyak dan menjadi bangsa yang mulia. Tidak sampai satu abad, seluruh penjuru dunia tercerahkan oleh kepandaian dan ilmu mereka.” (hlm 7)

Ada salah satu hadis Mauquf riwayat Imam Tirmidzi yang dicantumkan penulisnya dalam buku ini, hadis tersebut menggambarkan bagaiamana mulia dan indahnya karakter mengajar baginda Nabi saw:

“Rasulullah adalah orang yang senantiasa bersedih, selalu berpikir, tidak mengenal Lelah, pendiam (tanang), hanya berbicara ketika diperlukan, memulai dan menutup pembicaraan dengan menyebut nama Allah, berbicara dengan Jawami’ul Kamlim (kalimat yang singkat, tapi penuh makna), perkataannya rinci, tidak terlalu Panjang dan tidak terlalu pendek. Beliau bukan orang yang berperangai kasar dan hina, selalu menghargai nikmat sekecil apapun nikmat itu dan tidak mencelanya sedikitpun. Beliau juga tidak suka mencela makanan dan minuman, tidak pula memujinya.” (hlm29)

“Rasulullah adalah orang yang selalu menampakkan wajah riang dan ceria, memiliki akhlak dan tabiat lembut, tidak berkata kasar, bukan orang yang keras, tidak suka berteriak, tidak pernah berkata dan berbuat kotor, tidak pernah mencela, tidak pernah memuji berlebihan, mudah melupakan hal-hal yang tidak ia sukai, tidak memupus harapan orang yang berharap kepadanya, tidak pula mengecewakannya. Rasulullahb saw juga selalu berusaha menjauhkan diri dari tiga hal: 1, perselisihan (perdebatan). 2, berlebih-lebihan. 3, segala hal yang tidak bermanfaat baginya. Beliau juga menjauhkan manusia dari tiga hal : 1, mencela atau menghina orang lain. 2, membuka aib orang lain. 3, berbicara dengan orang lain tanpa ada pahala (manfaat) di dalamnya.” (hlm 35)

Terdapat 40 metode pengajaran ala Rasulullah saw yang dikemas apik dalam buku ini dan sudah seharusnya menjadi buku pegangan bagi para pendidik agar bisa menciptakan proses belajar mengajar yang didasarkan pada karakter masing-masing peserta didik.

Metode pengajaran Rasulullah yang paling penting, utama dan paling menonjol adalah menjadikan dirinya teladan dengan mencontohkan akhlak mulia. Jika Rasul menyuruh melakukan sesuatu, beliau orang pertama yang akan melakukannya sehingga para sahabat bisa mengikutinya dan mengamalkan sebagaimana yang mereka lihat langsung. Tak diragukan lagi metode mengajar deengan Tindakan dan praktik langsung lebih kuat pengaruhnya, lebih membekas dalam jiwa, lebih memudahkan pemahaman dan ingatan, serta lebih menarik perhatian untuk diikuti dan dicontoh dibandingkan sebatas penjelasan yang diucapkan. (hlm 81-82)

Ibnu Hajar dalam kitab Fath al-Bari menyatakan : “mengajarkan ilmu juga harus dilakukan secara bertahap. Sebab jika awal mempelajari sesuatu itu sudah mudah, orang yang akan menekuninya pasti semangat dan mampu mempelajarinya dengan cara sederhana. Sebagian cirinya adalah biasanya mereka akan minta tambahan Pelajaran. Namun akan menjadi sebaliknya jika awal mempelajari sesuatu sudah terlihat sulit.

jika Rasulullah saw mengutus salah seorang sahabatnya dalam suatu urusan, beliau berwasiat, ‘berilah kabar gembira (kapada manusia), jangan buat mereka menjauh. Permudahlah (urusan) mereka, jangan dipersulit.” (HR Muslim)

Abdullah bin Umar: “jika sudah masuk waktu sore, jangan kau tunggu datangnya pagi. Jika sudah pagi, jangan kau tunggu sore. Carilah bekal pada masa sehatmu untuk masa sakitmu, pada saat kau hidup untuk kematianmu nanti. Sebab nanti, wahai hamba Allah, kau takkan pernah tahu siapa namamu kelak.” (hlm 293)

Semoga bermanfaat …


 

 


Kamis, 16 November 2023

Dokter Perempuan pada masa Nabi Saw itu Bernama Rufaidah al-Anshariyah

 


Siapa bilang Perempuan dalam Islam tidak mendapat tempat dalam mengasah potensi yang dimilikinya? kalau kita benar-benar merujuk pada Sejarah lahirnya Islam dan bagaimana baginda nabi saw memperlakukan kaum Perempuan pada masa itu, maka kita tentu bisa menarik kesimpulan, bahwa semasa nabi hidup, Perempuan justru mendapat hak-hak nya serta mendapat kesempatan untuk menggali potensinya, sebut saja menjadi seorang dokter atau perawat, salah satu potensi yang mengharuskan Perempuan untuk tidak hanya bergelut pada wilayah domestic (rumahnya).

Perempuan pada masa nabi yang memiliki potensi sebagai dokter atau perawat itu Bernama  Rufaidah al-Anshariyah, ia lahir pada tahun 570 M di Madinah, ia hidup pada masa nabi saw dan merupakan kaum Anshar. Ilmu keperawatan yang dimilikinya ia pelajari dari sang ayah yang berprofesi sebagai tabib atau dokter, dengan penuh ketekunan ia selalu membantu ayahnya. Pada hari-hari biasa tanpa peperangan, Rufaidah membangun sebuah tenda di luar masjid Nabawi untuk merawat setiap orang-orang yang sakit.

Pada lain waktu Ketika terjadi peperangan dan umat Muslim harus turun ke medan perang, seperti perang Badar, Uhud, Khandaq dan perang Khaibar, Rufaidah dengan penuh keberanian turun ke medan pertempuran. Ia berada di garis belakang untuk membantu para tantara muslim yang terluka akibat perang. Pada saat seperti itu, Rufaidah mendirikan tenda rumah sakit lapangan, sehingga baginda nabi saw memerintahkan korban yang terluka segera dirawat oleh Rufaidah.

Rufaidah tidak menyimpan ilmu itu sendirian, karena ia juga menyebarkan ilmu yang dimilikinya. Ia melatih para Muslimah yang berminat untuk menjadi perawat. Secara khusus, kelompok perawat yang dilatih Rufaidah meminta izin kepada baginda nabi saw untuk ikut digaris belakang pertempuran untuk merawat para mujahid yang terluka. Selain menjadi perawat, mereka juga aktif dalam kegiatan-kegiatan social lainnya.

Rufaidah  dengan penuh kasih sayang dan perhatian, selalu memberi perhatian kepada setiap muslim, orang miskin, anak yatim atau penderita cacat mental. Rufaidah pun tidak hanya merawat anak yatim, tetapi juga memberi mereka bekal Pendidikan. Sejarah menggambarkan Rufaidah sebagai sosok yang memiliki kepribadian yang luhur dan penuh empati.

Dalam melayani pasien Rufaidah selalu memberikan layanan yang prima tanpa memandang status social, Ikhlas dan tanpa pamrih itulah sosok Rufaidah al-Anshariyah perawat terkemuka di zaman Nabi saw. Ibnu Ishak dalam riwayatnya menuturkan, Ketika Sa’ad bin Mua’dz terluka dalam perang Khandaq, baginda rasul saw berkata kepada para sahabat, “Bawalah dia ke tenda Rufaidah dan aku akan menjenguknya nanti.”

Dunia keperawatan Islam mengukuhkan Rufaidah sebagai perawat Muslim pertama di dunia. Tak Cuma itu, ia juga dinobatkan sebagai perawat pertama di dunia. Bagaimana tidak, Rufaidah sudah mulai berkiprah jauh sebelum Florence Nightingale (yang diklaim dunia Barat sebagai pelopor keperawatan modern) terlahir. Florence terlahir di Italia pada tahun 1820 M baru berkiprah di dunia keperawatan pada abad ke-19 M dan itu artinya Rufaidah telah merintis dunia keperawatan 12 abad lebih dulu dari Florence.

Prof. Omar Hasan Kasule dalam studinya menggambarkan, Rufaidah sebagai perawat professional pertama dalam Sejarah Islam. Menurut Omar, Sejarah menggambarkan Rufaidah sebagai perawat teladan, baik dan bersifat empati. “Rufaidah adalah seorang pemimpin, organisatoris, mampu memobilisasi dan memotivasi orang lain,” tutur Omar.

Rufaidah wafat pada tahun 632 M. kepergiannya meninggalkan sumbangsih sangat besar sebagai seorang perawat Perempuan pada masa nabi saw, karena pengalaman kliniknya selalu ia salurkan kepada perawat lain, yang dilatih dan bekerja di bawah bimbingannya. Semasa hidupnya Rufaidah tidak hanya melaksanakan perawat dalam aspek klinikal semata, tetapi juga melaksanakan peran komunitas dan selalu memceahkan masalah social.

Semoga sekelumit kisah Rufaidah al-Anshariyah di atas memberikan banyak motivasi dan inspirasi kepada seluruh Perempuan di dunia, khususnya para Muslimah. Agar tidak pernah membatasi potensi yang dimilikinya hanya dalam ranah pekerjaan rumah saja, tetapi lebih dari itu. Karena Islam memberikan wadah kesempatan untuk mengasah potensi yang dimiliki oleh para Perempuan maupun laki-laki. Segala pekerjaan, jabatan apapun, selama semuanya mampu memberikan kemanfaatan untuk umat banyak, maka laki-laki dan Perempuan berhak untuk melaksanakannya.

Waallahu a’lam

Sumber kisah: buku Tiga Malam Bersama Penghuni Surga, Karya Fuad Abdurrahman




Kisah KH Hasyim Asy’ari dengan anjing milik Ch. O Vander Plas

 


Tahun 1947 masih menjadi tahun dimana bergejolaknya perundingan kekuasaan wilayah Indonesia dengan pihak kolonial. Berbagai upaya dilakukan Indonesia agar bisa menjadikannya negara yang utuh tanpa campur tangan dan kekuasaan belanda lagi, mengingat proklamasi kemerdekaan Indonesia sudah dikumandangkan Soekarno pada tahun 1945. Hal itulah yang diperjuangkan para tokoh-tokoh nasional dan Islam agar terus berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan secara sempurna, bahkan KH Hasyim Asy’ari mengumandangkan resolusi Jihadnya melawan penjajah dua bulan setelah pembacaan proklamasi kemerdekaan.

Pada tahun 1947 permintaan perundingan Belanda yang sudah disetujui Sutan Sahrir selaku perdana menteri Indonesia mendapat banyak kecaman dari berbagai pihak termasuk  dari gerakan Masyumi yang dipimpin oleh KH Hasyim Asy’ari. Menghadapi hal tersebut pihak Belanda meminta kepada Gubernur Jawa Timur  yang dikomandani Ch. O Vander Plas  untuk berkunjung ke Tebuireng meminta persetujuan langsung dari KH Hasyim Asy’ari.

Kedatangan orang penting Belanda tersebut dikawal ketat. Para santri bersiaga menghadapi kedatangan tamu kolonial, mereka menjaga kyai disejumlah pintu gerbang. Namun keadaan baik-baik saja dan tidak terjadi bentrokan, bahkan tamu belanda itu sangat santun selama berada di Tebuireng, mengingat mereka mempunyai tujuan untuk mengambil simpati KH Hasyim Asy’ari.

Setelah dirasa aman, tamu tersebut dipersilahkan masuk menghadap KH Hasyim Asy’ari. Untuk menghormati pesantren dan KH Hasyim Asy’ari, anjing yang dibawa bersama Ch. O Vander Plas tidak dibawa masuk dan ditinggalkan di luar gerbang pesantren, karena yang mereka tahu anjing adalah binatang yang tidak disukai oleh kaum Muslim apalagi dikalangan pesantren.

KH Hasyim Asy’ari tetap menghormati tamu Kolonial yang datang seperti tamu-tamu yang lain, bahkan disuguhinya buah-buahan segar hasil dari perkebunan di pesantrennya yang membuat tamu kolonial itu memuji Pesantren Tebuireng. “buah-buah ini sangat segar, saya kagum dengan kemandirian pesantren ini, saya sudah lama mendengarnya.”

KH Hasyim Asy’ari mengucapkan terimakasih dengan nadanya yang datar. Setelah sedikit berbasa-basi, kemudian tamu kolonial langsung mengutarakan tujuannya datang ke Tebuireng yang pada akhirnya pembicaraan Ch. O vander Plas dialihkan KH Hasyim Asy’ari pada Anjingnya yang terus menggonggong di luar gerbang. “Maaf tuan sepertinya anjingnya kepanasan dan kehausan berada di luar, silahkan dibawa masuk saja.”

Hal tersebut sedikit membuat kebingungan tamu kolonial, sekaligus kekaguman kepada kyai karismatik tersebut. “bukannya anjing adalah binatang yang dibenci kaum muslim?” tanya sang tamu.

“bukan dibenci, namun dalam batas-batas tertentu muslim memang harus menjauhinya agar tidak terkena najis. Tapi kita tetap berkewajiban memberlakukan makhluk Tuhan dengan sebaik-baiknya.”

Tak lama berselang sang tamu meminta kepada salah satu prajuritnya agar membawa anjing tersebut masuk ke pesantren, sebuah pemandangan yang cukup ganjil disaksikan oleh para santri. Setelahnya perbincangan dilanjutkan dengan kesimpulan akhir bahwa KH Hasyim Asy’ari tetap menolak perjanjian Linggarjati itu karena keputusan bersama dan tamu kolonial pulang dengan tangan hampa.

Dua santri senior yang sedari tadi menemani pertemuan tersebut mendapat jawaban dari KH Hasyim Asy’ari mengenai pemandangan ganjil diperbolehkannya Anjing masuk ke dalam pesantren.

“anakku kalau najis itu sekedar luar saja, seperti duduknya anjing di kursi, itu mudah dibersihkan dengan debu atau air sabun, tapi najisnya hati karena bersekongkol dengan sekutu demi kekuasaan, janganlah sampai kita turuti.”

Sumber : Buku Novel Biografi Sang penakluk Badai (KH Hasyim Asy’ari)


Jumat, 01 September 2023

Rindu paling dalam (Rindu ini untuk Bapak)

 



RINDU INI UNTUK BAPAK

Bagaimana cara mengulang waktu? Sebuah kalimat pertanyaan yang sampai kapanpun tidak akan pernah terjawab, karena faktanya pertanyaan itu adalah pertanyaan Imajinasi yang dilontarkan seseorang karena merindukan semua yang sudah tertinggal di masa lalunya. Dan orang  itu adalah aku, yah aku melontarkan pertanyaan imajinasi tersebut, berharap kehidupan ini tidak jauh berbeda dengan kehidupan negeri dongeng, ada lorong waktu yang bisa aku telusuri jalannya, lantas memperbaiki hari-hari bersamanya, bersama seorang laki-laki yang sampai kapanpun akan menjadi cinta pertama dalam hidupku.

Di siang yang di selimuti awan mendung saat  ini, aku ingin menceritakan tentang kerinduan yang tidak akan menemukan muaranya di dunia, karena kerinduan ini untuk seorang laki-laki yang langkah kakinya sudah tak lagi meninggalkan jejak di atas bumi, seorang laki-laki yang suara lembutnya sudah tak lagi terdengar, seorang laki-laki yang sorot teduh matanya tak lagi aku rasakan, seorang laki-laki yang meski raganya sudah tidak ada di dunia namun kenangannya akan selalu tinggal dalam relung hatiku yang paling dalam.

Bapak, laki-laki itu adalah bapak. Tepat pada bulan Safar enam tahun lalu bapak sakit keras dan akhirnya Tuhan membawanya dalam solat terakhirnya. Bapak tentu tidak akan pernah bisa membaca tulisan ini, tapi kalimat-kalimat kerinduan dalam tulisan ini aku ingin persembahkan untuk bapak, seorang laki-laki yang kuat, seorang laki-laki yang tegas, seorang laki-laki yang lembut dan seorang laki-laki yang mudah sekali menangis.

Seperti sepuluh tahun lalu, tepatnya tahun 2011 tahun dimana aku harus merantau ke luar kota untuk melakukan test masuk studi strata satu, hal yang sampai saat ini akan selalu membuatku pilu ketika mengingatnya.  karena sebelum keberangkatanku, Bapak memelukku sambil menangis, di tengah isak tangisnya bapak memintaku  belajar yang baik agar bisa lulus dan masuk kampus harapan bapak, aku hanya mengangguk takzim dengan tangisan yang tak kalah hebat darinya.

Bapak memang berharap besar agar aku bisa masuk di kampus khusus perempuan tersebut, alasannya tidak karena berharap tentang keduniaan, tapi lebih kepada bapak ingin aku sebagai anak perempuannya bisa memberikan sebuah mahkota di kehidupan selanjutnya dan aku tidak bisa menolaknya, aku seorang anak yang tidak bisa mengatakan B jika bapak sudah mengatakan A. Sejujurnya aku berat menerima harapan bapak yang terlalu besar padaku, tapi aku melakukan semampuku, sekuatku dan karena aku menyayangi bapak lebih dari siapapun.

Setelah aku lolos untuk masuk di kampus tersebut, aku sudah jarang sekali ada di rumah. Aku lebih banyak menghabiskan waktu di tanah rantau, bersama aktifitas-aktifitasku yang menurut versiku itu sangat padat. Aku hanya pulang ke rumah, ketika menjelang liburan saja, dan bapak selalu menyambut kepulanganku dengan suka cita, bahkan saat aku akan pergi lagi ke tanah rantau, bapak tak segan-segan mengantarku sampai di pintu bis kota sambil membantu membawakan barang-barang bawaanku.

Waktu berjalan memelesat seperti busur panah, empat tahun adalah waktu yang biasa dihabiskan para pelajar untuk menyelesaikan studi strata satunya, begitupun aku. Tepatnya tahun 2015 bulan Agustus aku di wisuda bersama ratusan mahasiswa lainnya, dan bapak menatap dengan bangga toga yang aku kenakan hari itu, bapak tersenyum tulus menyambutku di halaman gedung, tanpa pernah aku sadari bahwa bapak sakit, hari itu bapak sebenarnya sedang sakit. Tapi demi menghadiri prosesi wisudaku, bapak menahan rasa sakitnya dan  hanya raut bahagia yang aku saksikan di wajahnya hari itu.

Bahkan hari itu bapak mengulurkan tangannya menyodorkan sebuah kerudung segi empat bertuliskan Made in Turkey, untuk hadiah wisuda katanya. Meskipun aku tidak menyukai kerudung segi empat bermotif jaman dulu tersebut, aku tetap menerimanya dengan senyum sedikit terpaksa. Rupanya bapak menangkap gelagat dari wajahku, sampai kemudian beliau mengatakan bahwa jika tidak suka, tidak apa-apa untuk di simpan saja. sebuah kenangan yang selalu membuat aku menitikkan air mata saat mengingatnya kembali, karena aku menyesalkan diriku, kenapa aku tidak menunjukkan wajah bahagia saat menerima hadiah tersebut, atau minimal berpura-puralah bahagia saat menerimanya.

Tiga bulan setelah acara wisuda tersebut, bapak harus masuk rumah sakit. Aku masih begitu mengingat wajah kesakitan bapak saat itu, aku masih mengingat wajah bapak yang mencoba untuk tetap tersenyum di tengah rasa sakit yang dideritanya, aku masih begitu mengingat ketika bapak menahan sesak di dadanya setiap malam dan aku masih sangat mengingat saat fajar hari itu Tuhan membawa bapak dalam solatnya.

Hatiku benar-benar kosong  , aku sempat tidak tahu sedang merasakan apa ketika orang-orang sudah mulai ramai mengurusi bapak yang sudah tidak bergerak lagi, aku kebingungan dengan apa yang aku dengar,  kenapa orang-orang riuh sekali menangis diiringi lantunan ayat-ayat suci dibacakan tak pernah henti. hari itu disambut dengan hujan dan guntur yang bertalu-talu, sampai akhirnya aku tersadar bahwa hatiku benar-benar pilu. Aku tersadar bahwa laki-laki gagah itu sudah tidak ada, laki-laki gagah itu sudah pergi ke dimensi lain alam ini, meninggalkan kami di tengah-tengah hiruk pikuk padatnya aktifitas dunia.

Hari-hari setelah kepergian bapak adalah hari-hari penuh kerinduan, hari-hari penuh perjuangan terbentang, hari-hari penuh do’a panjang yang aku panjatkan untuk kehidupan bapak di alam sana agar dilimpahi ketenangan dan kedamaian. Aku ikhlas, aku ikhlas, aku meyakinkan hatiku berkali-kali, bahwa  kepergian bapak adalah yang terbaik, bahwa kepergian bapak akan memberikan banyak pelajaran, bahwa kepergian bapak adalah sebuah garis takdir yang harus aku terima dengan penuh keikhlasan dan kesabaran.

Tuhan pasti punya rencana yang tidak pernah Hamba pahami pada mulanya, namun akan selalu indah pada akhirnya.


NB: Tulisan ini dimuat dalam buku Antologi yang berjudul Rindu paling dalam, diterbitkan oleh Motivaksi Inspira pada tahun 2021.

 

 

Makhluk Terbatas

  Makhluk terbatas itu kamulah salah satunya. Kekuatanmu terbatas, daya pikirmu terbatas, semua yang ada dalam dirimu dan di luar dirimu ter...